
"Terima kasih karena Ummi sudah memberiku kasih sayang yang tak pernah aku duga sebenarnya, aku sangat menyayangimu Ummi," ujar Salma.
"Aku juga menyayangimu puteriku," balas Ummi yang juga menunjukkan kasih sayangnya pada Salma. Dan Kafa hanya tersenyum sambil menggeleng melihat tingkah kedua wanita yang kini menjadi wanita paling berharga dalam hidupnya, meskipun masih belum ada cinta di hatinya, tetap saja Salma sudah sah menjadi istrinya.
"Mas Kafa!" panggil Salma saat ini keduanya berada di dalam kamar setelah mengobrol cukup banyak dengan Ummi dan Abah.
"Hm," sahut Kafa singkat tanpa menoleh ke arah Salma, Kafa masih fokus menatap laptop yang menyala di hadapannya.
Salma merasa kurang suka dengan jawaban yang di berikan oleh Kafa, karena itulah dia memilih diam merebahkan diri di kasur tanpa melanjutkan niat awalnya yang ingin berbicara dengan Kafa.
Suasana berubah menjadi hening seperti kamar tak berpenghuni, dan Kafa mulai menyadari jika ada sesuatu yang aneh terjadi, Salma yang awalnya mengajak memanggilnya seolah dia ingin mengatakan sesuatu tiba-tiba terdiam tanpa kata.
"Ada apa Salma?" tanya Kafa, akhirnya dia memilih mengalah mematikan laptop di hadapannya yang tadinya menyala kini telah mati.
__ADS_1
Pertanyaan Kafa tak kunjung mendapat jawaban karena saat ini Salma sudah traveling ke alam mimpi.
"Kenapa Salma tidak menjawab pertanyaanku?" gumam Kafa berdiri berjalan mendekat ke arah Salma yang terlihat berbaring di kasurnya.
"Astaga, dia malah tidur," sambung Kafa dengan ekspresi heran melihat Salma yang tertidur begitu cepat, padahal dia baru saja memanggilnya.
Dengan langkah pelan Kafa meraih laptop di atas meja dan membawanya keluar dari kamar membiarkan Salma tidur dan menyelesaikan pekerjaan yang sempat ingin dia tunda. Kafa berjalan menuju halaman samping ndalem di mana tadi dia mengobrol bersama Ummi dan Abah juga Salma, suasana sepi yang kini terasa seolah mendukung Kafa agar secepat mungkin menyelesaikan pekerjaannya.
"Ghozi, ada apa?" sahut Kafa seraya menghentikan pekerjaannya.
"Aku mau minta izin ke Ummi untuk pulang beberapa hari ini," jawab Ghozi.
"Pulang? tumben kamu izin pulang, apa kamu pulang karena masih merasa sakit hati?" selidik Kafa kini dirinya merasa curiga dengan sikap Ghpzi yang secara gamblang pernah menyatakan perasaannya pada Salma.
__ADS_1
"Kenapa aku harus sakit hati?" bukannya menjawab Ghozi malah balik bertanya.
"Aku fikir kamu masih sakit hati karena pernikahanku," jawab Kafa jujur.
"Aku sudah ikhlas kok, tenang saja, lagi pula percuma juga aku sakit hati, karena kalau bukan jodoh di paksapun percuma gak bakal bisa," Ghpzi terdengar begitu legowo dengan apa yang sudah terjadi.
"Alhamdulillah jika kamu sadar," ujar Kafa yang terlihat lega setelah mendengar jawaban Ghozi.
"Aku selalu sadar Mas Kafa, tenang saja, aku gak bakal ngerebut Salma darimu, tapi selama dia bahagia, jika sebaliknya aku gak janji," Ghozi kembali mengingatkan Kafa agar dia bisa menerima semuanya dengan penuh keikhlasan.
"Aku tahu dan sudah terlihat di wajahmu. Pergilah! Ummi ada di kamarnya," sela Salma yang terlihat meninggalkan semua semua pesanan yang sebenarnya masih bisa di tinggal untuk pergi.
"Terima kasih," jawab Ghozi melangkah masuk ke dalam rumah dan alangkah terkejutnya jika Ummi masih menunggu Kafa dengan membawa sesuatu dan datang mendekat ke arahnya.
__ADS_1