Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kedatangan Intan


__ADS_3

Pagi indah telah tiba, tak ada yang berbeda ataupun yang spesial pagi ini, semua berjalan seperti biasa, seminggu sudah berlalu setelah Ummi dan Abah mengungkapkan permintaannya Kafa tak lagi seperti pertama datang, dia serinv keluar dari pesantren dan jarang sekali bertegur sapa dengan Ummi maupun Abah.


Awalnya Kafa meminta izin untuk kembali ke kota, tapi air mata Ummi mampu mencegahnya, meski Ummi tahu jika air mata yang mampu mencegah itu hanya akan berjalan beberapa hari saja, tapi Ummi tak mempermasalahkannya yang terpenting saat ini Kafa tak kembali ke kota dan tetap menemaninya di pesantren.


"Kafa!" panggil Ummi dengan suara lembut yang terdengar menyejukkan hati siapapun yang mendengarnya.


"Iya, Ummi," sahut Kafa seraya mengalihkan pandangannya melihat ke arah Ummi yang sedang berdiri di sampingnya.


Saat ini Kafa sedang menikmayi secangkir kopi sambil menatap lekat kearah ponsel yang ada di genggamannya.


"Apa kamu marah sama Ummi dan Abah?" tanya Ummi sambil menatap lekat ke arah putera kesayangannya itu.


"Marah? kenapa Kafa harus marah sama Ummi dan Abah? memangnya kalian sudah melakukan apa?" Kafa malah balik bertanya pada sang Ummi tanpa menjawab pertanyaannya.


"Tentang perjodohan kemarin, apa kamu marah karenanya?" Ummi memperjelas pertanyaannya.


"Tidak Ummi, Kafa tidak marah," jawab Kafa.


"Kenapa kamu jadi lebih diam dan lebih sering menghabiskan waktu di luar pesantren?" Ummi mengungkapkan apa yang mengganjal di fikirannya.


"Aku hanya ingin bertemu teman lamaku di sana Ummi," jawab Kafa.


"Kemarin kamu juga mau balik ke kota tiba-tiba kenapa?" Ummi menanyakan rencana kepulangan Kafa yang tiba-tiba tapi dapat di cegah oleh Ummi.


"Aku hanya ingin kembali saja Ummi, tak ada hubungannya dengan permintan yang Abah ataupun Ummi katakan waktu itu," jelas Kafa.


"Jika memang kamu tak marah dan perubahan sikapmu bukan karena permintaan Ummi, apa itu artinya kamu menerima permintaan kami?" Ummi yang merasa memiliki kesempatan untuk bertanya.

__ADS_1


"Beri Kafa waktu tiga hari lagi Ummi!" pinta Kafa, seberutal-berutalnya Kafa dan senakal-nakalnya dia, Kafa paling tidak bisa menolak permintaan sang Ummi.


"Baiklah, Nak, selama tiga hari Ummi berharap kamu bisa memilih mana yang terbaik untuk hidupmu," harapan Ummi terdengar begitu simple dan khusus yang di tujukan pada dirinya.


Di sisi lain ....


Intan sudah tak lagi mampu menahan diri ataupun menahan rasa rindu yang mulai menguasainya, hari ini dia bertekad untuk pergi ke rumah Kafa dan menanyakan alamat rumah Kafa pada sang sepupu.


"Thanks ya, udah kasih tahu di mana rumah Kafa yang sebenarnya," ujar Intan pada Salman sang sepupu.


"Sama-sama, tapi ingat Intan! kamu gak boleh pakai baju kayak gini kalau ke sana!" Salman kembali berpesan.


"Kenapa?" Intan kembali bertanya karena dia tak mengerti maksud dari ucapan Salman.


"Kafa itu punya pesantren, jadi kamu harus pakai kerudung jika mau ke sana!" titah Salman.


"Otak loe harta mulu, yang penting itu orangnya baik baru hartanya," ucap Salman sambil geleng kepala mendengar penuturan Intan sang sepupu.


"Cinta zaman sekarang itu realistis Salman, jika cuma modal perasaan aja gak guna kali," seru Intan kemudian dia pergi mengendarai mobil yang tadi terparkir cantik di halaman rumah Salman.


"Dasar matre loe Intan," sahut Salman sambil menatap lekat ke arah Intan yang kini sudah menghilang di balik pagar.


Dengan penu semangat Intan mengobrak abrik isi lemarinya, mencari baju yang sesuai dengan saran sang sepupu, tapi Intan yang memang memiliki hobby memakai baju serba kurang bahan kesulitan mencarinya, hingga dia menemukan beberapa setel baju lama yang cukup tertutup menurutnya.


"Kayaknya ini sudah sangat sopan, dan ku yakin Kf pasti akn terkejut dan bahagia dengan kedatanganku," lirih Intan penuh semangat.


Intan bergegas mengganti baju kemudian berjalan menuju lemari kembali untuk merapikan beberapa baju yang akan dia gunakan selama berada di rumah Kafa, Intan sudah berniat mendekati kedua orang tua Kafa agar mereka bisa mendapat restu dan menikah, sebuah harapan yang selalu ada bagi pasangan kekasih.

__ADS_1


Intan berjalan menuju mobil dan melajukannya, dia mulai melakukan perjalanan seorang diri dengan modal nekat karena ri du yang sudah tak bisa dia tahan. Perjalanan yang cukup jauh membuat Intan sering berhenti di beberapa tempat hingga sampailah dia di sebuah perempatan.


"Aku harus ke mana lagi ya?" lirih Intan sambil memperhatikan sekitar, tanpa banyak berfikir Intan memarkirkan mobil dan bertanya pada beberapa orang yang ada di sana.


"Permisi, Pak," sapa Intan pada seorang laki-laki paruh baya yang sedang duduk di tepi jalan.


"Iya, Neng, ada yang bisa di bantu?" sahutnya dengan senyum ramahnya.


"Apa bapak tahu alamat ini?" Intan mengeluarkan secarik kertas pemberian Salman dan menunjukkannya pada sang Bapak.


"Oh pesantren Ummi dan Abah, Neng jalan lurus saja terus belok kiri di sana ada gang bertuliskan nama pesantrennya neng masuk aja ke dalam nanti di dalam ada gerbang besar, itu pesantren yang Neng cari," jelasnya dengan keramahan yang masih terlihat.


"Terima kasih, sudah di kasih tahu," ucap Intan.


"Sama-sama, hati-hati, Neng!" pesan sang Bapak, sedang Intan hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai jawabannya.


Setelah mendapat informasi di mana rumah Kafa, Intan kembali melanjutkan perjalanan menuju tempat yang telah di jelaskan.


"Semoga saja Kafa senang melihat kedatanganku," untaian harapan terdengar dari bibir Inta dengan senyum yang masih tersungging di bibirnya.


Mobil terus melaju menuju pesantren hingga sampailah Intan di alamat yang dia cari. Tanpa banyak bertanya Intan langsung memasukkan mobilnya menuju halaman pesantren karena gerbang besar bertuliskan nama pesantrennya cocok dengan alamat yang di berikan oleh Salman.


"Wahh gedhe banget pesantrennya, gak nyangka kalau Kafa ternyata anak Kiyai besar," decak kagum akan kebesaran dan luasnya pesantren yang di miliki Kafa membuat senyum Intan semakin melebar.


"Pantas saja Kafa bisa beliin aku apa aja, ternyata tajir melintir dia," sambung Intan.


Intan yang merasa telah menjadi kekasih tercinta dari putera pemilik pesantren keluar dari mobil dengan gaya sombongnya. Tanpa memperdulikan orang-orang yang ada di sekitar yang tengah menatapnya aneh.

__ADS_1


Bagaimana tidak aneh, saat ini Intan memakai celana jeans ketat yang di padukan dengan kaos panjang yang juga berukuran ketat dan hijab yang hanya di sampirkan di kepala, penampilan yang akan menjadi pusat perhatian saat berada di pesantren, tapi Intan yang baru pertama kali masuk pesantren tak mengerti dan tidak peduli, dia terus saja berjalan masuk ke arah rumah Ummi untuk mencari keberadaan Kafa.


__ADS_2