
"Ghozi, apa kamu mendengarnya?" Tari kembali bertanya, dia mencoba menyadarkan Ghozi yang sedang terdiam melamun sambil menatap lekat ke arahnya.
"Eh, boleh, silahkan! bawa saja ke kamar!" sahut Ghozi saat dia sadar dari lamunan yang cukup membuatnya tak mendengar apa yang Tari tanyakan.
"Baiklah, kalau begitu aku permisi." Pamit Tari berdiri melangkah menjauh dari sisi Ghozi kemudian masuk ke dalam pondok.
"Mbak Tari!" panggil Sasa dengan suara cukup tinggi dia berteriak.
"Iya, ada apa Sasa?" sahut Tari menoleh ke arah Sasa yang berdiri tak jauh dari tempatnya berdiri.
"Mbak ke mana saja?" tanya Tari yang langsung berlari mendekat ke arah Tari yang sedang berdiri di hadapannya.
"Mbak sedang banyak pekerjaan, jadi Mbak harus pergi Sasa," jawab Tari yang kini berjongkok menyeimbangkan tinggi badan Sasa yang cukup pendek itu.
"Mbak temani Sasa sebentar lagi, Sasa masih mau berfoto dengan Mbak Tari dan yang lain," rengek Sasa sembari bergelayut manja ke arah Tari.
__ADS_1
"Maaf Sasa, bukan Mbak tidak mau, tapi Mbak benar-benar harus pergi." Jawab Tari yang memang sibuk dan tidak mungkin bisa menemani Sasa untuk saat ini.
"Sepuluh menit saja, apa Mbak tidak bisa menemani Sasa?" dengan wajah memelas Sasa masih saja memaksa Tari untuk ikut dengannya.
"Maaf Sayang, Mbak benar-benar sibuk saat ini, tadi Mbak nemenin Sasa karena Mbak gak mau Sasa sedih dan Mbak sengaja ninggalin pekerjaan Mbak demi nemenin Sasa, kalau sekarang Mbak pergi lagi dan gak nerusin pekerjaan Mbak, nanti kasian para santri gak bisa dapat rapot tepat waktu dan acara haflahnya juga tertunda, apa Sasa mau pulangnya juga ikut di tunda?" Tari mencoba menjelaskan sedetail mungkin tentang pekerjaan yang harus di kerjakan oleh Tari dengan harapan Sasa bisa mengerti dan mau melepaskannya.
"Baiklah, Sasa mengerti, tapi lain kali Mbak Tari harus mau di foto bersama Sasa dan Daddy," untaian harapan yang di ucapkan oleh Sasa dengan wajah penuh kesedihan sebenarnya cukup membuat Tari terenyuh, hanya saja dia tak bisa berbuat lebih untuk membuat gadis imut di hadapannya itu tersenyum bahagia, karena saat ini pekerjaan Tari benar-benar banyak dan tak bisa di tinggalkan begitu saja.
"Maafkan Mbak ya Sayang," sekali lagi Tari meminta maaf atas apa yang telah terjadi dan dia berharap Sasa tidak terlalu larut dalam kesedihan yang saat ini tampak terlihat jelas di wajahnya.
"Mbak Tari tenang saja, aku tidak apa-apa, asal nanti malam Mbak Tari ceritain tentang nabi nuh , bagaimana?" alih-alih menghilangkan rasa sedih yang di rasakan Sasa, Tari malah di minta untuk berdongeng dan bercerita sambil menemani tidur Sasa seperti malam-malam sebelumnya.
"Assalamualaikum," Pamit Tari berdiri melangkah pergi meninggalkan Sasa yang kini tersenyum menampakkan deretan giginya yang putih nan rapi ke arah Tari yang menghilang di balik tembok mushollah.
Tari terus berjalan menuju kamarnya melanjutkan mengoreksi lembar ujian yang masih terlihat menumpuk, Tari tetap berusaha tegar meski hatinya tengah bergemuruh merasakan sesuatu yang tak bisa dia jelaskan, bagaimana dia bisa menahan segalanya dan terus-terusan berpura-pura tegar di hadapan Ghozi yang tak pernah bisa tegas dengan apa yang sebenarnya dia rasakan, sebuah harapan yang di berikan Ghozi terus saja menghantui hatinya yang semakin lama semakin mencintai Ghozi meski Tari sudah berusaha sekuat tenaga melupakan Ghozi tapi cinta itu tetap tumbuh subur meski tak pernah di siram.
__ADS_1
Apa yang di rasakan Tari sangat jauh berbeda dengan Kafa yang semakin hari semakin menunjukkan rasa sayangnya tanpa malu dan memberikan sejuta cinta untuk Salma, hari-hari Salma terasa begitu bahagia dan semakin bahagia dengan sikap Kafa yang semakin romantis, seperti pagi ini di mana Kafa yang terlihat cool dan tampan juga tegas tengah berkutat dengan alat dapur dan menyiapkan sesuatu yang bisa di makan oleh Salma.
"Sepagi ini ada bau yang harum, apa di apartemen ini ada abang-abang jual makanan?" gumam Salma yang baru saja membuka mata tapi dia langsung merasakan bau harum masakan yang entah berasal dari mana.
Salma yang baru sadar berdiri dan berjalan keluar dari kamar, dia melangkah mengikuti aroma harum yang kini menggelitik indra penciumannya.
'Dapur? apa bener bau ini berasal dari dapur?' batin Salma sambil terus melangkah dengan perasaan yang di penuhi oleh rasa heran mengingat jika di apartemen yang dia tempati saat ini tidak ada orang lain lagi selain dirinya dan Kafa sang suami.
'Apa Mas Kafa yang memasak?' batin Salma yang terus berjalan menuju dapur.
Dua hari yang lalu, Kafa mengajak Salma kembali menginap di tempat lain, saat ini keduanya menginap di apartemen milik Kafa, apartemen mewah yang pernah Kafa beli dengan uang tabungannya sendiri, awal nya apartemen itu di desakan hingga kemarin waktu penyewa apartemen Kafa berpamitan pulang kembali ke rumah membuat Kafa berfikir untuk mengajak Salma menginap di tempat itu agar hubungan mereka bisa semakin erat dan cinta yang sudah tumbuh akan semakin subur mengingat balapan yang seminggu lagi akan berlangsung.
Kafa berniat merilekskan fikiran dan tubuh Salma agar dia tidak terlalu memikirkan balapan yang menurut Kafa tidak penting, kemarin Kafa sudah sempat berbicara pada Salma jika dirinya sudah tidak perduli lagi dengan ancaman Intan yang pasti tidak akan terjadi, Kafa tahu dengan pasti jika sepupu Intan yang selama ini di andalan kini tengah terkapar di rumah sakit karena terlalu banyak mabuk. Tapi Salma yang tak pernah ingkar janji tidak mau jika Kafa mengajaknya pergi dan mengingkari janji yang telah dia buat dengan Intan.
Salma berucap jika janji tetaplah janji, apapun hasil dan alasannya, Salma harus menepati janji yang sudah dia sepakati.
__ADS_1
"Mas Kafa," lirih Salma ketika melihat suaminya yang tampan penuh wibawa san ketegasan itu sedang memasak dengan celemek yang menempel di badannya, wajah tegas dan sedikit kejam yang biasa terlihat sekejap saja sirnah, yang terlihat saat ini Kafa yang imut penuh rasa cinta, sungguh Salma ingin mencium pipi Kafa dan menguburnya dengan gemas.
"Kamu sudah bangun, Sayang?" sapa Kafa yang langsung mematikan kompor dan berjalan ke arah Salma mendekatinya kemudian mencium kening Salma yang terdiam mematung melihat apa yang di lakukan oleh Kafa.