Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Keras Kepala


__ADS_3

Tapi apa yang harus Salma jawab, dia bingung tapi jantungnya berdegub kencang seperti kuda yang tengah berlomba, jujur saja Salma juga sedikit menaruh hati pada Ghozi, tapi dia tak bisa begitu saja menerima pinangannya karena saat ini Salma sudah menerima perjodohan yng di ungkapkan oleh Ummi.


"Bagaimana Salma? apa kamu mau menerima pinanganku?" Ghozi kembali bertanya karena Salma tak kunjung menjawab, dia hanya terdiam membisu tanpa kata.


"Maaf, aku tidak bisa menjawabnya," ucap Salma, jujur saja fikirannya menolak keras tapi hati dan perasaannya menyayangkan jika dia langsung menolak pinangan Ghozi.


"Aku tidak akan memaksamu untuk menerima pinanganku sekarang, tapi aku berharap esok atau nanti kamu bisa menerima pinanganku ini Salma," ujar Ghozi membuat hati Salma semakin terasa tak menentu.


Salma tertunduk, tak lagi bisa berkata-kata, saat ini Salma benar-benar dilema dengan pinangan yang dia terimanya saat ini.


"Sudah jangan di fikirkan! aku tidak sedang memaksamu, aku hanya mengutarakan niat baikku, jika di terima syukur jika tidak aku yakin kita memang tidak di takdirkan untuk bersama, meski sebenarnya aku berharap kita bisa bersama," ujar Ghozi sambil tersenyum manis ke arah Salma dan begitu pula sebaliknya.


Tanpa mereka ketahui ada sepasang mata yang menatap lekat dengan telinga yang tajam melihat juga mendengar setiap kata yang terucap dari bibir Salma dan Ghozi, tersungging senyum sinis di bibirnya melihat adegan pinangan yang belum selesai di putuskan.


"Pekerjaanku sudah selesai, aku permisi dulu Ghozi." Pamit Salma melenggang pergi meninggalkan Ghozi yang masih setia duduk di kursi sambil menatap langit yang belum berubah warna.


"Iya," jawab Ghozi menoleh ke arah Salma sambil tersenyum manis.


"Apa perlu aku bawakan? sini aku bantu!" Ghozi hendak berdiri membantu Salma yang terlihat membawa setumpuk cucian kering yang sudah terlipat rapi.


"Tidak usah! cuciannya cuma sedikit, santai saja," tolak Salma yang berhasil mencegah gerakan Ghozi.


Salma berjalan masuk ke dalam rumah berniat memberikan baju yang telah rapi setelah dia lipat.

__ADS_1


"Kenapa tidak langsung di terima saja? Ghozi bukan laki-laki biasa! status dia sama sepertiku," suara Kafa sang pembuat masalah terdengar di balik pintu dan berhasil menghentikan langkah Salma.


"Menguping bukanlah contoh yang baik bagi seorang putera Kiyai pemilik pesantren, maaf apa yang Mas Kafa dengar sama sekali tak ada hubungannya dengan siapapun, dan saya berhak memilih siapa yang akan menjadi pendamping hidup saya," sahut Salma, entah mengapa mulutnya selalu bisa berkata pedas pada Kafa, tapi tudak pada yang lainnya.


"Wahh ternyata kamu punya sifat sombong dan keras kepala juga, aku kira kamu beneran lembut selembut yang terlihat," ujar Kafa menggelengkan kepala melihat sikap Salma.


"Terkadang kita harus tegas terhadap sesuatu yang menurut kita kurang baik, bukan maksud sombong, hanya bersikap sesuai tempat, maaf saya permisi, assalamualaikum." Pamit Salma yang sukses membuat Kafa semakin jengkel dan kurang suka dengan gadis yang baru saja mengobrol di sana.


Salma beranjak pergi memberikan baju pada Ummi kemudian kembali ke asrama. Fikirannya masih di penuhi dengan kata-kata Ghozi, Salma tak bisa begitu saja menghilangkan ingatan tentang ucapan Ghozi.


"Seandainya kamu lebih dulu bilang sebelum Ummi, bisa aku pastikan jika saat ini aku sudah menerimamu sebagai calon imamku," lirih Salma yang hanya mampu di dengar olehnya semdiri.


"Salma!" panggil Tari mengejutkan Salma yang sedang asyik melamun dan mengingat kembali kata-kata Ghozi.


"Apa sih?" sahut Salma tanpa merubah posisinya.


"Aku gak ngelamunin apa-apa, cuma lagi pengen diem aja Tari," jawab Salma yang saat ini masih merasa enggan untuk cerita pada siapapun termasuk Tari sang sahabat.


"Kalau gak mau cerita gak apa-apa, tapi setidaknya jangan doyan melamun! kalau kerasukan aku juga yang repot," ujar Tari yang kini memilih duduk di samping Salma.


"Aku gak bingung kalau kesurupan, kan ada kamu ngapain bingung orang ratunya lagi duduk di sampingku," sahut Salma sambil tertawa kecil.


"Sialan, di kira ratu setan apa aku, kamu gak tahu aja kalau aku ini gadis paling cantik cettar membahana sejagad raya," Tari berucap dengan penuh kepedeannya.

__ADS_1


"Iya, iya, aku mah ngikut aja," ujar Tari.


Keduanya larut dalam obrolan ringan yang terkadang menimbulkan tawa, hingga hari ini berlalu dengan penuh kebahagiaan meski ada bimbang yang datang tapi Salma tetap bersyukur atas anugerah yang telah dia terima.


~


Malam telah berlalu berganti mentari pagi yang siap menghangatkan setiap insan yang ada di bawahnya, pagi cerah memberi semangat baru bagi setiap orang.


"Ummi, aku pamit pulang dulu. Assalamualaikum," ucap Intan yang sudah siap untuk pergi dan kembali ke kota sesuai perintah Kafa.


"Apa kamu tidak mau sarapan dulu Intan?" tawar Ummi dengan ekspresi kasihan menatap Intan, Ummi tetap memiliki hati yang lembut dan tak pernah tega melihat orang lain berada di hadapannya dengan ekspresi wajah sedih penuh iba.


"Tidak usah Ummi, terima kasih, aku bisa makan di jalan nanti," Intan menolak dengan halus ajakan Ummi untuk sarapan bersama sebelum pulang, saat ini Intan hanya ingin segera pulang dan menenangkan diri juga mencari hiburan agar hatinya merasa jauh lebuh tenang.


"Baiklah, kalau begitu hati-hati di jalan!" pesan Ummi sebelum Intan pergi.


"Maaf," hanya satu kata yang terucap dari bibir Kafa, dia berdiri tak jauh dari mobil yang di kendarai oleh Intan.


"Maafmu tidak akan merubah hati dan menyembuhkan lukaku, ingatlah Kafa! jika kamu memutuskan hubungan ini secara sepihak maka akan ada akibat yang harus kamu tanggung!" Intan berkata dengan tegas dan penuh penekanan agar Kafa mengerti jika setiap perbuatan dan keputusan pasti akan ada sanksi dan hukuman yang harus dia bayar.


Kafa hanya bisa diam sambil menatap lekat ke arah Intan tanpa bisa menolak atau mendebatnya lagi, sedang Intan yang di tatap justru memberi tatapan mengintimidasi seolah memberi peringatan atas keputusan yang akan di ambil oleh Kafa.


"Hati-hati! jangan ngebut!" pesan Kafa sebelum menutup pintu mobil Intan.

__ADS_1


Tak ada sahutan dari Intan, dia seolah tak peduli dengan pesan Kafa.


'Aku tidak akan tinggal diam jika kamu mempermainkan perasaanku Kafa, aku akan balas semua rasa sakit atas apa yang kamu ucapkan.' Batin Intan sambil melajukan mobilnya membelah jalanan meninggalkan pesantren menuju kota dan kembali pulang dengan hati yang di penuhi luka juga dendam. Sedang Kafa masih setia berdiri memikirkan apa yang di ucapkan oleh Intan, Kafa sangat mengerti jika Intan bukan tipe orang yang hanya berucap dia termasuk gadis yang nekat.


__ADS_2