
"Maaf Mbok, aku kelepasan," sahut Tari mengacungkan dua jari tengah dan telunjuk sebagai tanda perdamaian.
"Sudah, jangan bercanda terus! selesaikan dulu masaknya! baru bercanda," Mbok Bat mengingatkan Salma dan Tari yang sejak tadi sibuk bercanda dan membahas hal yang tidak penting.
"Siap Mbok," sahut keduanya hampir bersamaan.
Keduanya kembali melanjutkan pekerjaan, memasak dengan gerakan yang cukup cekatan hingga semua masakan terselesaikan dengan tepat waktu.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," lirih Tari seraya mencuci tangannya yang kotor.
"Syukurlah semuanya terselesaikan tepat waktu, jika tidak kasihan para santri yang menunggu," sahut Salma yang kini bergantian mencuci tangan.
"Sekarang ayo ke tempat penjualan, hal yang paling bikin seneng, makanan masakan kita di serbu para santri," ujar Tari dengan penuh semangat berjalan menuju tempat pengambilan makanan saat santri hendak makan.
"Kamu ada-ada aja Tari," timpal Salma sambil menggelengkan kepala menatap aneh ke arah Tari yang selalu bertingkah aneh.
"Biarin aneh yang penting happy, Salma," sahut Tari sambil menata beberapa lauk dan sayur untuk di pilih para santri nanti sedang Salma berjalan menuju tempat nasi karena dia bertugas mengambilkan nasi untuk para santri.
Bagi Salma dan Tari melayani para santri mengambilkan makanan untuk mereka merupakan hal yang menyenangkan, mereka berasa berjualan dengan larisnya, sangat berbeda dengan apa yang harus mereka alami dulu, diam menunggu pembeli sambil melihat orang yang hilir mudik di hadapan mereka.
"Alhamdulillah, selesai juga," cicit Tari sambil menyandarkan diri di sandaran kursi menikmati setiap denyut rasa ngilu yang mulai merasuki tubuh.
"Ayo makan! istirahatnya nanti dulu, laper aku," ajak Salma.
"Tumben, biasanya kamu paling males makan," sahut Tari yang langsung berdiri mengikuti langkah Salma untuk mengambil piring.
"Menghadapi kenyataan itu butuh tenaga Tari, dan aku sedang ngumpulin tenaga biar bisa terima kenyataan yang ada," jawab Salma membuat Tari bingung, dia mengerutkan dahi menatap penuh penasaran ke arah Salma.
"Terima kenyataan bagaimana maksudmu Salma?" tanya Tari.
"Sudahlah, kita makan aja dulu, karena cerita juga butuh tenaga," Salma tak menjawab pertanyaan Tari, dia malah kekeh mengajak Tari untuk makan.
__ADS_1
"Astaga, kamu bicara seolah-olah tak punya tenaga sama sekali," beo Tari.
"Tenagaku sudah habis untuk menguatkan diri semalam," tutur Salma.
"Emangnya kamu habis ngapain semalam? perasaan semalam kamu pergi juga buat makan dan itu artinya kamu lagi ngisi tenaga, kenapa jadi kehabisan tenaga begini?" Tari merasa semakin aneh dan penasaran dengan apa yang terjadi semalam.
"Makanannya emang enak dan bikin tenaga full, tapi ngadepin putera Ummi yang tatapannya tajam bikin tenagaku terkuras habis," helas Salma.
"Hah? kok bisa gitu ya?" lirih Tari semakin merasa aneh dengan ucapan Salma yang kini sudah berjalan lebih dulu mengambil beberapa makanan yang ingin dia makan dan menikmatinya di tempat biasa dia menikmati makanan.
"Makan yang banyak! biar kuat ngadepin kenyataan," seru Mbok Bat yang kebetulan lewat di sebelah Salma sambil menepuk pelan bahunya.
"Astaghfirullah, Mbok Bat!" seru Salma terkejut dengan kedatangan Mbok Bat yang tiba-tiba.
"Kenapa?" sahut Mbok Bat santai tanpa ada rasa bersalah sedikitpun meski telah mengejutkan Salma.
"Mbok, ngagetin aja," keluh Salma.
"Si Mbok bisa aja, siapa juga yang ngelamun, Salma hanya sedang khusuk menikmati makanan yang Mbok masak ini, karena masakan Mbok Bat rasanya enak banget," sahut Salma membuat Mbok Bat tersenyum karenanya.
"Susah di lanjut saja makannya! Mbok mau lanjut cuci piring." Pamit Mbok Bat.
"Mbok gak ikut makan juga?" pertanyaan Salma mencegah langkah Mbok Bat yang hendak pergi menuju tempat cuci piring.
"Mbok sudah makan tadi pas kamu dan Tari sibuk melayani para santri," jawab Mbok Bat kemudian pergi meninggalkan Salma.
"Aku tahu kamu kelaperan Salma, tapi gak perlu ninggalin aku juga kali," gerutu Tari yang baru saja datang dengan satu porsi penuh makanan di piringnya.
"Kamu kelamaan," sahut Salma santai sambil melanjutkan kembali acara makannya.
"Ishhh dasar kau, sahabat gak setia," Tari masih saja menggerutu tapi kali ini Salma memilih diam tak menyahuti Tari.
__ADS_1
Sarapan kali ini benar-benar di penuhi drama, Salma yang biasanya santai dan tak banyak bicara sekarang terdengar mengeluh, Kafa benar-benar membuat Salma kehabisan tenaga, entah bagaimana Salma melewati kehidupannya selanjutnya jika dia benar-benar berjodoh dengan Kafa.
"Mbak Salma!" panggil seorang santri saat melihat Salma hendak pergi ke kamar mandi.
"Iya, ada apa Mbak?" sahut Salma sambil menghentikan langkahnya.
"Mbak di panggil Mas Kafa, katanya ada perlu dan Mbak di suruh menemuinya di halaman belakang!" jawab Sang Santri.
"Astaghfirullah, cobaan ala lagi ini? pagi-pagi sudah di panggil si mata tajam," keluh Salma.
"Mata tajam bagaimana maksudnya Mbak Salma?" tanya Sang santri yang tadi menyampaikan pesan dari Kafa.
"Eh tidak ada, aku cuma asal ngomong aja, oh ya Mbak boleh tidak aku minta tolong?" tanya Salma dengan ekspresi penuh harap.
"Minta tolong apa Mbak?" Sang Santri kembali bertanya.
"Tolong sampaikan ke Mas Kafa kalau aku lagi di kamar mandi, bilang aja lagi mandi dan aku datangnya agak telat! apa kamu mau menolongku?" jelas Salma.
"Tapi aku takut dosa Mbak, maaf ya," tolaknya dengan halus.
"Tolong donk! aku baru saja selesai babtu masak di kantin, belum cucu muka dan ganti baju, badanku rasanya lengket banget, apa kamu tidak kasihan melihatku, wajahku juga kusam," Salma menunjukkan ekspresi wajah memelas agar sang santri mau menyampaikan apa yang dia katakan.
"Baiklah, aku akan mengatakannya, tapi Mbak Salma jangan lama-lama mandinya! kasihan Mas Kafa kalau harus nunggu kelamaan, karena mungkin dia butuh sesuatu makanya manggil Mbak Salma," pesan sang santri yang terdengar begitu perhatian pada Kafa si mata tajam.
'Hadeuch, orang kayak Kafa aja di kasihani, harusnya yang di kasihani itu aku, ishhh malang kali nasibku ini,' batin Salma dengan ekspresi memelas yang kini tampat di wajahnya akibat dia membatin begitu dalam.
"Mbak Salma baik-baik saja Kan?" tegur Sang Santri yang melihat Salma melamun sambil menampakkan wajah sedihnya.
"Gak apa-apa, aku baik kok, tenang aja, jangan lupa pesanku pada Mas Kafa ya Mbak!" pesan Salna.
"Dan satu lagi, terima kasih banyak," seru Salma menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Sang Dantri yang masih diam di tempat tak bergerak sedikitpun.
__ADS_1
"Iya," jawabnya dengan suara sedikit keras karena Salma telah berjalan jauh dari tempatnya berdiri.