Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Permintaan Ummi


__ADS_3

Setelah mendengar penjelasan Ummi, Salma langsung berjalan mendekat dan duduk tepat di samping Ummi.


"Nak, aku sudah menganggapmu seperti putriku sendiri, apa kamu juga seperti itu pada Ummi?" tanya Ummi yang masih berfikir keras dengan apa yang akan dia ucapkan.


"Setelah Ibuku tiada, aku sebatang kara Ummi, hanya Ummi dan Abah yang aku punya saat ini, meski kalian bukan orang tua kandungku ataupun orang yang merawatku, tapi saat ini aku sudah menganggsp kalian orang tuaku, pengganti Ibuku yang telah tiada." Salma mengatakan apa yang dia rasa dan fikirkan.


"Alhamdulillah, jika kamu juga menganggap Ummi sebagai pengganti orang tuamu," Ummi mengusap lembut kepala Salma yang terbungkus rapi oleh kerudung.


"Salma," lirih Ummi sambil memegang kedua tangan Salma dengan tatapan wajah penuh harap Ummi memandang Salma.


"Iya, Ummi, ada apa?" melihat ekspresi wajah penuh harap milik Ummi membuat jiwa kepo yang dulu terpendam kini mulai muncul ke permukaan.


"Jika Ummi meminta tolong padamu apa kamu mau menolong Ummi?" tanya Ummi dengan penuh kehati-hatian.


"Tentu saja aku mau menolong Ummi, selagi aku mampu untuk melakukannya," jawab Salma.


Ummi memang senang mendengar jawaban Salma yang mau menolongnya, tapi kata-kata selagi dia mampu menimbulkan rasa khawatir slam diri Ummi.


"Jika kamu tidak mampu, apa kamu tidak akan melakuknnya?" tanya Ummi lagi, di wajahnya tersirat sebuah harapan yang semakin jelas tergambar.


"Ummi, sesulit apapun pertolongan yang Ummi pinta, aku akan tetap berusaha untuk melakukannya," ujar Salma.


"Jika Ummi memintamu menikah dengan putera Ummi bagaimana? apa kamu mau?" akhirnya Ummi bisa mengatakan apa yang sejak tadi ingin dia katakan.

__ADS_1


"Menikah? maksud Ummi bagaimana? apa hubungannya minta tolong sama menikah dengan Putera Ummi?" tanya Salma yang semakin bingung dengan apa yang di tanyakan oleh Ummi.


"Putera Ummi itu pernah merasakan patah hati karena di tinggalkan kekasihnya, Ummi akan ceritakan semua yang terjadi padamu nanti, tapi saat ini Ummi sangat berharap kamu mau Ummi jodohkan dengan Putera Ummi, tolong bantu Ummi untuk merubahnya kembali seperti dulu," Ummi kembali meminta pada Salma.


Mendengar permintaan Ummi membuat Salma bingung bercampur kaget, bagaimana bisa seorang Ummi yang notabennya bukan orang biasa meminta Salam yang berasal dari kalangan bawah sebatang kara pula untuk menjadi menantunya, istri dari putera satu-satunya yang dia miliki.


"Salma! apa kamu melamun?" Ummi yang melihat Salma hanya diam mematung mencoba menyadarkannya.


"Eh, iya Ummi, maaf," Salma tergagap saat merasakan tangan hangat Ummi sedikit memper erat genggamannya.


"Jika kamu tidak mau juga tidak apa-apa Salma, Ummi tidak akan memaksakan kehendak Ummi padamu," ucap Ummi.


"Tidak Ummi, Salma ikhlas dan yakin juga tidak merasa di paksa untuk membuat sebuah keputusan, hanya saja, Salma butuh waktu untuk memikirkan dan meminta petunjuk sama Allah sebelum memutuskannya, karena Salma punya keinginan menikah hanya sekali seumur hidup," Salma mengungkapkan apa yang dia rasakan saat ini.


"Beri waktu tiga hari untuk Salma berfikir dan sholat istikharah Ummi! setelah tiga hari Salma janji akan memberikan jawaban atas apa yang Ummi pinta," kali ini Salma yang meminta pada Ummi.


"Ummi akan menunggu jawaban terbaik yang akan kamu berikan setelah tiga hari, semoga apa yang Ummi harapkan bisa jadi kenyataan," ada sedikit nada pemaksaan yang terdengar dari bibir Ummi, dan Salma hanya bisa mengangguk menanggapi ucapan Ummi yang terkesan sedikit memaksa.


"Kembalilah ke asrama! Ummi sudah selesai dengan apa yang ingin Ummi katakan, fikirkan baik-baik permintaan Ummi, Nak!" titah Ummi yang merasa sudah selesai dan Salma harus segera kembali ke asrama untuk beristirahat karena Ummi tahu dengan pasti jika saat ini Salma pasti lelah setelah membantu Mbok Yem dan belajar bersama Ghozi.


"Baiklah Ummi, Salma pamit ke asrama dulu. Assalamualaikum," pamit Salma sambil mencium punggung tangan Ummi kemudian berlalu meninggalkannya.


Salma masih tak bisa menghilangkan permintaan Ummi yang terus terngiang-ngiang di kepalanya, permintaan yang sebenarnya terasa begitu sulit untuk di ungkapkan.

__ADS_1


"Woiii, jangan ngelamun aja! masuk sini!" suara Tari mengejutkan Salma yang ternyata sudah sampai di depan kamar, tapi dia tak langsung masuk melainkan berdiri mematung di depan jendela.


"Isshh kamu berisik sekali Tari," protes Salma yang sedikit terkejut mendengar teriakan Tari.


"Habis kamu ngelamun aja, emang kamu gak takut kerasukan setan apa? pakek acara ngelamun segala, udah kayak orang banyak hutang kamu," seru Tari dari dalam kamar sedang Salma masih setia berdiri di depan jendela.


"Ishh kamu masih saja berdiri di situ, sini ikut gabung bareng aku!" sambung Tari membuat Salma risih dengan suara cempreng Tari yang terdengar sangat mengganggu di telinganya.


"Iya, iya, ini aku masuk." sahut Salma berjalan mendekat ke arah Tari yang sedang duduk dengan satu lolipop di mulutnya dan satu buku komik yang ada di pangkuannya.


"Udah gedhe masih aja suka lolipop, apa kamu gak malu sama anak Tk," ujar Salma mencoba mencari topik pembicaraan untuk mengalihkan perhatian Tari yang pasti akan mengintrogasi dan melabrak siapapun yang membuat Salma sedih ataupun dilema.


"Kenapa? kamu mau? kalau iya biar aku ambilkan. Santai aja, aku punya banyak kok," tanggapan yang sama setiap kali Salma membahas tentang lolipop yang biasa di makan oleh Tari.


"Eh, bukankah Mbak Ratna sudah bilang kalau bawa komik ke pesantren itu di larang? kenapa kamu tetap membawanya?" tanya Salma menatap heran ke arah Tari yang justru terlihat cuek dan kembali membuka komik yang dia pangku.


"Ishh, Tari! aku lagi ngomong sama kamu," Salma sedikit menaikkan oktaf bicaranya yang berarti saat ini Salma sedang emosi.


"Sudahlah kamu gak pantes marah gitu, gak serem tahu," bukannya menuruti apa yang di katakan Salma, Tari malah mengejek Salma yang terlihat tak menyeramkan bahkan biasa saja saat marah.


"Aku serius Tari," kali ini suara Salma penuh dengan penekanan.


"Iya, aku tahu membawa komik itu di larang, tapi kamu juga harus tahu Salma, jika temanmu ini juga butuh hiburan yang bisa menghilangkan sedikit rasa jenuh dan beban berat kehidupan." Ujar Tari.

__ADS_1


"Kamu bisa melakukan hal lain selain melanggar aturan yang sudah di buat. Jika kamu ketahuan nanti apa yang akan kamu lakukan? ingatlah setiap pelanggaran ada hukumannya," Salma masih berusaha mengingatkan Tari.


__ADS_2