
Salma terlihat begitu cantik dan anggun dwngan gamis berwarna cream sangat kontras dengan kulitnya yang kuning langsat khas orang indonesia, wajah Salma terlihat semakin berseri dan cantik, sungguh pahatan tuhan yang terlihat hampir sempurna.
"Masya allah, kamu cantik sekali Salma," seru Ummi menatap kagum ke arah Salma sang calon menantu.
"Alhamdulillah, Ummi," sahut Salma.
"Ukuran gamisnya sangat pas di badanmu, dan kamu terlihat begitu cocok dengan gamis itu, gak sia-sia Ummi muter-muter mall untuk cari gamis itu," puji Ummi penuh dengan kekaguman yang terpancar di wajahnya.
"Ummi, gamis ini pasti sangat mahal, apa boleh aku lepas? takut rusak Ummi," pamit Salma, tadi saat Salma ingin berganti baju dia sempat melihat badrol harga yang tertempel di gamis yang akan dia gunakan dan harganya mencapai ratusan ribu hampir menembus angka satu juta, fikiran Salma melayang mengingat harga baju itu lebih mahal dari gajinya menemani Mbok Bat memasak, dalam satu bulan Salma bisa mendapat uang sebesar sembilan ratus ribu dari Ummi sebagai upah telah membantu Mbok Bat, sedang baju yang dia gunakan saat ini berharga sembilan ratus lima puluh ribu, meski bedanya sedikit tapi tetap saja harga baju itu lebih mahal dari upah yang di dapat Salma dalam satu bulan.
"Baiklah, kamu boleh mengganti baju itu, tapi nanti malam kamu harus memakainya lagi!" jawab Ummi.
"Kenapa Salma harus memakai baju ini Ummi? dan sebenernya ini baju siapa?" Salma kembali bertanya karena merasa aneh dengan perintah yang di berikan sang Ummi.
"Ini baju kamu, Ummi sengaja membelikannya untukmu dan nanti malam Ummi ingin mengajakmu makan malam bersama di restauran." Jelas Ummi.
"Ini untuk aku Ummi?" Salma kembali bertanya dengan tatapan tak percaya, bagaimana bisa Ummi membelikan baju semahal ini untuk Salma, sungguh Salma merasa terkejut.
"Iya, Ummi sengaja membelikannya untukmu, jadi nanti malam ba'da maghrib kamu ke sini temui Ummi dan pakai baju ini!" Ummi meyakinkan Salma sambil memintanya untuk datang dengan gamis yang dia belikan.
"Baiklah, Ummi, nanti Salma akan datang ke sini dan memakai baju pemberian Ummi ini," jawab Salma menyanggupi permintaan Ummi.
"Sudah, kamu boleh melepas baju itu sekarang." Ujar Ummi yang langsung di turuti oleh Salma.
"Terima kasih, Ummi," ucap Salma sebelum akhirnya pergi meninggalkan ruang keluarga menuju kamar mandi untuk mengganti baju dan kembali ke asrama.
"Salma!" panggil Tari saat melihat Salma berjalan menuju asrama.
__ADS_1
"Apa, Tari?" sahut Salma mengalihkan pandangannya ke arah Tari yang sesang asyik melahap rujak bersama teman yang lain.
"Kamu dari mana saja? sini gabung bareng kita!" ucap salah satu teman kamar Salma dan Tari.
Salma langsung berjalan mendekat ke arah Tari dan yang lain tanpa menyahuti ucapan mereka.
"Kalian sedang makan apa?" tanya Salma.
"Ini Mbak Ratna di bawakan rujak sama Ibunya, alhasil kita rujak'an," jawab Tari.
"Ayo ikut makan!" ajak Ratna.
"Wahh ini rujak gedondong dan mangga muda kesukaanku," ujar Salma mulai ikut makan bersama dengan yang lain.
Salma dan Tari menikmati rujak yang di bawakan oleh Ibu Ratna, rasa manis dan pedas dari bumbu rujak menyatu dengan rasa asam dari mangga muda dan kedondong yang membuat rasanya semakin nikmat.
"Aku dari rumah Ummi tadi," jawab Salma.
"Ohh, aku kira dari mana, ternyata dari rumah calon mertua," ujar Tari.
"Ssstt jangan bahas itu!" larang Salma.
"Kenapa gak boleh di bahas?" tanya Tari bingung, jika orang lain yang ada di pisisi Salma, Tari bisa memastikan jika orang itu pasti sudah berkoar-koar dengan statusnya sebagai calon istri seorang Kafa, pemilik pesantren, tapi hal lain terjadi pada Salma, dia justru menutupi statusnya dengan alasan takut di bully atau malah di perlakukan istimewa yang pada akhirnya membuat Salma buta akan mana yang benar-benar tulus berteman atau malah berpura-pura baik di hadapannya.
"Kita bahas yang lain saja, bahas perjodohan itu bikin pusing kepala," jawab Salma yang enggan menjelaskan alasan kenapa Salma tak suka membahas perjodohannya dengan Kafa.
"Baiklah, kita bahas yang lain, tapi kita mau bahas apa?" Tari malah bertanya karena merasa bingung.
__ADS_1
"Entahlah, aku sendiri juga tak punya bahan untuk di bahas maupun di obrolkan, rasanya malas banget pengen tiduran aja," jujur Salma.
"Bentar lagi udah adzan asar, tanggung banget kalau mau tidur karena Mbak Ratna pasti sudah satang bangunin saat kita baru saja berpetualang di negeri mimpi." Ujar Tari.
"Kamu ini mimpi mulu, sekali-sekali bangun dan wujud'in mimpi itu!" sahut Salma.
"Mimpi yang mustahil untuk di wujudkan," sahut Tari dengan ekspresi wajah sedih yang kini tampak di wajahnya.
"Kenapa bisa mustahil Tari, ingat di dunia ini tak ada yang mustahil semua bisa di wujudkan jika kita mau berusaha," ujar Salma.
"Masalahnya mimpiku itu Ayah dan Ibuku kembali bersatu dan aku menjadi anak satu-satunya mereka, dan menjadi anak yang paling di sayang dan di manja karena menjadi anak tunggal," ujar Tari enteng.
"Astaghfirullah, kalau mimpinya seperti itu pasti mustahil Tari, kedua orang tuamu sudah punya keluarga masing-masing dan mereka juga punya anak lagi," sahut Salma sambil menggelengkan kepala.
"Itu impian terkonyol yang sialnya selalu datang hampir di setiap malam," ungkap Tari dengan ekspresi sedih yang tetap terlihat meski Salma tahu jika Tari sudah berusaha menutupinya dengan sebuah senyuman.
"Sudahlah, jangan terus di impikan! kita bukan gadis lemah yang akan menyerah dengan takdir yang kurang baik, kita gadis kuat yang akan tetap berdiri di atas kaki kita sendiri meski ada badai yang menerpa." Salma mencoba memberi kekuatan pada Tari agar dia tak lagi bersedih.
"Sudah cukup sedihnya, sekarang lebih baik kita mandi buat ngilangin segala kesialan yang ada dalam diri kita." Tari berdiri berjalan menuju kamar untuk mengambil handuk dan mulai mandi sesuai dengan apa yang telah di rencanakan.
Sore telah berlalu berganti malam yang mulai tiba, gemerlap lampu mulai menyinari setiap sudut kegelapan malam.
"Tari!" panggil Salma setelah sholat maghrib dan Salma juga sudah berganti pakaian.
"Wahhh gamis baru Salma? kapan kamu belinya? kok aku gak tahu," tanya Tari yang melihat Salma sudah cantik memakai gamis baru yang terlihat begitu anggun di pakai olehnya.
"Alhamdulillah, di kasih Ummi tadi," jawab Salma jujur.
__ADS_1