
"Apa tidak ada pembahasan lain selain itu Zia? sekarang kita sedang menghadiri acara bukan sedang berkumpul untuk santai, apa pantas jika kita membahas hal yang tidak penting seperti itu?" jawab Ghozi.
Melihat sikap Ghozi membuat Salma begitu bingung, pasal nya sejak pertama kali bertemu sampai saat ini Salma tidak pernah melihat Ghozi bersikap begitu dingin dan sinis pada seorang gadis atau siapapun, sikapnya selalu lembut dan ramah, tapi kali ini sangat berbeda dari biasanya. Tapi Salma tidak bisa menanyakan apa yang sebenarnya terjadi, dia hanya bisa memendam rasa penasarannya dalam hati tanpa bisa mengungkapkannya.
"Sudahlah, kita bertemu di sini dengan keadaan sehat itu harusnya bersyukur, bukan malah ribut kayak gini, lebih baik kita makan sekarang! dan lupakan semua hal buruk yang pernah terjadi di antara kalian," sela Kafa memberi isyarat agar keduanya mengambil makanan dan makan bersama di tempat yang sudah di sediakan dari pada harus berdebat tidak jelas.
Melihat apa yang terjadi membuat Salma berfikir untuk pergi meninggalkan ketiga orang yang sedang berada di hadapannya itu, tapi langkahnya Terhenti saat Ghozi memanggilnya.
"Kamu mau ke mana Salma?" tanya Ghozi menghentikan langkah Salma saat dia hendak pergi meninggalkan ketiganya.
"Eh, aku mau balik ke dapur." Jawab Salma dengan nada kikuk yang terlihat jelas di wajahnya.
"Kamu mau ngapain lagi ke dapur, bukankah semua makanan sudah siap," sahut Ghozi.
"Aku mau cari Tari di sana," Salma kembali menggunakan nama Tari sebagai alasan.
"Kamu bisa bertemu dengannya nanti, tapi saat ini kamu juga harus menikmati makanan yang tadi kamu buat, ikutlah bergabung bersama dengan kita!" ajak Ghozi dengan tatapan penuh rasa kagum dan penuh harapan agar Salma mau menuruti apa yang dia inginkan.
Salma terlihat begitu ragu untuk menuruti ajakan Ghozi, sejenak dia melirik ke arah Zia dan Kafa secara bergantian, dan lirikan Salma sukses di lihat oleh Kafa.
"Ikutlah!" Kafa yang merasa jika Salma takut padanya untuk mengiyakan ajakan Ghozi kini mulai memberi izin untuk Salma meski tidak secara langsung tapi cukup memberi isyarat bahwa Kafa mengizinkan Salma ikut bergabung bersama yang laìn.
"Baiklah," Salma menyetujui permintaan Ghozi, dia berjalan mengikuti langkah ketiganya untuk mengambil beberapa makanan yang akan mereka nikmati.
"Duduklah! kamu bisa duduk di manapun yang kamu mau," ujar Ghozi saat dia melihat keraguan terpancar jelas di wajah Salma saat ini.
"Terima kasih," ucap Salma saat Ghozi menarik kursi untuknya.
__ADS_1
Apa yang di lakukan Ghozi sukses membuat Kafa jengkel, mau bagaimanapun Salna adalah calon istrinya dan Kafa kurang suka jika ada yang berusaha merebut hati Salma dengan cara bersikap lembut padanya, apa lagi jika hal itu di lakukan di hadapannya.
"Khem," Kafa berdehem mencoba menyadarkan Ghozi dan Salma jika saat ini sedang ada dia di hadapan keduanya.
Ghozi yang mendengar dan melihat Ghozi langsung menunduk menyadari jika saat ini orang yang dia perlakukan dengan lembut itu merupakan calon istri dari sahabat sekaligus putera dari pemilik pesanten tempat Ghozi menimbah ilmu saat ini.
"Ngomong-ngomong, kita belum kenalan, kenalin namaku Zia," ujar Zia sambil mengulurkan tangan.
"Aku Salma," sahut Salma meraih uluran tangan Zia dengan senyum yang terlihat begitu ramah dan manis.
"Kamu di sini nyantri ya?" tebak Zia mencoba mengakrabkan diri dengan Salma yang terlihat spesial di mata Ghozi laki-laki yang mampu menggoyangkan iman Zia.
"Iya, aku santri di sini, tapi baru beberapa bulan yang lalu," jawab Salma.
"Pantas saja aku baru melihatmu," ujar Zia.
Ketiganya kembali makan dengan tenang hingga semua yang ada di piring masing-masing tandas tak tersisa.
"Apa makanan yang barusan aku makan itu masakanmu?" tanya Zia setelah makanan di piringnya tandas tak tersisa.
"Bukan cuma aku yang masak, ada Tari sahabatku dan santri lain yang juga ikut membantuku." Jawab Salma yang terlihat begity rendah hati dan sama sekali tidak mau di puji.
"Masakan ini rasanya enak sekali, aku jadi iri padamu," ucap Zia.
"Iri kenapa Mbak Zia?" tanya Salma.
"Jangan panggil Mbak, aku masih muda panggil saja aku Zia!" sahut Zia yang kurang suka di panggil Mbak oleh Salma.
__ADS_1
"Baiklah, Zia," Salma memperbaiki panggilannya.
"Aku tidak bisa masak sepertimu, dan hal itulah yang membuat aku iri," jawab Zia.
"Aku juga tidak sepandai yang kamu kira Zia, aku juga masih banyak belajar," ujar Salma mencoba membesarkan hati Zia yang terlihat tidak percaya diri.
"Salma!" kali ini Kafa buka suara, dia yang kurang menyukai jika Salma ikut bergabung di sana memilih untuk memberikan Salma perintah.
"Iya, Mas Kafa," sahut Salma seraya mengalihkan pandangannya ke arah Kafa yang kini beralih menatapnya.
"Kembalilah ke dapur! Ummi pasti sedang mencarimu," titah Kafa.
"Baik, Mas Kafa," sahut Salma, seperti biasa dia tidak akan bisa melawan ataupun membantah perintah yang di berikan oleh Kafa.
"Ghozi, Zia aku balik ke daour dulu. Assalamualaikum." Pamit Salma berdiri kemudian melenggang pergi setelah mendapat senyuman serta anggukan dari Zia, sedang Ghozi hanya menatapnya sekilas kemudian mengalihkan pandangannya ke arah ponsel yang sempat bergetar.
"Waalaikum salam," jawab ketiganya.
Acara reuni terus berlanjut, Zia dan Kafa terus membicarakan hal ya g pernah terjadi sewaktu mereka bersekolah dulu, tapi Ghozi sama sekali tidak bergeming, dia diam seribu bahasa, Ghozi lebih memilih fokus menatap ponselnya dari pada ikut bergabung mengobrol bersama Zia dan Kafa.
Melihat ada yang aneh dalam diri sang sahabat, Kafa hanya bisa diam memperhatikannya, karena tidak mungkin dia bertanya saat ini di hadapan Zia karena mereka baru bertemu setelah beberapa tahun tidak bertemu.
"Alhamdulillah acaranya tahun ini lancar, semoga acara seperti ini bisa terus terlaksana dan berjalan selancar ini," Zia mengutarakan harapannya.
"Semoga saja," sahut Kafa, sedang Ghozi terlihat masih sibuk dengan ponsel yang dia genggam.
Jika Kafa sedang bersama dengan Ghozi dan Zia membahas hal yang penting sampai yang tidak penting, maka berbanding terbalik dengan Salma yang kini terlihat begitu sibuk membersihkan semua bekas makan para tamu yang jumlahnya cukup banyak, rasa lelah yang dia rasakan seolah tak bisa lagi di bendung, sejak pagi hingga siang yang hampir berganti sore Salma sama sekali belum beristirahat, dia hanya pergi untuk sholat kemudian kembali melanjutkan pekerjaan yang menumpuk.
__ADS_1