Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Jalan-jalan Di Taman


__ADS_3

"Tari!" panggil Salma saat melihat Tari duduk terdiam di ruang keluarga, menatap kosong ke arah depan yang jelas-jelas Tidak ada apa-apa yang bisa di lihat di sana.


"Iya, Kenapa Salma?" sahut Tari datar, di wajahnya terlihat jelas jika saat ini Tari sedang memikirkan sesuatu yang tidak di ketahui oleh Salma.


"Kamu ngapai duduk termenung sendirian di situ?" tanya Salma dengan ekspresi wajah heran yang nampak jelas dari raut wajahnya.


"Tidak ada, Aku hanya menikmati pagi hariku," jawaban yang sungguh tak bisa di terima oleh Salma.


"Semakin lama kamu semakin aneh Tari," ucap Salma melihat sikap sahabatnya yanh sudah dua hari ini terlihat lebih banyak diam dari pada bertingkah seperti biasanya.


"Benarkah? perasaan biasa saja," sekali lagi Tari terlihat jauh berbeda dari biasanya.


"Dari pada kamu ngelamun di sini lebih baik ikut bersamaku," ujar Salma.


"Memangnya kamu mau ke mana?" Tari tak langsung mengiyakan ajakan Salma, dia malah bertanya tempat yang mau di tuju oleh Salma.


"Mas Kafa mengajakku jalan-jalan sore ini di taman komplek, menikmati pemandangan sore di sana," jelas Salma.


"Aku tidak mau jadi obat nyamuk," jawaban yang membuat Salma memutar bola mata jengah.


"Mas Kafa!" Salma beralih memanggil Kafa saat dia melihat Kafa baru saja turun dari kamar.


"Iya, kenapa?" sahut Kafa dengan suara lembut menggetarkan hati siapapun yang mendengarnya.


"Mas, bagaimana kalau kita ajak Ghozi dan Tari untuk ikut jalan-jalan?" usul Salma.


"Boleh, tunggu di sini! biar aku panggilkan Ghozi." Jawab Kafa melangkah meninggalkan Salma dan Tari yang masih setia berdiri di tempatnya.


"Bagaimana Tari? apa sekarang kamu masih mau bilang bakal jadi obat nyamuk kalau ikut?" ujar Salma.


"Baiklah, Aku mau ikut bersamamu," jawaban yang cukup membuat Salma tersenyum senang setelah mendengarnya.


"Ayo berangkat!" tanpa meminta persetujuan Tari, Salma langsung meraih jemarinya memberi isyarat pada Tari agar Tari mengikuti langkahnya, dan Tari yang mengerti dengan isyarat yang di berikan oleh Salma langsung melangkah tanpa perlawanan.

__ADS_1


"Bagaimana Mas? apa semuanya sudah siap?" tanya Salma sesaat setelah sampai di halaman, di mana ada Ghozi dan Kafa yang sedang duduk di teras rumah setelah memanasi mesin mobil.


"Aku selalu siap lebih dulu darimu, Sayang," jawab Kafa.


"Kita berangkat sekarang, atau masih harus menunggu lagi?" Salma kembali bertanya.


"Kalau kami sudah siap, lebih baik kita berangkat dari pada nanti kemaleman, gak enak juga," jawab Kafa.


Keempatnya berjalan masuk ke dalam mobil dan mulai melakukan perjalanan menuju taman komplek yang terletak sedikit lebih jauh dari rumah Kafa.


Biasanya kalau sore hari seperti saat ini, suasana di taman akan ramai dan ada banyak penjual makanan yang menjajahkan makanan di tepi taman, tak hanya itu, para pemuda pemudi yang sengaja menongkrong di sana memperlengkap suasana taman yang sangat nyaman untuk di datangi saat matahari sedang perjalanan pulang kembali ke peraduan.


"Aku kok gak pernah tahu ya kalau di sini seramai ini kalau sore," ujar Salma yang merasa jika dirinya menang tidak pernah datang ke taman saat sore hari.


"Kamu terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara menyingkirkan Intan dan menang saat bertanding dengannya," jelas Kafa.


"Mas Kafa benar juga," ujar Salma.


Ghozi dan Tari terlihat saling diam tanpa ada yang memulai pembicaraan, Tari sibuk memperhatikan sekeliling taman, sedang Ghozi sibuk mencuri pandang ke arah Tari yang sama sekali tidak menyadarinya.


"Kenapa kalian hanya diam saja?" tanya Salma merasa aneh dengan sikap yang di tunjukkan Tari dan Ghozi.


"Terus kita harus melakukan apa Neng Salma?" sahut Tari dengan ekspresi bingung yang tergambar jelas di wajahnya.


"Bagaimana kalau kita duduk di bawah pohon itu? Mas Kafa dan Ghozi membelikan camilan juga minuman untuk kita, bagaimana? apa Mas Kafa setuju?" usul Salma.


"Apapun yang kau mau, tunggu aku di sana!" titah Kafa.


"Ghozi! apa kamu mau membelikan makanan untuk aku dan Tari?" kini pertanyaan Salma tertuju pada Ghozi yang hanya diam tak mengeluarkan sepatah katapun sejak tadi.


"Tentu saja Neng Salma," sahut Ghozi yang menandakan dia juga mau makanan yang pasti bisa menggoyang lidah.


"Baiklah, kalau begitu kita tunggu di bawah pohon ya," pamit Salma seraya berjalan menuju tempat duduk yang ada di bawah pohon. Sedang Kafa dan Ghozi berjalan ke arah penjual makanan yang tengah menjajakan makanannya.

__ADS_1


Kafa dan Ghozi membeli makanan yang menurut mereka di sukai Salma dan Tari, sedang Salma mencoba mengorek informasi alasan dari perubahan sikap yang di tunjukkan oleh Tari beberapa hari ini.


"Tari," lirih Salma menatap dalam ke arah Tari yang kembali terdiam mencoba mencari tahu alasan dari perubahan sikapnya.


"Iya, ada apa, Salma?" sahut Tari sejenak menoleh ke arah Salma yang baru saja menoleh ke arahnya.


"Apa ada sesuatu yang terjadi di pesantren selama aku di sini?" Salma kembali bertanya.


Tari terdiam, dia terlihat berfikir mempertimbangkan apa yang harus dia lakukan? berkata sejujurnya atau menutupi keadaan yang sebenarnya dari Salma yang pasti tahu jika saat ini dirinya tengah berada dilema yang teramat rumit untuk di jelaskan.


"Jangan menyimpannya sendiri, Tari! kita ini sahabat, Apapun yang menurutmu berat berbagilah denganku, meski aku tak bisa membantumu setidaknya beban dalam hatimu itu berkurang," Salma masih berusaha mencoba mengetahui masalah yang sedang menerpa Tari sang sahabat.


"Aku masih bisa mengatasinya sendiri Neng Salma, nanti jika aku sudah tak mampu menanggungnya sendiri aku bisa pastikan akan mencari dan meminta bantuanmu," jawab Tari.


"Baiklah, jika saat ini kamu masih belum bisa berbagi denganku, Aku tidak akan memaksamu, tapi jika nanti kamu butuh bantuannya, datanglah! ingat Tari, Aku masih sama seperti dulu dan tidak akan pernah berubah sampai kapanpun meski waktu telah mengubah kehidupanku," ujar Salma dengan senyum menghibur yang dia tunjukkan ke arah Tari yang kini ikut tersenyum karenanya.


"Serius amat, lagi ngomongin apa?" celetuk Kafa yang baru saja datang dengan dua kantong plastik berukuran sedang berisi makanan sedang Ghozi membawa satu kantung juga berisi minuman.


"Ini lagi ngomongin jodoh Tari, Mas," jawab Salma asal, awal nya dia hanya bercanda dan asal bicara tapi reaksi berbeda di tunjukkan oleh Ghozi.


"Jodoh bagaimana maksudnya?" spontan Ghozi yang terlihat tertarik sekaligus khawatir yang tergambar jelas di wajahnya.


"Kenapa kamu jadi kaget seperti itu Ghozi?" tanya Salma sambil mengerutkan dahi bingung sekaligus curiga melihat sikap Ghozi yang spontan itu.


"Khem," Ghozi mencoba menetralkan perasaan yang sedang berkecambuk dalam dirinya.


"Ghozi, Aku sedang bertanya padamu," sekali lagi Salma menekankan ucapannya agar bisa mendapatkan jawaban yang pasti dari Ghozi yang justru hanya berdehem kemudian diam seribu bahasa.


"Tidak ada, Aku hanya kaget saja," jawaban yang tak bisa di terima oleh Salma justru kini menimbulkan kecurigaan bagi Salma, dia yang sudah mengenal Tari dan Ghozi cukup lama sangat mengerti dengan sikap yang mereka tunjukkan.


"Sudah, jangan bahas sesuatu yang bisa membuat kita bingung! lebih baik sekarang kita makan apa yang sudah aku beli untuk kalian," sela Kafa yang langsung membuka kantong plastik yang dia bawa di hadapan Salma dan Tari kemudian menaruhnya tepat di tengah-tengah mereka duduk.


Salma dan Kafa memang tak pernah mempermasalahkan status ataupun pilih-pilih teman, mereka tak pernah gengsi ataupun keki saat makan bersama orang lain meskipun mereka tahu jika orang lain itu santri mereka sendiri, hanya tuhan yang boleh menentukan drajat manusia, sedang kita manusia tidak boleh menilai orang lain dari apa yang mereka punya, karena sejatinya semua manusia itu sama, yang membedakan hanya ketaatan dirinya pada perintah yang tuhan berikan untuknya.

__ADS_1


__ADS_2