Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Meminta Restu Umik


__ADS_3

"Tidak terlalu lama, duduklah Nak!" sahut Umik yang langsung memberi perintah pada Ghozi untuk duduk di sampingnya.


"Apa Umik masih suka tidur di sini?" Ghozi masih merangkai kata yang tepat untuk di ceritakan pada Umik, karena itulah dia mengalihkan perhatian Umik terlebih dahulu sebelum dia bercerita dan meminta persetujuan ataupun restu sang Umik.


"Tentu saja, rasanya sangat sepi dan suntuk jika tidur di kamar," jawab Umik.


Sejak Abi meninggal Umik memang lebih suka tidur di atas kasur tebal yang sengaja di taruh di ruang keluarga, biasanya Umik akan di temani salah satu santrinya atau Bu Siti.


Yang Ghozi tahu Umik tidak bisa tidur sendirian, jadi harus ada yang menemaninya saat tidur Umik baru bisa tidur dengan tenang.


"Setiap hari Umik berharap kamu segera menikah dan kembali pulang, tinggal di sini menemani Umik, dan Umik sangat berharap kamu bisa segera punya anak agar bisa menemani Umik tidur di sini, tapi harapan itu tak akan pernah bisa terwujud jika Kamu tak kunjung menikah," Umik kembali mengatakan harapan yang sebenarnya sudah dia katakan beberapa kali sejak Ghozi baru datang tadi siang.


"Umik, aku ke sini ingin mengatakan jika ada seorang gadis yang menerobos masuk ke dalam hati Ghozi, tapi," Ghozi sejenak terdiam tidak meneruskan kalimatnya.


"Tapi kenapa, Nak? siapa gadis itu? katakan pada Umik!" pinta Umik berharap Ghozi segera menceritakan segalanya.


"Tapi gadis itu bukan putri seorang Kiyai Umik, dia gadis biasa dan dia juga seorang santri di pesantren Ummi, sama sepertiku," Ghozi lebih detail menceritakan siapa gadis yang dia cintai.


Umik yang mendengar penjelasan Ghozi langsung terdiam, bagaimana dia bisa menerima gadis biasa dari keluarga biasa saja, bisa bersanding dengan Ghozi yang notabennya putera seorang Kiyai, sama seperti Kafa.


"Dia sahabat sekaligus saudara satu-satunya yang Salma miliki Umik," sekali lagi Ghozi mengatakan siapa gadis yang sedang menguasai hati puteranya itu.


Umik masih saja diam meski Ghozi sudah mengatakan apa yang perlu Umik ketahui.


"Aku tidak akan melawan kehendak Umik, kalau Umik tidak setuju ataupun tidak menyukainya, maka aku tidak akan melanjutkan niatku dan aku akan melupakannya." Ghozi kembali berucap, tapi Umik berada di ambang keraguan.


"Katakan Umik! bagaimana pendapatmu?" Ghoziterus saja berucap, mencoba meminta pendapat dan jawaban dari sang Umik.


Umik yang sejak tadi diam mematung memilah baik dan buruknya akibat yang akan terjadi akhirnya memilih untuk diam sejenak memikirkannya.


"Apa kamu sudah mantap memilih dia sebagai calon istrimu Ghozi?" bukannya menjawab Umik malah balik bertanya, di sisi lain sebenarnya Umik ingin Ghozi mendapatkan putri seorang Kiyai yang sekelas dengan Ghozi, tapi Umik tidak bisa egois, jika Ghozi mencintai gadis dari keluarga biasa saja, maka dirinya tidak bisa melakukan apapun, karena yang akan menjalani kehidupan rumah tangga nanti bukan Umik tapi Ghozi dan gadis pilihannya itu.

__ADS_1


"Sudah cukup lama aku aku memikirkan apa yang aku rasakan ini Umik, awalnya aku tidak yakin dan ragu, apa lagi kalau mengingat dia bukan putri seorang Kiyai cukup membuat aku bingung Umik, aku juga khawatir kalau Umik tidak bisa menerimanya, karena itulah aku baru bicara pada Umik," jujur Ghozi, dia menceritakan segalanya pada sang Umik dengan harapan kalau dia mau menerima Tari.


"Sebenarnya Umik memang menginginkan putri seorang Kiyai menjadi istrimu, tapi Umik tidak bisa melawan takdir, jika takdirmu bukan putri seorang Kiyai maka Umik hanya perlu menerima apa yang sudah di takdirkan untukmu," sekali lagi Umik mengatakan apa yang sebenarnya ada dalam benaknya.


"Apa itu artinya Umik menerima dan merestui gadis pilihanku?" sekali lagi Ghozi mencoba meyakinkan dirinya atas jawaban yang Umik berikan.


"Iya, Umik menerimanya," jawab Umik.


"Alhamdulillah," ucap Ghozi merasa sangat bersyukur atas apa yang Umik katakan barusan.


Sungguh Ghozi tak pernah menyangka jika sang Umik mau merestui keinginannya, satu langkah sudah terlewati, kini waktunya Ghozi mengatakan niatnya pada Ummi di pesantren.


"Apa Umik boleh melihat siapa orangnya Ghozi?" tanya Umik dengan ekspresi wajah penasaran menatap ke arah Ghozi.


"Dia ada di pesantren Umik, kalau Umik ingin tahu besok aku akan ajak Umik bertemu dengannya," ujar Ghozi yang mendadak terlihat seperti orang bodoh jika mengenai cinta.


"Umik tidak perlu bertemu dengannya saat ini Ghozi, Umik hanya ingin tahu wajahnya seperti apa?" Umik menjelaskan apa yang dia maksud.


"Umik bisa melihatnya besok di pesantren, wajahnya tidak terlalu cantik tapi senyumnya sangat manis, meskipun tutur bahasanya tak selembut Salma, tapi hatinya sebening embun," jawaban yang sungguh membingungkan bagi Umik, dia hanya ingin tahu bagaimana wajah gadis pujaan hati Ghozi, tapi Ghozi malah menjawab hal yang tak bisa di mengerti oleh Umik.


"Bukan Umik, dulu Ghozi pernah punya perasaan suka pada Salma, istri Mas Kafa, tapi hal itu jauh sebelum keduanya di jodohkan, setelah keduanya menikah rasa cinta itu perlahan menipis dan menghilang seiring dengan berjalannya waktu, dan pada akhirnya Ghozi kembali merasakan cinta bersama Tari, yang tak lain sahabat sekaligus saudara Salma," Ghozi mencoba menhelaskan lebih detail perjalanan asmaranya dalam mencari cinta sejati yang akan menemaninya hingga akhir hayat.


"Syukurlah jika kamu sudah membuang rasa cinta yang memang tak seharusnya tumbuh dalam hatimu, Umik hanya ingin melihat wajah gadis yang sudah mengisi hatimu lewat foto sebelum Umik bertemu dengannya." Ujar Umik mencoba menjelaskan apa yang sebenarnya Umik inginkan.


"Kenapa Umik tidak bilang dari tadi, Ghozi fikir Umik ingin bertemu langsung dengan Tari dan melihat bagaimana dia yang sebenarnya," sahut Ghozi yang ikut mengatakan apa yang ada dalam fikirannya.


"Nanti Umik pasti akan menemuinya Ghozi, tapi untuk saat ini Umik hanya ingin melihatnya lewat foto saja," ujar Umik.


"Tunggu sebentar Umik!" pinta Ghozi seraya berjalan penuh semangat masuk ke dalam kamar.


Ghozi mengambil ponsel yang sejak tadi tergeletak tak berdaya di atas nakas yang ada di kamarnya, Ghozi memang jarang sekali membawa benda pipih itu jika dia hendak ke masjid, ataupun mengisi kelas yang kosong saat berada di pesantren miliknya, meski pesantren milik Ghozi tak sebesar pesantren milik Kafa, tapi pesantren milik Ghozi memiliki cukup banyak santri dan satu lagi yang penting, pedantren Ghozi tak menarik buaya apapun, kecuali untuk bayar listrik dan air, santri hanya perlu membayar iuran listrik dan air yang mereka pergunakan setiap hari, atau membayar iuran saat ada fasilitas umum yang rusak karena ulah santri itu sendiri, selain itu Ghozi dan keluarganyalah yang menanggung semua biaya termasuk gaji para guru.

__ADS_1


Sungguh Ghozi dan keluarganya benar-benar mengadibkan diri untuk mencerdaskan anak bangsa, biaya yang sangat ringan membuat wali murid yang kurang mampu merasa terbantu karenanya.


"Umik, ini fotonya." Ghozi berjalan mendekat dengan satu benda pipih yang menyala di tangannya, tanpa basa basi Ghozi langsung menunjukkan ponsel yang dia ambil pada Umik.


Di sana terlihat sebuah foto di mana ada seorang gadis yang tengah duduk di sebuah gubuk yang ada di tengah sawah, menatap lurus ke depan dengan tatapan sendu menyayat hati.


"Apa ini gadis yang biasanya membantu Neng Salma jika Ummi sedang ada acara Ghozi?" tanya Umik yang merasa sangat familiar dengan wajah dan postur tubuh yang ada di foto itu, meskipun fotonya di ambil dari sampin, tapi wajah Tari terlihat cukup jelas.


"Iya, Umik, dia Tari gadis yang dulu biasa membantu Ummi jika beliau ada acara," jawab Ghozi yang terlihat penuh semangat menceritakan siapa Tari yang sebenarnya.


"Kalau itu benar dia, Umik sudah pernah bertemu dan sesikit mengobrol dengannya," Umik kembali mengingat saat dia berkunjung ke pesantren Ghozi dan bertemu dengan Tari di sana.


"Menurut Umik bagaimana anaknya? apa pilihan Ghozi sudah tepat atau belum?" tanya Ghozi menatap Umik dengan penuh antusias.


"Anaknya memang sopan dan terlihat pekerja keras, tapi menikah bukan hanya soal itu Ghozi, kamu harus jadi imam yang baik untuk dia dan anak-anak mu nanti," Umik mulai memberi nasehat untuk Ghozi.


"Kalau soal itu aku tahu Umik, dan aku akan berusaha menjadi imam yang paling baik untuk anak dan isteriku," jawab Ghozi.


"Baguslah jika kamu sudah mengerti, sekarang bagaimana dengan orang tuanya? apa kamu tahu dia berasal dari mana dan di mana mereka tinggal?" kali ini Umik kembali bertanya tentang nasab sang gadis.


"Apa itu penting Umik?" bukannya menjawab Ghozi malah balik bertanya, pasalnya Ghozi tidak tahu dati mana Tari berasal dia hanya tahu tentang Salma dan dari mana dia berasal.


"Tentu saja, itu penting, kalau kamu gak tahu nasabnya, bagaimana kamu bisa menikahinya, nasab atau keturunan seorang gadis yang hendak kau nikahi itu penting, agar kamu bisa mengerti bagaimana dan seperti apa keluarga nya kamu juga akan lebih mudah menyesuaikan diri dengan mereka nantinya," Umik menjelaakan panjang lebar tentang pentingnya mengetahui nasab seorang gadis yang akan dia nikahi.


"Kalau begitu, biar Ghozi cari tahu Umik," jawab Ghozi yang cukup membuat Umik terkejut karenanya.


"Jangan bilang kamu belum tahu siapa keluarganya dan dari mana dia berasal," ujar Umik.


"Ghozi memang belum tahu tentang semua itu Umik, dan Ghozi akan segera mencaritahunya," ujar Ghozi mencoba meyakinkan sang Umik agar dia tidak membatalkan restu yang telah di beri.


"Kalau bagitu Umik tunggu kelengkapan informasi tentang gadis yang akan kamu nikahi itu," ucap Umik.

__ADS_1


"Baik, Umik," sanggup Ghozi.


"Kalau begitu Ghozi pergi dulu Umik, lebih baik Umik istirahat saja dulu." Pesan Ghozi melenggang peegi meninggalkan ruang keluarga menuju kamarnya dan mulai berfikir bagaimana cara dia mendapatkan informasi lengkap tentang Tari.


__ADS_2