
Detik jam terus berjalan meninggalkan setiap kejadian yang akan menjadi sebuah kenangan di kemudian hari.
"Assalamualaikum, Umik," ucap Ghozi sesaat setelah sampai di rumahnya.
"Waalaikum salam," sahut Umik dengan senyum yang mengembang di wajahnya melihat sng putera yang sudah berada di depan pintu.
"Tumben pulang, ada apa, Nak? apa semua baik-baik saja?" tanya Umik menatap aneh ke arah Ghozi yang kini berdiri di hadapan sang Umik.
"Ghozi rindu sama Umik, dan Ghozi juga ingin makan masakan Umik, karena itulah Ghozi pulang," jawab Ghozi.
"Kenapa tidak memberi kabar dulu sebelum pulang? Umik bisa masakin makanan kesukaanmu," ujar Umik setelah mendengar jawaban Ghozi.
"Tadi Ghozi tidak sempat memberi kabar Umik, Ghozi baru saja pulang dari stasiun." Jelas Ghozi.
"Ngapain kaku ke stasiun?" tanya Umik.
"Ghozi dapat tugas dari Ummi untuk jemput Abah," jelas Ghozi.
"Kamu pasti lelah, lebih baik sekarang kamu istirahat dulu biar Ummi buatkan minum," ujar Ghozi dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Kalau begitu Ghozi ke kamar dulu Ummi." Pamit Ghozi melenggang pergi meninggalkan Umik yang kini ikut melangkah pergi ke dapur berniat membuatkan Ghozi minum.
Ghozi melangkah menuju kamar dengan berbagai kata yang hampir aempurna, kata yang ingin dia ungkapkan pada sang Umik.
Tok ... tok ... tok ....
"Siapa?" sahut Ghozi dari dalam kamarnya.
"Ini Umik, Ghozi," sahut Umik yang berdiri tepat di depan pintu dengan satu nampan berisi es jeruk peras dan satu toples makanan ringan yang Umik sengaja bawa untuk Ghozi.
"Buka saja Umik! pintunya tidak di kunci," sahut Ghozi dengan posisi masih berbaring di atas kasur tanpa ada niat untuk beranjak pergi.
"Minum dan makanlah camilan ini! setelah itu Umik akan memasak untukmu," ujar Umik seraya memberikan satu nampan yang tadi dia bawa.
"Umik tidak perlu repot! Ghozi hanya sebentar di sini, besok Ghozi akan kembali ke pesantren," sahut Ghozi yang sebenarnya hanya berniat membicarakan apa yang dia rasakan pada sang Umik.
"Kenapa baliknya cepat Ghozi, bagaimana kalau lusa saja kamu kembali ke pesantren?" Umik malah memberi usulan pada Ghozi.
__ADS_1
"Aku punya banyak pekerjaan di pesantren Umik, saat ini di sana juga butuh banyak tenaga pengajar untuk mengawasi dan mengoreksi hasil ujian para santri," Ghozi memberitahukan alasannya yang tidak bisa berada di rumah terlalu lama.
"Kenapa Umik merasa kedatanganmu kali ini bukan hanya karena rindu pada Umik? atau kamu memang ingin mengatakan sesuatu Ghozi?" Umik mengungkapkan apa yang kini beliau rasakan.
"Ghozi memang ingin membicarakan sesuatu yang sangat penting Umik, tapi Ghozi tidak bisa menceritakannya sekarang, Ghozi ingin istirahat dulu Umik, nanti ba'da sholat isya' Ghozi akan menceritakan segalanya," Ghozi yanng mendengar ungkapan hati Umik memilih untuk menjelaskan kedatangannya saat ini.
"Umik akan dengarkan apapun yang ingin kamu ceritakan Ghozi, dan Umik harap apa yang akan kamu ceritakan nanti hal yang baik bukan sebaliknya," Umik mengatakan harapan yang terbesit dalam benaknya.
"Apa yang akan aku ceritakan nanti insya allah sesuatu yang baik Umik, tergantung apa Umik setuju atau tidak, yang jelas apa yang akan aku katakan tidak akan membuat Umik bersedih," Ghozi mencoba meyakinkan Umik jika apa yang akan dia katakan nanti bukanlah hal yang buruk.
"Syukurlah jika begitu, Umik akan menunggumu di ruang keluarga setelah sholat isya' nanti," pesan Umik sebelum akhirnya dia pergi meninggalkan kamar Umik.
"Baik, Umik, aku akan menemui Umik di ruang keluarga setelah sholat isya' nanti," sanggup Ghozi.
Umik melangkah pergi meninggalkan Ghozi yang masih setia berada di atas kasur sembari merebahkan diri menikmati nyamannya kamar yang sudah cukup lama dia tinggal.
Mencari ilmu di pesantren bukanlah hal yang mudah ada banyak hall yang harus di korbankan selain waktu bermain bersama teman yang berkurang, kita harus berani berkorban meninggalkan kenyamanan yang kita rasakan di rumah.
Siang terus berlalu berganti sore yang mulai di hiasi warna jingga, tanda matahari akan segera kembali ke peraduan.
Berbeda dengan Ummi yang di bantu santrinya untuk membereskan pekerjaannya, Umik justru memilih mempekerjakan seorang Asisten rumah tangga untuk membantunya membereskan semua pekerjaan rumah.
"Umik sedang menata makanan untuk kita makan sebentar lagi," jawab Umik seraya menata piring di samping nasi yang sudah tertata rapi di tengah meja bersama dengan lauk yang mengelilinginya.
"Kenapa tidak Bu Siti yang mengerjakannya Umik?" tanya Ghozi merasa heran dengan apa yang di lakukan oleh Umik.
"Umik ingin menyiapkan semuanya sendiri Ghozi, lagi pula hari ini adalah hari spesial untuk Umik, jadi Umik tidak ingin melewatkannya begitu saja," ujar Umik.
"Hari spesial bagaimana Umik? apa akan ada yang datang hari ini?" tanya Ghozi dengan wajah penuh rasa penasaran.
"Tidak, Nak, hari ini putera kesayangan Umik datang, karena itulah Umik merasa sangat bahagia karenanya," ujar Umik dengan wajah yang berbinar Umik mengatakan apa yang dia rasakan.
Mendengar ucapan Umik cukup membuat Ghozi terenyuh, sungguh hatinya terasa pilu mendengar penuturan Umik, Ghozi menjadi satu-satunya harta paling berharga yang Umik miliki setelah kematian sang Abi, karena hal inilah Ghozi berfikir ingin segera menikah dan pulang ke rumah menemani sang Umik mengelola pesantren dan restauran yang sudah bercabang banyak itu.
"Bersabarlah Umik! jika waktunya sudah tiba, kita akan berkumpul kembali di sini," Ghozi berusaha membuat hati Umik tenang.
"Umik selalu menunggu hari itu Ghozi, bayang-bayang hidup bersama dengan anak cucu juga menantu sangat sering hadir dalam benak Umik, dan semoga semua itu tidak hanya menjadi bayangan semu, tapi kenyataan yang akan terwujud suatu hari nanti," Umik terus saja mengatakan apa yang terlintas dalam benaknya, kesendirian dan rasa sepi yang selama ini selaku menemaninyaseolah hilang entah ke mana, Umik merasa sangat bahagia dengan kedatangan Ghozi yang sebenarnya tidak di rencanakan sebelumnya.
__ADS_1
"Semoga saja hari itu segera tiba Umik," sahut Ghozi melenggang pergi meninggalkan Umik di ruang makan.
"Bagaimana bisa terwujud kalau anaknya saja masih belum punya pilihan," gerutu Umik sambil melanjutkan pekerjaannya merapikan meja makan.
Cukup lama Umik menunggu Ghozi yang tadi berpamitan menjalankan sholat ashar di masjid.
"Kenapa lama sekali, Ghozi?" tanya Umik yang baru saja melihat Ghozi datang.
"Tadi ada beberapa ustad yang mengajakGhozi berbincang jadi agak lama, maaf kalau Umik nunggunya terlalu lama," jawab Ghozi.
"Mereka bicara apa Ghozi?" tanya Umik.
"Tidak ada, mereka hanya membicarakan sedikit kejadian yang ada di sini selama aku pergi, tidak terlalu penting, hanya saja Ghoziharus tetap mendengarkannya demi kebaikan pesantren ini juga," jelas Ghozi.
"Baguslah, sekarang lebih baik kita makan bersama." Ajak Umik pada Kafa.
"Baik, Umik," jawab Ghozi.
Umik Umik ingin mengambilkan beberapa makanan untuk Ghozi setelah itu dia mengambil makanan untuk dirinya sendiri. Suasana meja makan terasa begitu sepi, tak ada satu orangpun yang ada di sana, hanya Ghozi dan Umik yang berada di meja makan itu.
"Apa setiap hari Umik makan sendirian seperti ini?" tanya Ghozi membayangkan sang Umik yang makan sendiri di tempat sesunyi itu.
"Tidak juga, Umik jarang sekali masak Ghozi, hanya sesekali saat Umik merasa rindu masakan rumah baru Umik memasak bersama dengan Bu Siti, dan Umik juga makan bersama dia juga," jawab Umik.
"Tapi, Umik akan merasa sangat bahagia jika di meja makan ini ramai dengan suara tawa anak kecil yang akan membuat Umik merasa senang," sambung Umik, beliau berharap Kafa bisa segera berfikir untuk menikah setelah kembali besok, karena itulah. Umik terus saja mengatakan keinginannya untuk melihat Ghozi menikah dan berbahagia bersamanya.
Kali ini Ghozi tak menjawab atau pun berkomentar dengan apa yang Umik katakan, bagi Ghozi saat ini yang terpenting bagaimana caranya Umik setuju dan mau menerima Tari sebagai istrinya.
Makan malam yang biasa di lakukan sore hari sudah selesai, Ghozi kembali pergi menuju masjid untuk bercengkrama bersama para ustad dan beberapa warga sekitar untuk menunggu waktu sholat maghrib, setelah itu Ghozi memperhatikan cara para ustad mengajar di sore hari, sambil menunggu waktu sholat maghrib tiba.
Hari yang cukup sibuk telah di lewati oleh Ghozi, kini dia sudah bersiap untuk mengatakan segalanya pada Umik, niat baik yang tidak lagi bisa di tunda.
"Assalamualaikum," lirih Ghozi yang sangat yakin jika Umik sudah menunggunya di ruang keluarga, karena saat ini suasana rumah terasa begitu sepi seolah tak berpenghuni.
"Umik sudah lama menunggu Ghozi di sini?" tanya Ghozi saat melihat Umik duduk manis di atas kasur lantai yang cukup tepal, kasur yang sengaja Umik letakkan tepat di depanbtelevisi yang sedang menyala.
Umik yang sendirian memiliki segalanya, masih merasa sepi tanpa ada yang menemani.
__ADS_1