
Kafa hanya terdiam menatap heran ke arah Salma yang tiba-tiba mendekat dan menegurnya, baru pertama kali ada ses3orang yang menegurnya di pesantren, sejak kecil tak ada satu orangpun yang berani menegur ataupun melawannya.
"Kamu sendiri siapa? berani sekali kamu menegurku dengan sikap tidak sopan seperti itu," ujar Kafa.
"Aku Salma, dan aku tidak akan membiarkan irang asing bersikap seenaknya di rumah Ummi," jawab Salma dengan pedenya.
"Salma, kamu haddam baru di rumah ini sampai tak mengenaliku," ucap Kafa yang kini sudah menatap tajam ke arah Salma.
"Siapa bilang aku haddam di sini? aku puterinya Ummi," Salma kembali berkata dengan pedenya.
"Ha ha ha ha, sejak kapan Ummi punya puteri seprti kamu?" Kafa tertawa mengejek ke arah Salma yang justru terlihat heran karena Kafa terlihat tak takut sama sekali, dia malah tertawa mendengar pengakuannya.
"Ada apa ini?" sela Ummi yang baru saja datang. Ummi tak sengaja mendengar keributan di dapur dan segera menghampiri melihat apa yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
"Ummi," lirih Salma mengalihkan pandangannya menatap Ummi yang kini tengah berjalan mendekat ke arahnya dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya.
"Tidak ada apa-apa Ummi, hanya ada orang yang lagi mimpi di siang bolong terus di omongin ke Kafa," jawab Kafa dambil melirik dan meremehkan Salma.
'Apa? Kafa? jangan-jangan dia anak Ummi yang mau di jodohkan denganku,' tebak Salma dalam hati setelah mendengar Kafa menyebut namanya.
"Mimpi di siang bolong bagaimana maksudmu, Nak?" tanya Ummi mengerutkan dahi bingung mendengar perkataan sang putera.
"Baiklah, kamu pergi saja dulu! tapi jangan lupa ke sini lagi! kita makan bersama." Jawab Ummi sambilmemberi perintah.
"Baik, Ummi," ucap Salma dengan patuh sedang Kafa masih menatapnya dengan tatapan remeh.
Salma yang terlanjur malu mempercepat langkahnya meninggalkan dapur dan segera pergi menuju asrama, dia bingung apa dia masih punya muka untuk bertemu dengan Ummi dan puteranya lagi atau tidak setelah mengatakan jika dia puteri Ummi yang jelas-jelas bukan kenyataannya.
__ADS_1
"Kamu kenapa Salma?" tanya Tari yang begitu hafal dengan ekspresi wajah Salma saat sedang dalam masalah.
"Aku, tidak apa-apa," jawab Salma singkat.
"Ucapanmu tak sesuai ekspresi wajah yang kau tunjukkan," sahut Tari.
Mendengar ucapan Tari membuat Salma terdorong ingin menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan Salma menceritakan semua yang telah terjadi antara dia dan Kafa.
"Bua ha ha ha ha," tawa Salma terdengar menggelegar memekakan telinga Salma yang kini berwajah jengkel melihat ekspresi yang di tunjukkan oleh Tari.
"Kalau kamu terus tertawa aku tinggal juga kamu!" Salma sedikit meninggikan nada bicaranya emosi melihat Tari yang tertawa menggelegar di hadapan Salma.
"Sorry Salma, aku kelepasan, jangan emosi!" ujar Tari sambil mengusap lembut punggung Salma yang kini diam.
__ADS_1