
Hidup itu memang seperti roda yang berputar, istilah itu bukan hanya sebuah kiasan, tapi kenyataan yang pasti pernah di rasakan oleh setiap orang, setiap manusia pasti memiliki fase sendiri-sendiri, kapan dia akan bahagia dan kapan dia akan bersusah hati, semuanya sudah tertulis sebelum manusia itu di ciptakan.
"Kamu benar Salma, aku aja sampai harus berhutang jika daganganku sepi dan perutku sudah meronta minta di isi," ucap Tari sambil membayangkan masa lalu yang sulit.
"Masa itu sudah berlalu, tidak perlu di ingat-ingat seperti itu!" ujar Salma.
"Kamu salah Salma, kita perlu mengingatnya agar kita tidak lupa diri dan selalu ingat jika kehidupan itu tak selamanya susah dan tak selamanya kaya, kita harus terus ingat agar kita pandai bersyukur," beberapa hari ini Tari sering berkata dengan kata-kata yang bijak, meski Salma merasa heran tapi dia tak bisa memungkiri jika Salma begitu bahagia karenanya.
Tanpa terasa keduanya telah sampai di asrama, setelah mengambil baju ganti dan peralatan mandi Salma dan Tari kembali berjalan menuju rumah Ummi untuk mandi dan membersihkan diri agar lebih segar dan wangi setelah memasak di dapur tadi.
"Aku mandi duluan ya Salma." Pinta Tari yang merasa sudah tidak tahan dengan badannya yang terasa lengket juga bau asap.
"Iya, kamu mandi duluan tidak apa-apa, asal jangan lama-lama! aku juga pengen cepat mandi." Jawab Salma yang di angguki oleh Tari.
Salma kini memilih duduk di kursi yang berada tidak jauh dari kamar mandi, biasanya kursi itu di gunakan Ummi untuk dia duduki saat masak dengan kapasitas banyak, dan Ummi merasa lelah karenanya.
"Kamu ngapain di situ?" suara intimidasi yang berasal dari tempat air minum mengejutkan Salma yang sedang duduk termenung sambil membawa gayung di tangan kanannya dan handuk di pundak kirinya.
"Maaf, Mas Kafa, saya sedang menunggu Tari selelsai mandi," jawab Salma dengan sopan.
Meski sebenarnya Salma kurang suka jika bertemu dengan Kafa yanga selalu mencari gara-gara dengannya, tapi dia tetap bersikap sopan mengingat jika Kafa adalah Putera Ummi dan Abah.
"Mandi? ngapain kamu mandi di sini?" sahut Kafa sambil mengerutkan dahi bingung mendengar jawaban Salma.
"Memangnya kenapa kalau mandi di sini Mas Kafa?" tanya Salma sok polos, dia bertanya seolah-olah dia tak mengerti apapun, meskipun sebenarnya Salma tahu jika saat ini Kafa pasti tengah bingung melihat dirinya dan Tari berada di kamar mandi rumahnya, kamar mandi yang di khususkan untuk keluarga Ummi, sebelumnya tak ada seorang santri pun yang di izinkan mandi di sana, karena semua santri sudah punya tempat sendiri untuk mandi.
"Apa kamu tidak mengerti jika kamar mandi yang sekarang di tempati temanmu itu, bukan kamar mandi umum atau kamar mandi yang bisa di gunakan oleh santri," jelas Kafa yang sukses membuat Salma tersenyum.
__ADS_1
Salma diam tanpa menjawab ataupun menanggapi ucapan Kafa, Salma terlihat acuh dan memalingkan wajah.
"Salma! apa kamu mendengar ucapanku?" suara Kafa sedikit meninggi saat melihat Salma acuh dan tak memperhatikannya.
"Maaf, Mas Kafa, saya mendengar ucapan Mas Kafa, dan saya juga tahu jika kamar mandi di depan saya ini bukan untuk santri, tapi Mas Kafa juga harus tahu, jika saya dan Tari tidak akan mandi di sini jika tidak mendapat izin dari Ummi," jawab Salma.
Mendengar penjelasan Salma membuat Kafa diam seribu bahasa, dia tak lagi bisa menjawab ataupun mendebat kata-kata Salma, mengingat jika sang Ummi memang menyayangi Salma dan Tari, meski dalam benak Kafa terdapat begitu banyak pertanyaan kenapa Ummi bisa sesayang itu pada Salma dan Tari, Kafa tak bisa menemukan jawaban karena baik Ummi ataupun yang lain tak mau memberitahukannya.
Kafa memilih pergi meninggalkan Salma kembali ke kamar dan mengurungkan niatnya yang tadi ingin minum, sungguh Salma bukanlah gadis lemah seperti yang terlihat, meski tutur katanya lembut dan sikapnya manis tapi mulutnya begitu tegas tak terbantahkan.
Melihat kepergian Kafa mengukir senyum di bibir Salma, dia begitu lega karena Kafa segera pergi tak meneruskan perdebatan dengannya.
'Syukurlah dia segera pergi, jika tidak aku akan semakin lelah meladeni perdebatan dengannya yang bisa aku pastikan tidak akan ada ujungnya,' batin Salma.
"Woii! buruan masuk! ngapain ngelamun di situ?" suara Tari membuyarkan lamunan Salma.
"Kalau aku sudah ada di luar, itu tandanya sudah, buruan masuk! keburu Ummi selesai mandi kamunya belum mandi-mandi," jawab Tari.
"Iya, iya," sahut Salma berjalan masuk ke dalam kamar mandi.
Suasana dapur masih sepi tak ada satu orang pun di sana hingga Salma selesai mandi dan kembali ke asrama untuk menaruh peralatan mandi dan sedikit memoles bedak juga memakai parfum.
"Tumben pakai parfum," celetuk Tari.
"Lagi pengen aja Tari, kan sayang kalau punya parfum gak di pakai, mubazdir," jawab Salma.
"Kamu bisa aja, ayo ke rumah Ummi! aku udah laper," ajak Tari.
__ADS_1
"Dasar kau tukang makan!" ledek Salma.
"Rezeki gak boleh di anggurin lama-lama Salma! kan lumayan makan gratis, kita gak peelu keluar uang tapi bisa makan enak," ujar Tari.
"Bersyukur Tari, kita bisa dapat rezeki seperti ini hampir setiap hari," Salma mencoba mengingatkan Tari.
"Alhamdulillah, rezeki anak soleha, kalau tiap hari kayak gini gaji kita bantuin Mbok Yem bisa di tabung, autho kaya kita," ujar Tari.
"Huss, mikirnya kok jauh banget, sudah jangan ngehayal mulu!" ucap Salma dan Tari hanya tersenyum menanggapi ucapan Salma.
Keduanya berjalan dengan langkah ringan seringan kapas menuju rumah Ummi untuk menemui dan makan bersama sesuai pesan Ummi sebelum mereka mandi tadi.
"Assalamualaikum," ucap Tari dan Salma hampir bersamaan.
"Waalaikum salam," sahut Ummi yang sekarang terlihat lebih cantuk dan segar.
"Kebetulan sekali kalian ada di sini, Tari tolong panggilkan Intan di kamar yang ada di sebelah kamar Ghozi sekalian Ghozi juga ya, bilang saja di tunggu Ummi di dapur!" titah Ummi yang langsung di angguki oleh Tari.
"Dan kamu Salma, tolong panggilkan Kafa untuk makan bersama, Ummi mau manggil Abah dulu." Ummi juga memberi perintah pada Salma.
"Iya, Ummi," jawab Salma yang langsung berjalan menuju kamar Kafa yang sebenarnya berada tidak jauh dari tempat dia berada.
Meski sebenarnya Salma malas untuk menemui Kafa, tapi dia tetap pergi karena Ummi yang memintanya.
Tok ... tok ... tok ....
"Mas Kafa!" panggil Salma dengan nada lembut, tak ada sahutan dari dalam kamar, suasana kamar masih hening tak ada yang menyahutinya.
__ADS_1
"Mas Kafa!!" suara Salma naik satu oktaf karena masih tak ada sahutan dari dalam.