Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Niat Baik Ghozi


__ADS_3

"Baguslah, jika memang seperti itu, aku tidak perlu khawatir lagi padamu;" ujar Kafa dengan ekspresi wajah biasa saja,


"aku bukan gadis pembohong Mas Kafa," jawab Salma.


"aku tahu itu, yasudah apa sekarang kamu masih mau belanja atau mau pulang? "Tanya kafa.


"Aku masih ingin membeli beberapa barang apa Mas kalau kamu izinkanku untuk tetap berbelanja atau mengajakku kembali pulang?" Salma menjawab pertanyaan Kafa dengan sebuah pertanyaan.


"Lanjutkan saja! Aku akan menemanimu berbelanja!" jawab Kafa.


"Ide yang bagus, kalau begitu Mas Kafa saja yang membawa trolinya," ujar sama saya mendekatkan troli ke arah Kafa agar dia bisa mendorong troli dan Salma berjalan di sampingnya.


Salma benar-benar mengambil apapun yang dia inginkan, hingga satu troli yang di bawa sudah sangat penuh dan berbagai makanan dan buah-buahan, Kafa yang mengerti dengan sikap salma sebelumnya merasa sangat heran dengan apa yang dilakukan istrinya itu, karena tidak biasanya Salma membeli begitu banyak barang apalagi hampir semua barang yang dia beli berupa makanan dan minuman.


"Kamu yakin mau menghabiskan semuanya sendiri?" tanya Kafa.


"Tentu saja, siapa lagi yang mau menghabiskannya jika bukan aku tapi aku akan membagikan sebagian makanan ini jika tidak habis pada teman-temanku di pesantren," jelas Salma.


"Terserah padamu saja, ayo cepat ke kasir! biar aku membayarnya, setelah itu kita bisa kembali pulang." ujar Kafa yang di balas sebuah senyuman oleh Salma.


Jika Salma dan kakak sedang sibuk membeli beberapa makanan yang diinginkan kau memakai berbeda dengan apa yang dilakukan oleh Ghozi yang gini justru sedang menata hati dan memberanikan diri untuk mengatakan niat baiknya pada sang umik.


"Ummi, apa aku bisa bicara?" tanya kak Ghozi sesaat setelah dia sampai di ruang keluarga.


"Ghozi, duduklah! "Sahut umi seraya menepuk sofa yang tak jauh dari tempatnya duduk.

__ADS_1


Ghozi yang mendapat isyarat agar mendekat ke arah sang Ummi kini berjalan dengan langkah pasti dan keberanian yang sudah terkumpul, Ghozi memiliki duduk di bawah tepat di hadapan Ummi yang berada tak jauh darinya.


"Ada masalah apa, Ghozi?" Sahut apa yang baru saja datang dari dalam dapur dengan secangkir kopi yang ada di tangannya.


"Begini Abah, saya ingin meminta bantuan Abah dan Ummi untuk membicarakan masalah saya kepada umik," jawab Ghozi.


"Memangnya ada masalah apa, Ghozi?" Allah terlihat tertarik dengan apa yang akan dibicarakan oleh Ghozi.


"Tidak ada masalah Abah, hanya saja aku ingin meminang seorang gadis, dan aku butuh bantuan Abah dan Ummi untuk mengatakannya pada Umikku," Ghozi menceritakan maksud dirinya datang ke ndalen dan menemui keduanya.


"Kamu ingin meminang siapa, Nak?" Abah yang memang tidak pernah tahu siapa yang ingin di pinang oleh Ghozi langsung bertanya tanpa menundanya lagi, sedang Ummi yang sudah tahu hanya diam, dia sengaja diam tak ikut berucap agar Ghozi menceritakan sendiri perasaannya pada Tari, semua itu di lakukan sebagai salah satu bukti jika Ghozi tidak main-main dengan perasaan yang dia miliki dan niat tulus yang pernah dia ucapkan.


"Tari, Abah, aku ingin meminang dia tapi aku ragu Abah, aku takut jika umikku tidak bisa menerima Tari apa adanya karena dia hanya orang biasa dengan keluarga yang terpecah belah karena sudah bercerai," Ghozi menceritakan dengan jelas siapa yang ingin dia pinang dan alasan dirinya meminta bantuan umi dan Abah sama seperti dulu waktu Ghozi menceritakan semuanya pada Ummi.


Abah yang mendengar pengakuan dan cerita Ghozi sontak saja langsung terkejut dia terdiam menatap lurus ke arah Ghozi dengan wajah penuh rasa heran.


Abah tetap terdiam setelah mendengar penjelasan dari umi, tapi sedetik kemudian sebuah senyuman muncul dari wajahnya yang memiliki arti jika Abah juga setuju dengan apa yang diungkapkan oleh Ghozi.


"Bagaimana, Abah?" Melihat senyuman terbit dari wajah Abah membuat Ghozi mengerti jika saat ini Abah juga setuju dengan apa yang diinginkannya, karena itu Ghozi langsung bertanya kembali kepada Abah, agar dia bisa tenang dan bisa segera pergi pulang ke rumah dan mengatakan semuanya pada sang umik.


"Abah setuju dengan apa yang kamu katakan barusan, kapan kita bisa pergi ke rumahmu?" Sahutbah semangat yang terlihat jelas di wajahnya.


Senyuman Abah juga menular pada Ummi dan Ghozi yang ikut tersenyum karena hanya dengan sebuah senyuman yang terbit di wajah Abah, Ghozi mengerti jika Abah sudah setuju dan mendukung niatnya untuk segera meminang Tari.


"Bagaimana kalau kita pergi sekarang?" usul Ummi.

__ADS_1


"Bukankah niat baik harus disutrakan tidak boleh ditunda?"sambung Ummi saat melihat apa dan apa sih terdiam seolah terkejut dengan apa yang dikatakan Ummi barusan.


"Ummi benar, apa kamu sudah siap untuk mengatakannya sekarang Ghozi?" sahut Abah seolah mendukung apa yang dikatakan oleh Ummi.


"Siap Abah, jika memang menurut Abah dan Ummi baik, maka aku setuju, semua aku pasrahkan kepada Abah dan Ummi aku hanya ikut keputusan kalian," jawab Ghozi.


"Sekarang tunggu apa lagi? ayo berangkat!" ujar Ummi yang heran dengan Ghozi dan Abah yang hanya diam menatap lurus ke depan tanpa reaksi apapun.


Mendengar ajakan umi membuat apa berdiri berjalan mengikuti langkah umi keluar dari rumah menuju mobil yang terparkir di halaman.


"Biar Ghozi panaskan dulu mobilnya," ujar Ghozi.


"Kalau begitu Ummi masuk dulu. Ada sesuatu yang tertinggal." Sahut Ummi seraya berjalan kembali masuk ke dalam rumah untuk mengambil sesuatu yang bisa dia bawa sebagai buah tangan untuk Umik Ghozi.


"Abah tunggu kamu di Tara samping rumah titik jika semua sudah siap panggil Abah kembali," lihat semua orang sibuk dengan urusan masing-masing dan tidak jadi berangkat Abah memilih pergi ke halaman samping untuk bersantai sambil menunggu semuanya siap.


Dengan langkah cepat penuh semangat Ghozi berjalan mendekat ke arah mobil dan mulai memanaskan mesin mobilnya. Bersamaan dengan itu Kafa dan Salma datang dengan mobil lain dan mematikannya tepat di samping mobil yang sedang dipanasi oleh Ghozi.


"Kamu mau pergi ke mana?" Tanya Kafa saat melihat Ghozi sedang memanasi mesin mobil.


"Aku akan pulang Mas Kafa," jawab Ghozi.


"Tumben kamu pulang tiba-tiba ada apa tanda tanya apa ada masalah?" Sahut Kafa merasa heran dengan apa yang dilakukan oleh Ghozi, karena biasanya Ghozi akan pulang jika ada sesuatu yang darurat atau kepentingan mendadak.


"Aku akan pulang bersama umi dan abah, aku ingin membicarakan niatku untuk meminang pari pada umik, karena itulah aku pulang hari ini," jelas Ghozi yang cukup membuat Kafa terkejut, terlebih lagi dengan Salma yang baru tahu jika Ghozi ingin meminang Tari sang sahabat sekaligus saudaranya.

__ADS_1


"Apa kamu serius, Ghozi?" sahut Salma dengan ekspresi wajah terkejut yang terlihat jelas di wajahnya.


__ADS_2