
Sesuai permintaan Ummi, Tari dan Salma memanggil Ghozi dan Kafa, mereka sudah seperti keluarga sendiri, tak ada yang di unggulan sekalipun status sosial mereka berbeda.
"Mas!" panggil Salma dengan suara lembut menenangkan jiwa.
"Iya," sahut Kafa sambil menoleh ke arah Salma yang berdiri tidak jauh dari tempatnya tidur.
"Fi panggil Ummi untuk sarapan," jawab Salma.
Kafa yang mendengar alasan Salma memanggil dirinya langsung berjalan mendekat ke arahnya dan mengikuti langkah Salma pergi ke dalam ruang makan di mana Ummi dan Mbok Sumik sedang menunggu kedatangan mereka.
Apa yang di lakukan Salma sama dengan apa yang di lakukan oleh Tari, dia juga ikut membangunkan Ghozi yang ternyata masih terlelap dalam tidurnya.
Tok ... tok ... tok ....
Suara ketukan pintu yang terdengar pelan sudah mengusik tidur nyenyak beserta mimpi indah yang sedang di alami oleh Ghozi.
"Ghozi! di panggil Ummi," ujar Tari yang masih berdiri di depan pintu sambil terus mengetuk pintu agar Ghozi mendengarnya.
"Eummmm," Ghozi menggeliat pelan mendengar suara keras namun tetap terdengar lembut penuh cinta dari luar kamar.
"Ghozi!" sekali lagi Tari memanggil Ghozi yang tak kunjung menyahut dari dalam kamar.
"Tunggu sebentar!" sahut Ghozi setelah memastikan jika yang memanggil dirinya itu Tari.
__ADS_1
"Di panggil Ummi!" ucap Tari yang masih betah berdiri di tempatnya tanpa ada niat masuk karena dia memang bukan muhrim dan dia tidak bisa pergi begitu saja sebelum memberitahukan apa tujuannya datang dan memanggil Ghozi.
"Hmm," secepat kilat Ghozi bangun dan berjalan mendekat ke arah pintu untuk membukanya dan melihat siapa yang memanggilnya.
"Ada apa?" Ghozi perlahan membuka pintu kamar dengan kesadaran yang belum sempurna.
"Ummi memanggilmu untuk sarapan bersama," jawab Tari dengan ekspresi terkejut dan satu detik kemudian dia menutup mata melihat Ghozi hanya memakai kaos tipis yang di padukan dengan celana pendek seperti boxer, semalam memang turun hujan tapi hawa yang terasa begitu panas sedan AC di kamar yang di tempati Ghozi sedang ada masalah tidak bisa berfungsi dengan baik, karena itulah Ghozi memutuskan untuk memakai pakaian yang biasanya hanya di gunakan untuk baju dalaman saja.
Bukannya menjawab Ghozi langsung menutup pintu dengan cepat dan cukup keras, apa yang di melakukannya membuat Tari terkejut, tapi dia masih tetap setia berdiri di depan pintu menunggu jawaban Ghozi yang tadi belum sempat menjawab ucapannya.
Ghozi yang baru sadar sesaat setelah membuka mata langsung berlari menuju kamar mandi yang tersedia di kamar itu mencuci muka dan menggosok giginya kemudian memakai baju kokoh yang semalam di gantung di dekat dia berdiri saat ini.
Setelah semua selesai dengan sangat cepat, hanya butuh waktu lima menit untuk menyelesaikan semuanya hingga selesai, dengan langkah santai Ghozi berjalan menuju pintu kamar membukanya dengan santai, Ghozi berfikir jika Tari pasti sudah pergi dari depan kamar tidurnya, tapi perkiraan Tari salah besar, Tari masih setia berdiri di depan pintu dengan tatapan wajah aneh melihat sikap Ghozi yang tadi berlari masuk tanpa kata.
"Tentu saja, bagaimana aku bisa pergi jika Kamu belum menjawab ucapanku? jika aku langsung pergi, apa yang harus aku katakan pada Ummi?" jawaban yang cukup membuat Ghozi semakin yakin jika Tari adalah gadis yang paling tepat untuk dirinya, kepolosan wajah yang terpancar saat ini sudah mewakili segalanya.
"Harusnya kamu pergi saja, Aku pasti akan ke ruang makan, perutku juga butuh di isi Tari," ucap Ghozi sambil menggelengkan kepala melihat sikap Tari yang terlihat begitu polis.
"Kenapa tidak bilang sejak tadi," keluh Tari yang merasa sia-sia sudah menunggu Cukup lama di depan pintu kamarnya.
"Siapa juga yang suruh repot-repot nunggu aku di depan pintu," ucap Ghozi seenaknya tanpa memikirkan perasaan Tari yang justru jengah mendengar ucapan Ghozi.
"Terarah dirimu saja," sahut Tari acuh, dia memilih pergi lebih dulu meninggalkan Ghozi yang kini malah tersenyum lucu melihat tingkah Tari.
__ADS_1
"Aku senang kita bisa berkumpul dan makan bersama seperti saat ini, meskipun Abah sedang sibuk dan tidak bisa menemani Ummi makan, setidaknya ada kalian yang membuat sarapan pagi Ummi terasa ramai penuh warna," ucap Ummi dengan senyum lebar yang terlihat jelas di wajahnya, kebahagiaan yang tidak bisa di ukur oleh apapun.
"Mbok juga senang Ummi, meski hanya seorang pembantu, tapi Mbok merasa sangat di hargai dan di sayangi berada di tengah-tengah keluarga ini, kalian memang keluarga paling baik yang pernah aku temui," sahut Mbok Sumik yang ikut merasakan rasa sayang satu sama lain.
"Mbok Sumik sudah kami anggap seperti saudara, bahkan orang tua kami saat kami jauh dari ibuku, yang bisa memberi nasihat saat kami tersesat, terima kasih sudah mau menerima Mbok yang tua ini," ujar Salma dengan ekspresi wajah penuh rasa syukur bercampur terima kasih yang tergambar jelas di wajahnya, bagaimanapun kehadiran mBok Sumik memang sangat membantu dan berarti.
"Sudah, acara puji-pujiannya nanti di lanjut, apa sekarang kita bisa makan? aku sudah lapar dan ingin makan," sela Kafa yang merasa pembicaraan para wanita di hadapannya tidak akan pernah selesai jika dirinya tidak segera menghentikannya.
"Astaghfirullah, jadi lupa kalau kita mau makan, ayo makan!" sahut Ummi saat dia sadar jika apa yang di katakan Kafa memang benar adanya.
'Untung saja semuanya cepat selesai, mereka berbicara tanpa menyadari dan tahu kalau cacing dalam perutku sudah demo ingin segera di isi,' batin Ghozi dengan ekspresi wajah penuh kelegaan yang tergambar jelas di wajahnya saat ini.
Semua anggota keluarga makan dengan penuh kenikmatan tanpa ada satu orangpun yang berbicara, karena sejatinya kenikmatan saat makan akan semakin terasa jika yang makan tidak mengobrol saat mengunyah makanannya.
Denting sendok dan garbu beradu dengan piring menandakan jika makanan yang mereka makan akan segera habis.
"Setelah ini kita mau ke mana?" tanya Ghozi yang merasa jika kedatangan Ummi dan Tari ke kota harus di isi dengan kegiatan yang bisa mengusir rasa jenuh keduanya jika harus berada di dalam rumah.
"Bagaimana kalau lihat aku latihan?" usul Salma.
Hari ini adalah hari terakhir Salma latihan, nanti malam dia harus menghadapi Intan yang entah memiliki kemampuan seprti apa, Salma hanya bisa berusaha sambil terus berdoa dalam hatinya agar dia bisa menghadapi Intan dan menang melawannya.
"Bukan ide yang buruk," sahut Ummi.
__ADS_1
"Benar Ummi, kita bisa lihat bagaimana kemampuan terpendam salma bisa muncul kembali?" ucapan Tari cukup membuat anggota keluarga yang lain bingung karena ucapannya.