Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Sejak Kapan Mas Kafa Mencintai Salma?


__ADS_3

Ghozi berusaha membuat Kafa mengerti dengan apa yang di rasakan Salma saat ini agar dia tidak mengganggunya dan membiarkan Salma sendiri untuk beberapa waktu ke depan.


"Apa Kamu mengerti maksudku?" tanya Ghozi yang melihat Kafa tak merespon ucapannya, dia terdiam menatap kosong ke arah depan, Kafa terlihat sedang berfikir.


"Baiklah, aku janji tidak akan mengganggunya tapi biarkan aku tetap berada di dekatnya saat ini meski dia tidak tahu itu," ujar Kafa.


"Kalau Mas Kafa memang bisa menahan diri datanglah! aku ada di taman dekat rumah," jawab Ghozi, sebenarnya Ghozi ingin melarang Kafa datang, tapi Ghozi sangat mengerti jika dirinya tidak punya hak apapun untuk melarang Kafa datang.


Salma masih saja diam dengan air mata yang masih mengalir, meskipun air mata itu tidak lagi mengalir sederas tadi tapi Salma terlihat masih belum puas menumpahkan rasa sakit di hatinya.


"Semoga setelah ini tak lagi ada air mata yang keluar dari pelupuk matamu kecuali air mata kebahagiaan," lirih Ghozi sambil menatap lekat ke arah Salma.


Kafa melajukan motornya dengan kecepatan cukup tinggi, dalam benaknya saat ini dia harus segera sampai dan bertemu dengan Salma, melihat istri kecilnya itu menangis cukup membuat hatinya sedih dan terasa perih, rasa cinta yang baru saja hadir dan di sadari kafa kini mulai membuat Kafa kelimpungan kala orang yang di cinta itu merasa kecewa karena dirinya.


'Tunggu aku Salma!' batin Kafa berharap Salma masih ada di sana.


Kafa terus melajukan motornya dengan kencang hingga dia sampai di taman yang tak jauh dari rumahnya. Ghozi langsung mencari keberadaan mobil Ghozi hingga dia menemukan mobil itu terparkir cantik di tempat parkir.


Ddddrrrrtt ... dddrrrrtt ... ddddrrrrtttt .....


Ponsel yang baru saja di simpan oleh Ghozi kini kembali berdering,mengusik setiap renungan yang Ghozi lakukan.


"Assalamualaikum, ada apa Mas Kafa?" ujar Ghozi sesaat setelah Kafa menutup sambungan video call nya.


"Kamu ada di sebelah mana?" sahut Kafa tanpa menjawab Salam Kafa.


"Jawab dulu salamnya Mas Kafa, baru tanya yang lain," pesan Salma.


"Waalaikum salam," Kafa menjawab salam yang tadi di ucapkan oleh Ghozi.

__ADS_1


"Aku ada di bangku sebelah selatan taman, Mas Kafa langsung saja ke sini!" jelas Ghozi.


"Tunggu aku!" sahut Kafa langsung berjalan cepat menuju tempat yang di maksud oleh Ghozi.


"Dasar tukang gengsi, udah tahu kalau kamu mulai cinta ke Salma tapi masih aja gak mau ngaku," lirih Ghozi saat melihat sambungan telfon dari Kafa telah mati.


Ghozi kembali memperhatikan Salma yang kini terlihat jauh lebih tenang dari tadi, air mata yang tadi mengalir dengan derasnya kini terlihat mulai berkurang, Ghozi bersyukur akhirnya Salma bisa menuntaskan segala rasa sakit dan kecewanya meski bukan Ghozi yang dia jadikan sandaran, tapi Ghozi cukup lega karena Salma masih mau meminta tolong padanya.


"Mana Salma?" tanya Kafa sesaat setelah dia menemukan Ghozi.


"Noh, orangnya lagi mewek, lain kali kalau gak suka dan masih punya pacar jangan di nikahi! kasih aja ke aku, di jamin seribu persen aku bakal nerima kalau ceweknya kayak Salma," ucap Ghozi.


"Aku gibeng juga kau, lama-lama makin ngelunjak saja," hardik Kafa dengan tatapan cukup menusuk hati.


"Aku cuma bercanda Mas Kafa, serius amat," tanggap Ghozi yang kini terswnyum ke arah Kafa.


"Sejak kapan?" sahut Ghozi.


"Maksudmu apa?" tanya Kafa penasaran dengan maksud dari apa yang Ghozi tanyakan.


"Sejak kapan Mas Kafa mencintai Salma?" Ghozi menjelaskan maksud dari pertanyaannya.


Kafa tidak menjawab pertanyaan Ghozi, dia lebih memilih mengalihkan pandangannya ke arah Salma dari pada menjawab pertanyaan Ghozi yang sebenarnya Kafa sendiri tidak tahu jawabannya.


Salma yang sejak tadi duduk menatap kosongke arah depan kini mulai berdiri, dia terlihat berbalik hendak menghampiri Ghozi, apa yang di lakukan Salma membuat Kafa gelagapan, tanpa berfikir panjang Kafa langsung berlari mencari tempat untuk bersembunyi agar Salma tidak melihatnya, sedangGhozi hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah Kafa saat ini, Kafa seperti seorang pengagum rahasia yang taku ketahuan sang idola.


"Ghozi!" panggil Salma lirih dengan nada lembut.


"Iya, ada apa Salma?" sahut Kafa.

__ADS_1


"Aku lapar, apa kamu bisa mengantarkanku mencari makan?" ucap Salma.


Ghozi tidak langsung mengiyakan permintaan Salma, dia melirik ke arah Kafa bersembunyi yang berada tepat di belakang Salma berdiri saat ini, Ghozi mengangkat alis dan kepala seolah meminta persetujuan Kafa sang suami.


Kafa yang mengerti dengan kode yang di berikan Ghozi langsung mengangguk sebagai tanda jika Kafa mengizinkan Ghozi untuk mengantar Salma.


"Baiklah, kamu mau makan apa?" tanya Ghozi dengan suara sedikit keras agar Kafa mendengar apa yang sedang dia bicarakan dengan Salma.


"Apapun asal aku bisa kenyang karenanya," jawab Salma.


"Baiklah, ayo kita makan nasi padang di ujung jalan tadi!" ajak Ghozi kembali mengeraskan suara agar Kafa mendengar, dan apa yang di harapkan Ghozi terjadi, Kafa mengangguk sebagai jawaban kalau dia setuju dan mengizinkan Ghozi pergi bersama Kafa.


Setelah mendapat persetujuan dari Kafa, Ghozi langsung berjalan masuk ke dalam mobil di susul Salma yang memilih duduk di jok tengah, Kafa tersenyum melihat Ghozi dan Salma yang ternyata saling menghargai dan membatasi diri, hal ini membuat Kafa semakin yakin kalau Salma memang gadis yang baik dan sangat cocok untuk di jadikan istri, dan Ghozi memang dapat di percaya untuk menemani Salma.


"Kita mau makan apa Ghozi?" tanya Salma setelah di dalam mobil.


'Tadi bilangnya mau makan apapun, tapi sekarang malah nanya mau makan apa? jangan bilang kamu mau makan makanan yang tidak ada di warung yang akan kita tuju,' batin Ghozi merasa bingung dengan Salma.


"Kita mau makan nasi pecel," jawab Ghozi.


"Aku ingin makan nasi padang, apa di situ juga ada nasi padang?" sahut Salma mengutarakan apa yang dia inginkan.


'Dasar gadis, membingungkan sekali, tadi katanya mau makan apapun, sekarang malah mau makan nasi padang,' batin Ghozi kembali berkomentar sedang mulutnya terkunci rapat.


"Baiklah, kita akan makan nasi padang," jawab Ghozi pasrah hanya bisa mengikuti keinginan Salma.


'Semoga saja Mas Kafa masih mengikuti mobil ini di belakang, kalau tidak dia pasti salah faham, di kira aku mau macam-macam karena tidak ke tempat tadi yang aku bilang,' lagi-lagi Ghozi hanya bisa membatin tanpa bisa bicara.


Apa yang di katakan batin Ghozi menjadi nyata karena kini Kafa yang mengikuti mobil Ghozi mulai berfikir yang tidak-tidak setelah melihat mobil Ghozi melaju ke arah yang berbeda dengan warung yang tadi dia katakan.

__ADS_1


__ADS_2