Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Belajar Motor


__ADS_3

"Ini jalan umum Mas, bukan arena balap, jadi berbeda, jangan di samakan!" jawab Salma memberi penjelasan atas apa yang tadi dia katakan.


"Iya, iya, aku memang salah," ujar Kafa membenarkan perkataan Salma, jalan raya memang bukan arena balap bagi siapapun, karena jika jalan raya di jadikan arena balap maka akan ada banyak hal buruk yang terjadi, karena jalan raya bukan milik kita pribadi dan juga bukan untuk kita pribadi, jalan raya itu di pergunakan untuk umum.


'Tumben nyadar, biasanya gak mau kalah selalu pengen menang sendiri,' batin Salma yang kini beralih memperhatikan jalan di mana pemandangan di sisi jalan terlihat begitu indah dan sejuk.


Kafa terus melajukan motornya menuju jalan komplek yang belum jadi dan jarang sekali di lewati orang, jalan itu sepi karena beberapa hari ini pembangunannya di hentikan sementara tanpa tahu apa alasannya.


"Apa di sini benar-benar aman Mas?" tanya Salma dengan ekspresi wajah ragu melihat keadaan di sekelilingnya.


"Kamu tenang saja, aku sudah menyuruh orang untuk meninjau lokasi ini sebelumnya, jadi kamu tidak perlu khawatir tentang itu," jawab Kafa dengan penuh keyakinan.


"Syukurlah kalau begitu, apa kita bisa mulai sekarang?" tawar Salma.


"Kamu mau aku temani dulu atau langsung menjalankannya sendiri?" bukannya menjawab Kafa malah balik bertanya.


"Kalau aku terserah Mas Kafa mau bagaimana? sekarang Mas Kafa sudah menjadi pelatih terpercaya, karena itulah aku akan mengikuti semua yang Mas Kafa katakan tanpa terkecuali," jawab Salma.


Mendengar jawaban Salma membuat otak Kafa berputar senang mendapat ide yang cemerlang seterang lampu pijar.


"Baiklah, sekarang kamu bisa jalan," ujar Kafa setelah duduk tepat di belakang Salma dengan jarak yang cukup dekat.


Awalnya Salma biasa saja, sesuai dengan apa yang di katakan dirinya sebelumnya, dia akan melakukan apapun yang di katakan oleh Kafa tanpa terkecuali, Salma hanya diam dan terus berkonsentrasi pada jalan yang dia lalui.


Tapi konsentrasi yang di miliki oleh Salma mendadak buyar saat Kafa menyatukan jemarinya tepat di atas perut Salma dengan lengan yang melingkar indah di perut Salma, wajah Kafa juga menempel indah di cecuruk leher sang istri.


Ciiitttttt ....


Kafa yang sejak tadi menikmati aroma tubuh istrinya itu langsung tersentak kaget saat Salma tiba-tiba mengerem dan berhenti mendadak. Sungguh Kafa tak menduga sebelumnya hingga dirinya yang sejak tadi menempel langsung memisahkan diri dan memijakkan kedua kakinya ke tanah untuk menyangga motor yang sedang di setir oleh Salma..


"Ada apa Sayang?" tanya Kafa dengan ekspresi wajah terkejut.


"Bagaimana aku bisa berkonsentrasi kalau Mas Kafa menempel kayak cicak gitu?" jawab Salma yang kini terlihat sedikit jengkel dengan Kafa.

__ADS_1


"Aku berpegangan seperti itu karena aku merasa takut Salma Sayang, wajar donk kalau aku berpegangan," Kafa memberi alasan untuk apa yang sudah dia lakukan tadi.


"Berpegangan saat berkendara itu emang wajar Mas Kafa, tapi cara kamu berpegangan tadi sangat mengganggu konsentrasiku, dan aku tidak bisa menyetir dengan benar jika seperti itu," ujar Salma.


"Apa sikapku tadi sangat mengganggu?" bukannya merasa beraalah Kafa malah bertanya seperti orangbodoh yang tak mengerti apapun.


"Mas fikir saja sendiri, jika aku ada di posisimu dan Mas ada di posisiku, apa Mas tidak merasa terganggu dengan apa yang akan aku lakukan?" Salma mencoba memposisikan Kafa seperti dirinya.


"Aku tidak akan terganggu Salma, aku malah akan merasa sangat senang dan semakin bersemangat jika ada di posisimu, apa kamu mau mencobanya?" bukannya merasa bersalah Kafa malah menawarkan diri untuk menjadi dirinya.


"Mas aku ingin belajar dengan serius, bagaimana mungkin bisa kalau Mas Kafa terusbercanda seperti ini," keluh Salma yang tak ingin membuang waktu percuma.


"Baiklah, kita mulai belajar dengan serius," Kafa yang sadar jika Salma harus menang dari Intan dan melihat kesungguhan yang di miliki Salma membuat Kafa berniat berhenti bercanda, sebenarnya Kafa hanya berniat mengalihkan perhatian Salma yang terlihat begitu serius untuk belajar menyetir dengan kecepatan tinggi, awalnya Kafa hanya ingin menghiburnya saja, tapi apa daya Kafa jika apa yang di lakukannya di anggap mengganggu.


"Baiklah, kuta mulai dari sekarang, bersiap!" Kafa yang tak ingin menghabisakan waktu percuma langsung memberi aba-aba pada Salma saat dirinya terlihat sudah siap.


"Satu, dua, tiga, go!" ujar Kafa yang làngsung di ikuti oleh Salma.


Salma langsungtancap gas setelah mendengar kata go terucap dari bibir Kafa.


Salma terlihat sangat lihai mengendarai motor balap milik Kafa, dia terlihat sudah terbiasa mengendarainya, karena itulah jiwa kepo milik Kafa mulai meronta meminta penjelasan dengan apa yang dia lihat baru saja.


'Klik'


Kafa langsung memencet tombol mati setelah Salma berada di hadapannya dengan penuh pesona dia menatap ke arah Kafa yang sejak tadi di penuhi oleh rasa penasaran.


"Bagaimana? apa hasilnya bagus?" tanya Salma dengan ekspresi heran melihat Kafa yang justru terbengong menatap ke arahnya.


Untuk ukuran pemula Salma bisa di katakan sangat jago, karena itulah dia sangat terkejut melihat kelihaian Salma saat mengendarai motor balap miliknya.


"Sejak kapan kamu bisa menaiki motor balap itu Salma?" bukannya menjawab pertanyaan Salma, Kafa justru balik bertanya dengan penuh keheranan.


"Yang di tanya apa, jawabnya apa," ujara Salma merasa aneh dengan sikap Kafa saat ini.

__ADS_1


"Untuk ukuran pemulasepertimu, sangat bagus, kamu mungkin bisa memenangkan tantangan itu jika kamu rajin berlatih lagi," Kafa menjawab ucapan Salma yang menurutnya butuh penjelasan.


"Tapi ada hal yang jauh lebih pentingdari semua itu saat ini, aku tak bisa lagi menahan rasa penasaranku dengan keahlian yang kamu miliki, jadi sekarang kamu harus bercerita padaku dari mana kamu dapat keahlian itu?" Kafa yang tak lagi bisa menahan diri untuk tidak bertanya kini akhirnya memilih untuk bertanya pada Salma.


"Apa tidak lebih baik kita bicara di tempat lain yang lebih enak selain di jalan Mas? lagi pula aku baru dapat satu putaran sudah di suruh cerita, apa tidak nanti saja setelah aku melakukan beberapa putaran lagi?" Salma yang merasa jika latihannya kurang dan menyadari jika tempat untuk dia bercerita sangat tidak mendukung, karena itulah Salma memberi penawaran pada Kafa saat ini.


Kafa diam, sejenak memikirkan setiap kata yang di ucapkan oleh Salma, apa yang di katak olehnya memang benar adanya, Kafa harus sedikit bersabar lagi, setidaknya sekarang kemenangan Salma menjadi prioritas utamanya.


"Kamu benar Salma, lakukan sekali lagi! setelah itu kita bisa pergi ke tempat lain untuk menceritakan segalanya," ucap Kafa.


"Astaghfirullah Mas, kenapa kamu jadi tidak sabaran seperti ini, aku akan menceritakan semuanya nanti, kamu tenang saja," sahut Salma mencoba meyakinkan Kafa agar dia fokus pada latihannya dulu dari pada harus terus-terusan bertanya dari mana Salma bisa mendapat keahlian berkendara seperti saat ini.


"Baiklah, kita mulai lagi!" Kafa berucap dengan penuh semangat.


Akhirnya latihan yang awalnya Kafa minta hanya satu putaran akhirnya terlaksana beberapa putaran karena Salma terus saja mendesak Kafa agar dia melatih Salma dengan durasi waktu yang jauh lebih lama, tujuannya hanya satu, Salma ingin menang dari Intan dan hidup bahagia dengan Kafa di pesantren tanpa ada yang ganggu satupun.


"Apa kamu merasa masih kurang Sayang?" tanya Kafa saat dia merasa jika latihan saat ini sudah cukup sampai di sini.


"Sudah cukup Mas, aku lelah," jawab Salma.


Salma sudah cukup lama tidak mengendarai motor sep0erti saat ink, terakhir kali dia mengendarai motor balap beberapa tahun yang lalu sebelum dia benar-benar putus dengan sang Mantan.


"Apa sekarang kamu sudah siap untuk bercerita?" tanya Kafa yang terlihat berbinar, setelah sekian lama dia menahan akhirnya rasa penasaran yang dia pendam sejak tadi bisa terpuaskan.


"Aku sudah siap Mas, aa aku cerita di sini, atau kita cari tempat lain? mengendarai motor membuatku merasa lapar Mas," ujar Salma.


"Baiklah, sekarang giliranku yang akan menyetir, kamu duduk manis dan pegangan yang erat di belakang, biar aku ajak kamu ke tempat yang nantinya pasti kamu sukai," ujar Kafa yang kini memberi isyarat pada Salma agar dia turun dari motor dan memberikan motor itu padanya.


"Ayo naik!" Ajak Kafa setelah dirinya sudah duduk rapi di atas motor.


Salma yang mendengar ajakan Kafa langsung berjalan memutari motor dan naik ke atas motor tepat di belakang Kafa.


"Pegangan!" Kafa kembali memberi perintah setelah merasa jika Salma sudah naik di atas motor.

__ADS_1


Salma yang mendengar perintah Kafa langsung menautkan kedua tangannya tepat di perut Kafa untuk berpegangan, dan Kafa mulai melajukan motornya meninggalkan jalanan komplek menuju tempat yang menurutnya cocok untuk bercerita ataupun mendengarkan cerita.


__ADS_2