Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Bertemu Kafa Di Cafe


__ADS_3

"Iya, apa motornya mau kamu pakai Sania?" Salma menjawab pertanyaan Sania dengan balas bertanya.


"Tidak, hari ini Sania libur sekolah, jadi motor akan ada di rumah seharian," jawab Sania.


Sania memang gadis rumahan yang tak terlalu senang bepergian.


"Bagus, kalau gitu kita langsung berangkat aja. Keburu siang nanti malah panas lagi," ajak Tari.


"Bener juga, ayo berangkat!" Salma yang tak ingin terus larut dalam kesedihan mencoba menghibur diri dengan menuruti ajakan Tari, tanpa banyak berfikir dia berdiri dan berjalan mengikuti langkah Tari keluar dari rumah. Sedang Sania memilih diam di rumah.


"Rasanya sudah lama banget kita gak naik sepeda kayak gini," ucap Salma menikmati angin yang mulai menerpa dirinya.


"Kamu bener juga Salma, kita sudah lama terkurung di penjara suci seperti angsa berbalut emas," sahut Tari dengan suara sedikit keras.


"Angsa berbalut emas bagaimana maksudmu Tari?" tanya Salma yang bingung dengan kata-kata Salma.


"Iya, angsa berbalut emas, kita akan terlihat begitu menawan seperti angsa dan mahal seperti emas karena status dan ilmu yang kita dapat di sana," jawab Tari.


Salma terdiam mencerna apa yang di katakan oleh Tari, semuanya memang benar dan Salma hanya tersenyum setelah memahami ucapan Tari.


"Kamu benar Tari, kita benar-benar terlihat seperti angsa yang berbalut emas ketika berada di pesantren," sahut Salma kemudian.


"Sudah jangan bahas angsa mulu, mendingan kita makan serabi duren dulu." Ujar Tari saat keduanya sudah sampai di depan cafe yang dulu biasa mereka datangi.


"Aku kangen banget pengen makan serabi coklat sama keju," seru Salma dengan penuh semangat.


Keduanya melangkah masuk dengan ekspresi wajah berbinar karena senang, mereka memilih tempat duduk yang dulu sering mereka tempati, kebetulan saat ini cafe tidak terlalu banyak pengunjung membuat Salma dan Tari bisa bebas memilih tempat duduk.


"Mbak!" panggil Tari pada pelayan cafe.


"Iya, silahkan mau pilih menu yang mana?" tanya Sang pelayan.


Keduanya memilih menu yang mereka sukai, dan mulai menikmati suasana cafe sambil menenang masa lalu.

__ADS_1


"Salma!" panggil Tari mencoba mengalihkan perhatian Salma yang terus menoleh ke arahjalan.


"Iya, kenapa?" sahut Salma sambil mengalihkan pandangannya.


"Apa kamu gak kangen sama ini?" tanya Tari sambil menunjukkan benda pipih yang dulu sering banget menemani keduanya, bahkan keduanya sempat menjadi best couple yang tak terpisahkan.


"Aku hampir saja melupakan benda itu Tari," jawab Salma.


Tari tersenyum sambil mengulurkan tangan memberikan benda pipih yang sudah lama tak tersentuh oleh keduanya beserta cash yang sengaja dia bawa karena di ponsel itu sama sekali tak ada baterai.


Di cafe tempat mereka duduk memang menyediakan colokan untuk ponsel yang berada di dekat keduanya duduki, tempat paling nyaman dengan fasilitas paling lengkap yang mereka pilih.


Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang tengah memperhatikan keduanya dengan dahi mengkerut, bukan karena heran tapi lebih terlihat memastikan apa yang dia lihat.


"Ghozi!" panggil Kafa.


"Apa?" sahut Ghozi.


"Apa aku gak salah lihat, bukankah mereka Salma dan Tari?" tanya Ghozi sambil memperhatikan keberadaan Salma dan Tari.


"Itu di arah jam sembilan," jawab Kafa.


Ghozi yang mendengar jawaban Kafa langsung mengikuti ke mana arah pandang Kafa, dan benar saja tampak Salma dan Tari sedang menikmati seporsi serabi dengan sesikit canda tawa yang terlihat jelas dari tempat Ghozi.


'Kamu memang cantik Salma, bukan hanya parasmu tapi hati dan ketegaranmu menerima semu ujian yang kamu terima membuatku semakin yakin jika kamu memang gadis yang nyaris sempurna,' batin Kafa sambil menatap lekat ke arah Salma tanpa peduli jika di sampingnya ada Kafa yang kini juga sedang memperhatikannya.


"Ghozi!" panggil Kafa yang heran melihat Ghozi malah melamun.


"Hey, Ghozi!" Kafa mencoba sekali lagi menyadarkan Ghozi yang masih setia melamun.


"Eh, i~iya kenapa?" sahut Ghozi gugup.


"Kamu ngelamun?" tanya Kafa sambil menyipitkan mata menatap curiga ke arah Ghozi yang terlihat gugup.

__ADS_1


"Tidak, aku hanya memastikan saja apa benar itu Tari sama Salma," elak Kafa.


"Mereka Salma dan Tari, dan aku yakin seratus persen jika mereka menyelinap kabur dari pesantren dan pergi jalan-jalan ke sini," ujar Kafa mulai menduga-duga.


"Jangan su'udhon dulu! belum tentu mereka kabur, kalau Ummi yang memberi izin bagaimana?" sahut Ghozi yang mengerti dengan pasti sifat kedua gadis yang kini ada di hadapan mereka, meski Ghozi baru mengenal keduanya, tapi Ghozi begitu mengerti kepatuhan dan pendirian Salma juga Tari yang tak akan melanggar ataupun mengecewakan Ummi.


"Kenapa kamu bisa seyakin itu?" Kafa kembali menatap curiga ke arah Ghozi.


"Karena mereka gadis baik-baik, dan selama ini mereka juga selalu patuh dengan perintah Ummi, jadi aku yakin mereka tidak akan pergi tanpa izin dari Ummi," Ghozi mencoba membuang rasa curiga yang tampak jelas di wajah Kafa.


"Aku tidak yakin dengan ucapanmu, biar aku menangkap basah dan mengintrogasi mereka." Ujar Kafa berdiri berjalan mendekat ke arah Salma dan Tari yang masih asyik berbincang di mejanya. Dan Ghozi yang sejak tadi mencoba meyakinkan Kafa kini tak bisa mencegah langkahnya.


"Khem," deheman Kafa mengalihkan perhatian Salma dan Tari yang sejak tadi asyik mengobrol sambil menikmati seporsi serabi di hadapan mereka.


"Mas Kafa," gumam Salma saat menoleh ke sumber suara dan terlihat Kafa berdiri tegak di sampingnya sambil melipat kedua tangan.


"Kenapa? kalian kaget lihat aku?" seru Kafa.


"Tidak, biasa saja, Mas Kafa ngapain ke sini? mau iku gabung?" jawab Tari yang sejak tadi terlihat biasa saja.


"Gabung?" ujar Ghozi menatap bingung ke arah Tari yang sama sekali tak terlihat merasa bersalah ataupun takut.


"Iya, eh ada Ghozi juga, sini gabung sama kita!" ajak Tari saat melihat Ghozi berjalan mendekat.


"Tidak, terima kasih, aku udah makan tadi," jawab Ghozi sambil duduk si samping Tari.


"Apa kalian tidak merasa bersalah, atau takut di hukum oleh Ummi?" Kafa mulai mengintrogasi tanpa merubah posisi.


"Kenapa kami harus takut? kami Kan tidak melakukan kesalahan," jawab Tari.


Sejak tahu siapa Kafa dan bagaimana sifatnya Tari tak lagi mengagumi ketampanannya, dia justru bersikap seenaknya pada Kafa sama seperti Kafa yang selalu seenaknya sendiri.


"Kalian kabur dari pesantren dan makan di sini. Jika Ummi tahu akan hal ini maka kalian akan di hukum karenanya." Ujar Kafa dengan tatapan sinis.

__ADS_1


"Ha ha ha ha," tawa Tari terdengar begitu renyah dan lega membuat Kafa yang tadinya menatap sinis ke arahnya kini berubah menatap tajam ke arah Tari.


__ADS_2