Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kehidupan Yang Pahit


__ADS_3

Bukannya menghilang rasa pemasaran Tari semakin menjadi-jadi, apa yang dia lihat membuatnya semakin ingin tahu lebih dalam tentang Kafa yang terlihat misterius, bagaimana tidak, jika dia masih belum bisa melupakan Bella kenapa dia mau di jodohkan sengan Salma, apa lagi jika Tari mengingat perlakuan Kafa pada Salma yang cenderung kurang baik membuat Tari semakin yakin jika Kafa masih belum bisa melupakan Bella sang mantan kekasihnya dan Tari juga berfikiran jika saat ini Kafa terpaksa menerima perjodohan karena paksaan dari Ummi.


"Air ... air ...." suara lirih Salma samar-samar terdengar di telinga Tari yang masih sibuk dengan pemikirannya.


"Air, kamu haus Salma? tunggu biar aku ambilkan."Tari yang menyadari jika Salma sudah bangun dan meminta air langsung berdiri dan meletakkan kembali ponsel yang tadi dia pegang di atas nakas dan mengambil segelas air yang berada tidak jauh dari tempatnya duduk.


"Minumlah! hati-hati jangan terburu-buru! perlahan saja!" Tari mencoba mengingatkan Salma agar dia tidak tersedak sembari menopang tubuh Salma yang masih lemah agar bisa duduk dan minum dengan baik.


"Terima kasih Tari," lirih Salma dengan senyum yang dia paksakan.


Salma merasa sangat bersyukur bisa bertemu dan bersahabat dengan Tari yang begitu perhatian padanya, Tari selalu ada di saat dia susah dan senang, juga saat dia sakit dan sehat.


"Dalam persahabatan tidak ada yang namanya terima kasih, lagi pula kamu bukan cuma sahabat dalam hidupku, tapi kamu sudah ku anggap seperti saudaraku sendiri, kita sama-sama sebatang kara Salma, maka tidak ada salahnya jika kita menjadi saudara untuk tetap bertahan hidup," ucap Tari dengan penuh ketulusan yang di barengi dengan senyuman penuh kasih sayang yang terpancar jelas di wajahnya.


"Kamu memang sahabat dan saudara terbaikku Tari, tapi ngomong-ngomong kita ada di mana?" tanya Salma yang baru menyadari jika dirinya tidak lagi ad di pesantren.


"Kita sedang di rumah sakit Salma," jawab Tari.


"Apa? rumah sakit?" Salma terlihat begitu terkejut mendengar jawaban Tari yang mengatakan jika dirinya tengah berada di rumah sakit, pasalnya Salma merasa ruangan yang dia tempati saat ini tidak mirip rumah sakit melainkan lebih mirip sebuah kos-kosan. Dua tempat tidur nyaman lengkap dengan Ac, tempat air dan Lemari es, bagaimana bisa tempat senyaman ini bisa di katakan rumah sakit?, karena rumah sakit yang selama ini di ketahui oleh Salma itu pasti sesak dan penuh dengan pasien, dalam satu kamar saja bisa di huni lebih dari satu orang, jangankan Ac, lemari es untuk menyimpan makanan saja tidak ada di sana.


"Jangan heran! kamar yang kamu tempati ini kamar VVIP, jadi snagat jauh berbeda dengan kamar yang dulu pernah kamu temui," jelas Tari seolah mengerti dengan kebingungan yang tengah di rasakan oleh Salma.

__ADS_1


"Kamar VVIP? masya allah Tari, siapa yang akan membayar tagihan rumah sakitnya jika aku ada di sini, biayanya pasti mahal sekali," ucap Salma yang terlihat mulai panik saat Tari memberitahukan jika dirinya berada di kamar VVIP di sebuah rumah sakit.


"Kamu tenang saja, semua ini fasilitas dari Ummi dan calon suamimu," Tari mencoba membuat Salma tenang dan tidak lagi panik akan biaya yang harus dia keluarkan.


Tari kembali mengingat ponsel yang di titipkan padanya saat menyebut nama Kafa barusan, tapi Tari masih menahan segalanya, tidak mungkin dia mengatakannya sekarang karena kondisi Salma yang baru saja terbangun dan terlihat masih sangat lemah.


"Apa mereka juga ada di sini?" tanya Salma dengan nada dan ekspresi yang terlihat ragu.


"Ummi sudah pulang tadi, sedang Mas Kafa sedang sholat, mungkin sebentar lagi akan balik ke sini," jawab Tari.


"Maaf aku sudah merepotkanmu, gara-gara aku sakit kamu jadi nungguin aku di sini, bukannya istirahat di pesantren," Salma yang baru menyadari jika kemarin Tari dan dirinya sudah bekerja keras demi lancarnya acara bahtsul masail di pesantren meminta maaf pada Tari karena dirinya Tari harus menunggunya di rumah sakit bukannya todur di pesantren.


"Tadi terima kasih, sekarang maaf, apa kamu tidak menganggapku saudara Salma?" tanya Tari yang terlihat kesal dengan Salma yang terus mengatakan sesuatu yang tak seharusnya dia katakan.


"Sudah, jangan tidak enak hati segala, karena kelak mungkin aku akan menyusahkanmu juga, dan kamu harus siap-siap karenanya," Tari yang merasa Salma terus saja meminta maaf dan berterima kasih akhirnya memilih untuk mengatakan sesuatu yang entah benar akan terjadi atau tidak.


"Kamu bisa aja," ujar Salma tersenyum manis ke arah Tari.


Suasana hening begitu terasa hingga suara aneh dari dalam perut terdengar mengalihkan perhatian Salma dan Tari.


"Astaga, kamu lapar Salma," ucap Tari saat mendengar suara perut Salma yang begitu nyaring.

__ADS_1


"He he he, aku laper Tari," jawab Salma.


"Bagaimana ini, Mas Kafa masih ada di mushollah, kalau kamu aku tinggal sendiri apa tidak apa-apa?" tanya Tari yang terlihat begitu bingung harus melakukan apa.


"Kita tunggu Mas Kafa balik aja dulu." Salma tidak ingin sendirian di dalam kamar yang dia tahu jika sekarang dia sedang berada di rumah sakit.


"Tunggu! aku punya ide." Tari yang baru ingat jika dirinya di beri satu ponsel untuk jaga-jaga ternyata ada manfaatnya juga.


"Ide apa?" Salma menatap heran ke arah Tari yang terlihat tersenyum lega karena sudah menemukan solusi dari masalah yang dia alami saat ini.


Tari tidak menjawab pertanyaan Salma dia malah meraih ponsel yang di berikan Mas Kafa tadi, Tari langsung menelfon dan memberitahukan jika Salma sedang lapar dan Kafa menyuruh Salma juga Tari untuk menunggunya datang.


"Sebentar lagi Mas Kafa akan datang membawa makanan, kita tinggal nunggu aja." Tutur Tari.


"Ngomong-ngomong anggur itu milik siapa?" tanya Salma yang melihat anggur tergeletak di atas nakas.


"Astaghfirullah, aku lupa, di lemari es ada beberapa makanan, apa kamu ingin makan yang lain?" tawar Tari.


"Tidak perlu, aku cuma ingin makan anggur itu aja," jawab Salma.


Tari yang mendengar jawaban Salma langsung mengambilkan anggur yang tadi dia makan dan memberikannya pada Salma agar dia bisa memakannya.

__ADS_1


"Anggur ini benar-benar terasa begitu manis ya Tari, jauh berbeda dengan kehidupan yang terasa begitu pahit," ujar Salma tersenyum getir mengingat semua yang pernah terjadi dalam hidupnya.


"Sudah di syukuri aja, yang penting kita busa makan anggur mehong ini sekarang," Tari yang tidak ingin Salma memikirkan apapun saat ini lebih memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan dari pada menanggapi ucapan Salma.


__ADS_2