
"Bagaimana? apa sekarang kamu susah siap?" tanya Kafa saat melihat Salma duduk dengan anteng dan terlihat sudah siap untuk memaki motor yang menjadi andalan Kafa sebelumnya.
"Siap," jawab Salma yang mulai mengelas sepeda motor yang kini dia kendarai.
"Satu, dua, go," lantang Kafa seraya mengibarkan bendera yang sejak tadi dia pegang.
Salma mulai memacu motor miliknya, melesat kencang melewati setiap jalan yang ada, Salma terlihat sangat lihai mengendarai dan dia juga terlihat begitu santai meski mengendarai motor dengan kecepatan di atas rata-rata.
"Aku harap kamu bisa memenangkan pertandingannya nanti," lirih Kafa menatap lekat ke arah Salma yang melajukan motornya hingga tak terlihat lagi.
Greng ... greng ... greng ....
Suara motor Salma yang baru saja menyelesaikan putaran pertamanya terdengar begitu memekakan telinga.
"Apa sekarang kamu sudah siap untuk mengikuti pertandingan?" tanya Kafa saat Salma baru saja turun dari atas sepeda.
"Tentu saja, aku sudah siap, menurut kamu bagaimana skillku?" Salma bertanya setelah meyakinkan Kafa dan dirinya jika dia akan menang melawan Intan.
"Semakin baik, kamu tenang saja, Intan sudah lama tidak pernah latihan ataupun bertanding, dan aku yakin dengan penuh keyakinan yang aku miliki, dia pasti tidak akan tahu jika kamu sebenarnya bisa mengendarai sepeda balap ini, karena itulah aku bisa pastikan jika Intan tidak akan latihan karena menganggapmu remeh," Kafa menjelaskan semua yang dia rasakan dan yang dia tahu tentang Intan.
Salma tersenyum senang mendengar apa yang di katakan oleh Kafa, sungguh jika apa yang di katakan Kafa itu benar, maka Salma akan semakin mudah mengalahkan Intan nantinya.
"Semoga saja aku benar-benar bisa mengalahkan Mas," sahut Salma mengungkapkan apa yang dia rasakan.
"Aku pasti akan mendukungmu, terima kasih sudah mau berjuang dan maaf," ujar Kafa sambil mengusap lembut punggung Salma yang kini berada di sampingnya.
"Maaf kenapa, Mas?" tanya Salma sambil mengerutkan dahi bingung dengan kata maaf yang di ucapkan oleh Kafa.
"Maaf, karena kesalahan kg di masa lalu membuatmu repot dan ikut berjuang menyingkirkan buah dari apa yang ku tanam dulu," Kafa menjelaskan maksud dari kata maaf yang dia ucapkan, sungguh jika nanti terjadi sesuatu yang tidak di inginkan Kafa pasti tidak akan pernah bisa memaafkan dirinya sendiri.
__ADS_1
"Sudahlah Mas, jangan menyalahkan apa yang telah terjadi, karena semua yang terjadi merupakan takdir yang sudah tertulis di lauhul mahfud jauh sebelum kita di lahirkan," sahut Salma sambil mengusap lembut punggung Kafa mencoba menyalurkan rasa sayang yang dia miliki, Salma tidak ingin Kafa menyalahkan dirinya atas apa yang telah terjadi saat ini, bagi Salma semua yang terjadi merupakan takdir yang memang harus dia jalani dengan penuh rasa syukur.
"Sayang," lirih Kafa.
Mode manja dan romantis Kafa mulai on, jika panggilan Sayang terdengar menyapa telinga, maka bisa di pastikan jika Kafa sedang menginginkan sesuatu dari Salma.
"Apa?" sahut Salma singkat.
"Bagaimana kalau setelah ini kita jalan-jalan?" usul Kafa yang tiba-tiba ingin menghabiskan hari ini bersama Salma.
"Boleh juga, tapi kita mau ke mana?" tanya Salma sambil menatap penuh cinta ke arah Kafa, laki-laki yang dulu menatapnya dengan tajam penuh cinta.
"Di gor ada acara pasar rakyat, bagaimana kalau kita ke sana?" tawar Kafa pada Salma yang masih anteng duduk di atas motor balap milik Kafa.
"Boleh, ayo berangkat Mas!" ajak Kafa yang langsung berjalan mendekat ke arah Salma kemudian langsung naik ke atas motor bergabung dengan Salma dan mulai mengambil alih kemudi.
Keduanya berada di atas motor yang kini melaju dengan kecepatan sedang, Menikmati indahnya pemandangan di sore hari, terpaan angin dan pelukan hangat yang di berikan oleh Salma dari jok bagian belakang semakin memperlihatkan kemesraan yang haqiqi.
"Wahh ramai sekali," kagum Salma saat melihat begitu banyaknya orang yang datang.
Bukan hanya penjual makanan yang berjajar, di dalamnya juga ada pertunjukan musik angklung, hiburan yang sungguh menarik dan sayang untuk di lewatkan.
"Hari ini adalah hari pertama pasar rakyat ini di buka, makanya seramai ini," tutur Kafa yang melihat Salma menatap penuh binar kebahagiaan ke arah kerumunan orang yang sedang menikmati acaranya.
"Pantas saja ramai, kira-kira sampai berapa hari pasar rakyat ini berlangsung, Mas?" Salma kembali bertanya.
"Katanya sih seminggu," jawab Kafa tanpa menoleh ke arah Salma, dia malah sibuk memperhatikan sekeliling pasar malam dan mencari makanan yang bisa dia beli.
"Bagaimana kalau kita beli itu?" tawar Kafa seraya menunjuk makanan ringan yang mengeluarkan asap.
__ADS_1
"Kok bisa gitu ya Mas?" tanya Salma merasa aneh dengan apa yang di tunjukkan oleh Kafa.
"Makanan zaman sekarang memang aneh Sayang, apa kamu mau coba?" tanya Kafa saat dia melihat ekspresi Salma yang terlihat tertarik dengan makanan yang dia tunjuk tadi.
"Boleh juga," jawab Salma dengan senyum yang terus mengembang di wajahnya.
Kafa membelikan makanan yang menurutnya unik dan belum pernah dia temui sebelumnya.
"Enak?" tanya Kafa dengan wajah penuh rasa penasaran Kafa bertanya.
"Hmm lumayan juga, rasanya seperti makanan ringan lainnya hanya saja ini berasap," jawab Salma.
"Yang penting rasanya Enak, Sayang, " ujar Kafa.
"Mas lihatlah! indah bukan?" tanya Salma sambil menunjuk ke arah kembang api yang tengah menyala dengan warna yang indah.
"Indah, seperti kamu," sahut Kafa sambil menatap lekat ke arah Salma yang terlihat semakin cantik di malam hari.
"Mas Kafa selalu saja menggombal di setiap kesempatan," ujar Salma merasa menjadi gadis yang paling cantik di dunia.
"Aku gombal tidak masalah yang penting kamu suka bukan?" sahut Kafa sambil menaik turunkan alhanya menggoda Salma yang kini justru tersipu malu mendengar ucapan Kafa.
Semakin malam semakin ramai, ada banyak pemuda pemudi yang datang untuk menongkrong ada juga beberapa keluarga datang dan sedang menemani putra puteri mereka menaiki wahana yang ada di sana.
"Apa kamu mau naik itu?" tawar Kafa menunjuk ke arah gonitri yang tengah berputar.
"Tidak, aku takut ketinggian Mas," tolak Salma yang memang memiliki fobia terhadap ketinggian.
Apa yang di katakan Salma semakin menantang Kafa yang ingin Salma ikut naik bersamanya.
__ADS_1
'Jika aku berhasil, maka aku bisa memanfaatkan rasa takut Salma, dia akan terus memelukku jika di atas nanti,' batin Kafa yang mulai merencanakan hal licik untuk di jalankan.
"Jangan takut! ada aku di sampingmu," ujar Kafa seraya meraih jemari Salma. mengajaknya mendekat ke arah gonitri yang tengah berputar.