
"Mbok Bat," sahut Tari.
"Eh ada Mas Kafa juga, tumben amat ada di kantin, mau cari Salma ya?" sambung Tari dengan ekspresi ramah yanh di balas dengan wajah datar oleh Kafa.
"Kalian sedang apa di sini? bukankah jam kerja kalian sudah habis?" bukannya menjawab Kafa malah balik bertanya, hal ini sudah menjadi kebiasaan bahkan cenderung menjadi ciri khas dari seorang Kafa.
Salma dan Tari terdiam mendengar pertanyaan Kafa, mereka merasa sungkan jika harus jujur kalau Tari sedang lapar dan ingin minta makan di kantin, tapi Tari tetaplah Tari dia tidak akan pernah berbohong ataupun menutupi apa yang menurutnya benar dan tidak merugikan orang lain, maka Tari akan berkata jujur apa adanya.
"Aku sedang lapar makanya aku ke sini nyari Mbok Bat, mau makan." Jawab Tari enteng tanpa beban.
Kafa hanya menganggu sekilas kemudian kembali fokus melihat buku yang dia pegang.
"Mbok, aku lapar, apa di dapur masih ada makanan?" tanya Tari.
Mbok Bat yang sudah mendengarkan cerita tentang perjodohan antara Kafa dan Salma langsung memiliki ide di otaknya.
'Mumpung ada kesempatan untuk mendekatkan Mas Kafa dan Salma aku akan gunakan kesemaptan ini sebaik mungkin, lagi pula aku yakin jika mereka tidak akan melakukan hal aneh ataupun hal di luar akidah selama keduanya bersama dan belum resmi menjadi sepasang suami istri,' batin Mbok Bat yang tiba-tiba memiliki ide licik.
"Kebetulan sekali, Mbok juga sangat lapar sejak pagi belum sempat makan, bagaimana kalau kita makan bersama dan kamu Salma, Mbok monta tolong temenin Mas Kafa untuk mengecek persediaan makanan di gudang dapur dan melihat apa saja yang perlu di beli di dapur." Pinta Mbok Bat dengan wajah memelas yang terlihat jelas di wajahnya.
Salma hanya terdiam mendengar permintaan Mbok Bat yang menurutnya cukup menyusahkannya, mengingat Kafa yang selalu berkata dengan kata-kata tajam menusuk ke dalam hati dan sikap dingin juga seenaknya sendiri membuat Salma enggan untuk berada di dekatnya, meskipun kini status Kafa sebagai calon suaminya tapi tetap saja Salma masih enggan berlama-lama dekat dengannya.
"Salma!" Mbok Bat mencoba menyadarkan Salma yang saat ini terlihat melamun.
"Eh, i~iya Mbok, kenapa?" sahut Salma gugup, pasalnya tadi Salma sedang sibuk dengan fikirannya sendiri.
"Toling temani Mas Kafa ke gudang untuk mengecek persediaan barang dan ke dapur untuk melihat apa saja yang perlu di beli," Mbok Bat kembali menjelaskan permintaannya pada Salma.
"Loh, kenapa harus Salma Mbok? bukankah semua itu tugas Mbok Bat," sahut Salma yang terlihat begitu keberatan dengan permintaan yang di ajukan oleh Mbok Bat.
__ADS_1
"Jika tidak ada yang bisa aku bisa jalan sendiri," sela Kafa yang merasa sudah jenuh dengan perdebatan ketiga orang di hadapannya itu.
"Jangan Mas Kafa! biar Salma yang mengantar. Karena jika Mas Kafa sendirian maka Mbok gak akan tahu apa saja yang perlu di beli dan berapa dana yang harus Mbok minta," cegah Mbok Bat sebelum rencananya gagal.
"Baiklah, aku akan mengantar dan menemani Mas Kafa," sahut Salma yang tak mungkin menolak permintaan Mbok Bat.
"Alhamdulillah, terima kasih Salma," ujar Mbok Bat dengan senyum yang kinu merekah di bibirnya
"Iya, Mbok, sama-sama, kalian makanlah! kasihan Tari Mbok, sejak tadi mengeluh laper," ucap Salma sebelum akhirnya dia pergi mengikuti langkah Kafa yang berjalan lebih dulu menuju gudang penyimpanan bahan makanan.
Suasana canggung tiba-tiba terasa, tak ada satupun yang memulai pembicaraan, Kafa hanya diam menatap lurus ke depan begitu pula dengan Salma yang hanya memperhatikan jalan di hadapannya.
"Kamu tidak ikut makan?" Kafa memulai pembicaraan.
"Tidak, aku masih kenyang," jawab Salma singkat.
'Astaghfirullah, berilah hambamu ini kesabaran ekstra untuk menebalkan telinga agar bisa kebal dari mulut pedas calon suamiku ini,' batin Salma.
Salma langsung menggelengkan kepala mengingat dirinya menyebut Kafa sebagai calon suaminya, Salma menggeleng ngeri membayangkan dirinya akan hidup seatap selamanya bersama Kafa si mulut pedas dan mata tajam.
"Kamu kenapa?" tanya Kafa seraya menatap heran ke arah Salma yang baru saja menggelengkan kepala.
"Tidak apa-apa, aku hanya merasa leherku sedikit kaku jadi aku menggerakkannya," elak Salma yabg tak ingin menceritakan jika dirinya baru saja membayangkan hal mengerikan jika dia jadi menikah dengan Kafa.
Keduanya berjalan menuju gudang memeriksa stok beras, tepung, minyak, gula dan bahan pokok lainnya.
"Mas Kafa, sepertinya stok minyak di gudang ini tinggal satu liter, dan kita harus segera membelinya," ujar Salma.
"Aku yang akan membelinya bukan kita!" tegas Kafa.
__ADS_1
"Iya, kamu yang akan membelinya," sahut Salma seraya memutar bola mata malas.
'Astaga tu mulut makin hari makin pedes aja,' batin Salam, dia hanya bisa membatin tanpa ada niat membalas ucapan Kafa, bagi Salma dengan membatin saja sudah cukup membuat hatinya lega.
Kini Salma dan Kafa beralih pergi menuju dapur untuk memeriksa semua kebutuhan di dapur, seperti bumbu dan bahan pelengkap lain.
"Ini bumbu apa?" tanya Kafa sambil memegang satu bumbu dapur yang tinggal sedikit.
"Ini namanya kunci," jawab Salma.
"Lucu juga namanya, apa in perlu di tambah stoknya?" tanya Kafa sambil menunjukkan bumbu tanah yang bernama kunci di hadapan Salma.
"Bumbu ini jarang sekali di pakai, tapi kalau mau di tambah juga tidak apa-apa," jawab Salma.
Tanpa bertanya lagi, Kafa langsung menulis nama bumbu yang menurutnya lucu itu di dalam daftar bahan masakan yang peelu di tambahkan.
"Persediaan garam di dapur ini juga sudah menipis, Mas Kafa bisa menambahkannya di dalam daftar." Ujar Salma.
"Hm," sahut Kafa singkat.
Salma hanya bisa diam mendapat perlakuan yang sebenarnya kurang menyenangkan dari Kafa, putera Ummi yang satu ini memang sulit untuk di tebak, apa yang dia katakan kadang tak sejalan dengan apa yang dia kerjakan, hal itu sangat jauh berbeda dengan Ghpzi yang selalu lembut menenangkan hati.
"Jangan terlalu sering melamun! tidak baik untuk kesehatan," Kafa berucap tepat di depan wajah Salma, alhasil Salma langsung terkejut dan reflek mendorong wajah Kafa
"Astaghfirullah hal adzim," ujar Kafa dengan intonasi sedikit keras karena saking terkejutnya.
"Upps, maaf, aku gak sengaja," ujar Salma seraya menyatukan kedua telapak tangannya memberi isyarat jika dirinya meminta maaf dan menyesal atas apa yang baru saja dia lakukan
Mendapat serangan tiba-tiba membuat Kafa terkejut, karena Salma berani mendorong wajahnya, tapiKafa tak bisa marah karena apa yang di lakukan Salma juga karena salahnya, dia hanya bisa menajamkan mata melotot ke arah Salma sebahai tanda jika dia sedang marah atas apa yanh sudah Salma lakukan.
__ADS_1