
"Apa wajahku terlihat sebingung itu sampai kau berkata demikian Ghozi?" Salma tak mengatakan apa yang terjadi tapi malah bertanya pada Tari.
"Lumayan, wajahmu terlihat lumayan bingung saat ini," jawab Ghozi.
"Padahal hari ini aku tidak bingung, mungkin kamu salah menafsir," elak Salma.
Meski sebenarnya apa yang di katakan oleh Ghozi memang benar adanya, tapi Salma tak ingin dia tahu tentang apa yang di rasakannya saat ini, bagaimanapun Ghozi bukanlah Tari yang bisa mengetahui segala rasa yang ada di hatinya.
"Alhamdulillah jika kamu tidak bingung dan tafsiranku salah, karna aku akan jadi pilar yang kokoh untuk kau pegang dan bersandar saat kau bingung nanti," ujar Ghozi sambil menunjukkan deretan giginya yang putih bak salju dan tertata rapi.
"Hah? kamu bilang apa tadi?" Salma sedikit terkejut mendengar ucapan Ghozi yang terdengar sedikit merayunya kali ini, dan apa yang di ucapkan Ghozi benar-benar mengejutkan Salma.
"Tidak ada siaran ulang Salma, karena ini bukan kuis tanya jawab," jawab Ghozi yang masih setia tersenyum di tempatnya.
"Sudahlah, aku tidak akan memaksa orang untuk berkata ulang karena aku bukan tipe orang pemaksa, tapi ngomong-ngomong kamu mau ke mana?" Salma yng memang bukan tipe pemaksa dan ingin tahu urusan orang kini lebih memilih mengalihkan pembicaraan.
"Aku mau ke ruang makan nemuin Ummi, kami sendiri mau ke mana?" jawab Ghozi.
'Wah kebetulan sekali, aku juga mau ke sana syukurlah kalau Ghozi juga ikut ke sana, jadi aku tidak terlalu canggung dan takut karena ada Ghozi di sana,' batin Salma.
"Hey! kenapa jadi diam begitu?" tegur Ghozi yang melihat Salma kembali bengong.
"Eh, siapa juga yang diam? ayo ke ruang makan! Ummi tadi menyuruhku ke sana juga," ujar Salma sambil tersenyum tipis ke arah Ghozi.
Ghozi hanya tersenyum melihat tingkah Salma saat ini, mau bersikap bagaimanapun Salma terlihat begitu cantik dan mempesona membuat Ghozi begitu mengaguminya.
__ADS_1
"Kok sepi?" spontan Salma saat melihat ruang makan yang tadi dia tinggalkan kini terlihat sepi tak berpenghuni.
"Jangan kaget begitu! Ummi dan Kafa pasti masih di kamar, menata barang sambil bercerita," jawab Ghozi yang kini malah duduk di kursi meja makan setelah membalik posisinya.
Ghozi terlihat santai dan mulai memainkan ponselnya, dia terlihat sudah biasa dengan apa yang terjadi saat ini, sedangkan Salma justru terlihat bingung dengan apa yang harus dia lakukan saat ini.
"Sudah ku bilang jangan bingung Salma! kamu duduk saja! sebentar lagi Ummi dan Kafa juga akan keluar menemui kita," ujar Ghozi yang kini sedang memperhatikan sikap juga ekspresi Salma.
"Apa yang kamu katakan kali ini benar Ghozi, aku jadi bingung, kita di suruh ke sini, tapi Ummi nya gak ada," sahut Salma mengatakan apa yang terjadi sebenarnya.
"Sudah jangan bingung! tunggu dan duduk saja di kursi yang ada!" titah Ghozi mencoba meyakinkan Salma agar tidak lagi bingung dengan apa yang harus dia lakukan.
Tanpa menjawab, Salma langsung duduk menarik kursi yang ada di meja makan tepat di hadapan Ghozi.
"Siapa yang bingung?" suara Ummi terdengar sedikit keras dan terkejut setelah mendengar ucapan Ghozi.
"I~iya, Ummi," jawab Salma gugup, ini pertama kalinya dia berbohong pada Ummi, Salma memang pernah berbohong tapi dia hanya berbohong pada teman di saat terdesak saja, dia tidak pernah berbohong pada orang tua.
Kafa yang berdiri di belakang Ummi dan memperhatikan apa yang tetjadi tersenyum miring seolah mengerti apa yang sebenarnya terjadi.
"Kalau kamu masih belum mengerti dengan penjelasan Ghozi, kamu bisa bertanya pada putera Ummi," ujar Ummi membuat Salma terkejut bercampur takut.
Tatapan mata Kafa saat ini terlihat tidak bersahabat, sejak pertemuan tadi Kafa kurang menyukai Salma, dia mengira Salma ada gadis yang suka berbohong dan memanfaatkan kebaikan Ummi untuk kepentingannya sendiri.
"Kamu boleh tanya sama aku, tenang saja aku akan jelaskan sedetail mungkin jawaban dari pertanyaan yang akan kau tanyakan nanti," sahut Kafa dengan sedikit penekanan di setiap kata dan senyum devil yang terlihat jelas di wajahnya.
__ADS_1
Salma bergidik ngeri mendengar dan melihat ekspresi wajah Kafa yang nampak saat ini, sungguh apa yang dikatakan Tari tentang kebaikan yang mungkin di turunkan oleh Ummi dan Abah pada Kafa sama sekali tak terlihat oleh Salma, sikap Kafa benar-benarberbeda dengan Ummi dan Abah mereka bagai bumi dan langit.
"Kenapa kalian jadi diam semua?" seru Ummi saat melihat ketiga orang yang ada di sekitarnya hanya diam tanpa ada yang membuka suara.
Ketiganya langsung menoleh ke arah Ummi yang sedang bertanya.
"Tidak apa-apa Ummi, aku hanya ingin diam saja," jawab Kafa.
"Dari pada diam seperti itu, lebih baik kita makan, Ummi dan Salma sudah memasakkan menu kesukaanmu, Nak, ayo duduk! kita makan bersama," ajak Ummi pada putera semata wayangnya itu.
"Salma? apa Ummi yakin dia bisa masak?" sahut Ghozi dengan ekspresi wajah penuh keraguan yang jelas terlihat di wajahnya.
"Kenapa Ummi tidak yakin? buktinya semua makanannya sudah siap fi atas meja Kafa," ujar Ummi.
"Tapi aku tidak yakin masakan Salma enak," Ghpzi kembali berucap.
'Dasar menyebalkan, jika saja Ibuku masih hidup dan aku tidak bertemu Ummi dengan keadaan seperti sekarang, sudah bisa aku pastikan jika aku gak bakal mau di jodohin sama cowok super nyebelin kayak kamu,' batin Salma mengoceh sendiri tanpa jeda.
"Di coba dulu! baru di nilai, benar Kan Ghozi?" Ummi melempar pertanyaan kepada Ghozi yang hanya diam memperhatikan interaksi antara Ummi dan Kafa.
Melihat cara Ummi berbicara dan bersikap membuat Ghozi sedikit curiga, dia begitu hafal sikap Ummi karena dia sudah lam berada di pesantren, Ummi akan bersikap seperti itu pada kandidat calon mantu yang dia pilih.
"Benar, Ummi," jawab Ghozi, meski ada sejuta tanya yang ada di kepalanya tak membuat Ghozi lupa jika saat ini dia sedang mencari ilmu di tempat Ummi dan dia tak bisa bersikap seenaknya.
"Baiklah, aku akan mencobanya." Ujar Kafa.
__ADS_1
Ke empatnya makan dengan tenang menikmati setiap menu yang sudah tersedia di atas meja, menu yang sudah susah payah di masak oleh Salma atas permintaan Ummi, tak ada lagi yang bersuara, karena ke empatnya selalu menerapkan adab makan yaitu tidak berbicara saat makan, hanya dentingan sendok yang kini menggema di ruangan tanpa ada kata yang terucap.