
Kafa mengerutkan kening semakin bingung dengan gadis yang di maksud oleh Ummi, selama dia datang ke pesantren tak ada satu gadis pun yang terlihat seperti gadis yang di ceritakan oleh Ummi, atau jangan-jangan, fikiran Kafa mulai menuju ke Salma dan Tari.
'Apa mungkin gadis yang di maksud Ummi itu Salma dan Tari?' batin Kafa.
"Sudah jangan terlalu di fikirkan! nanti malam kamu pasti akan bertemu dengannya," ujar Ummi sambil menepuk pelan bahu Kafa yang terlihat diam mematung menatap lurus ke depan.
"Eh, iya, Ummi, tapi kenapa harus nanti malam? kenapa tidak sekarang saja?" Kafa terlihat begitu tidak sabar ingin segera bertemu dengan gadis yang saat ini telah membuatnya penasaran.
"Dia punya setumpuk pekerjaan saat ini dan Ummi tidak mau mengganggunya," jawab Ummi.
"Baiklah, Ummi," jawab Kafa.
"Di depan makam kedua orang tuanya, Ummi ingin kamu berjanji untuk terus melindungi dan menyayanginya sepenuh hati saat kamu sudah menerima perjodohan nanti." Pinta Ummi yang sukses membuat Kafa bimbang. Bagaimana dia bisa berjanji hal se intens itu jika dia sama sekali belum pernah bertemu dengan gadis yang Ummi maksud.
"Kenapa diam?" sambung Ummi yang begitu heran melihat Kafa hanya diam tak menanggapi ucapannya.
"Apa kamu tidak mengerti dengan apa yang Ummi katakan barusan? atau kamu merasa keberatan karenanya?" Ummi mengutarakan semua rasa penasaran yang ada dalam hatinya.
"Tidak Ummi, Kafa sangat mengerti, hanya saja saat ini Kafa sedang bingung, bagaimana Kafa bisa melindungi dan menyayanginya jika orangnya saja Kafa tidak tahu," jujur Kafa.
"Bukankah tadi Ummi sudah bilang padamu jika kamu menerima perjodohan yang sudah Ummi dan Abah rencanakan, jika kamu tidak setuju dan menolaknya maka janji itu otomatis akan gugur," jelas Ummi membuat Kafa mengerti harus melakukan apa.
"Baik, Ummi," jawab Kafa.
__ADS_1
Ummi yang mendengar jawaban Kafa merasa begitu senang dan bahagia, Kafa saat ini terlihat sepertiKafa yang dulu, penuh kelembutan, penurut dan menyenangkan hati.
'Andai kamu seperti ini terus, Nak, maka betapa bahagianya Ummi saat ini,' batin Ummi, saat ini hatinya begitu bahagia melihat Kafa tatapannya lekat ke arah Kafa tanpa berkedip.
"Jangan menatapku seperti itu, Ummi! jika Ummi teris menatapku, maka aku tak. akan lagi bisa berucap di depan makan kedua orang tua gadis misterius itu Ummi," ujar Kafa yang merasa semakin gugup, pasalnya ini pertama kalinya Kafa berbicara di depan sebuah makam kedua orang tua seorang gadis yang entah siapa gadisnya, tapi melihat Ummi yang begitu berharap dirinya melakukan apa yang di inginkannya membuat Kafa tak lagi bisa menolak.
"Perkenalkan namaku Kafa, kelak jika aku telah menikah denganputri kalian, maka aku akan berjanji menyayangi dan melindunginya sepenuh hati, aku akan menjaganya seperti kalian menjaganya juga dan akan menyayanginya seperti kalian menyayanginya juga," ujar Kafa lancar tanpa jeda ataupun keraguan, terlihat sebuah senyum bahagia bercampur lega di wajah Ummi yang sukses membuat Kafa juga bahagia.
"Alhamdulillah, semoga kami benar-benarberjodoh dengannya, karena Ummi akan sangat bahagia jika hal itu terjadi, Nak," ucap Ummi sambul mengusap lembut punggung Kafa yang ada di sampingnya. Setelah mengucapkan janji keduanya kini membaca tahlil dan mengirim do'a untuk kedua orang tua gadis yang akan di jodohkan dengan Kafa, kemudian keduanya pergi menemui Ghozi yang terlihat asyik memakan satu porsi mie ayam lengkap dengan kerupuk dan es degan yang berjajar di sampingnya.
"Ummi, sepertinya mie ayam dan es degannya enak, bagaimana kalau kita mampir sebentar dan makan di sana?" usul Kafa.
"Boleh, kebetulan Ummi lagi pengen makan es degan, ayo kita ke sana!" dengan penuh semangat Ummi berjalan menghampiri Ghozi yang terlihat asyik melahap makanan yang ada di meja di depannya.
"Maaf, aku masih belum selesai makan sampai kalian datang," ujar Ghozi, sejak tadi Ghozi makan dengan gerakan cepat karena ingin segera menghabiskannya karena Ghozi tak ingin Ummi dan Kafa sampai menunggunya makan saat selesai berdo'a dan ingin kembali ke pesantren.
"Kamu tenang saja! kami juga ingin makan bersamamu." Sahut Kafa.
"Benarkah?" tanya Ghozi yang terlihat tak percaya sengan ucapan Kafa, dia langsung bertanya kebenaran kata-kata Kafa.
"Benar, Ghozi, Ummi juga ingin makan di sini," kini Ummi yang menjawab pertanyaan Ghozi membuatnya merasa tenang dan lega, setelah mendengar jawaban Ummi Ghozi terlihat makan lebih tenang dan pelan.
"Kalau Ummi dan Kafa masih mau makan, aku akan menikmati mie ayam ini dengan tenang," ujar Ghpzi membuat Kafa dan Ummi tersenyum lucu melihat tingkah dan mendengar ucapan Ghozi.
__ADS_1
"Makanlah dengan tenang dan nikmati apa yang ada!" ujar Kafa sambil tersenyum.
Ghozi tersenyum senang melihat senyuman Kafa, dia terlihat seperti Kafa yang dulu sebelum Bella datang dan menghancurkan segalanya, ketiganya makan dengan tenang hingga seluruh makanan yang ada telah tandas tak tersisa.
"Kita mau ke mana lagi setelah ini, Ummi?" tanya Kafa mewakili Ghozi yang juga bingung mau membawa mobilnya ke arah mana.
"Kita ke mall saja! apa kamu mau menemani Ummi berbelanja?" jawab Ummi.
Kafa terlihat terkejut mendengar permintaan Ummi, ini pertama kalinya sang Ummi meminta dirinya menemaninya pergi ke sebuah mall, sebelumnya Ummi selalu pergi bersama salah satu santriwati dan tidak pernah meminta Kafa untuk menemani.
"Kalau kamu tidak mau kita langsung pulang saja." Sambung Ummi saat tak ada sahutan dari jok depan mobil yang di duduki oleh Kafa.
"Ghozi kita ke mall saja!" pinta Kafa.
"Alhamdulillah, sudah lama Ummi ingin pergi ke mall di temani kamu, Nak," ucap Ummi yang sukses membuat Kafa terenyuh, sudah cukup lama dia pergi hingga sang Ummi memiliki keinginan yang sangat sederhana itu tapi baru bisa terwujud sekarang.
"Kafa akan temani Ummi ke manapun Ummi pergi dan minta saat ini," ucap Kafa membuat sang Ummi begitu bahagia mendengarnya, saat ini Kafa terlihat seperti dirinya yang dulu.
'Semoga allah benar-benar membuka hatimu, Naķ, dan kamu kembali menjadi Kafa yang dulu, Kafa yang menjadi kebanggaan Ummi,' batin Ummi dengan air mata yang sudah meleleh, air mata yang keluar kali ini adalah air mata kebahagiaan bukan lagi air mata kesedihan yang selalu mengalir di setiap sujudnya dulu.
"Ummi mau beli apa?" tanya Kafa sesaat setelah sampai di mall.
"Ummi mau beli baju buat calon menantu Ummi dan buat kamu, agar nanti malam pas kamu menemuinya dia terlihat cantik dan anggun," jawab Ummi sambil tersenyum dengan mata berbinar memancarkan cahaya kebahagiaan.
__ADS_1