Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Pengganggu


__ADS_3

"Aku mengerti Mas," jawab Salma dengan senyum yang tetlihat sedikit di paksakan, Salma memang mulai menerima pernikahannya, tapi dia masih merasa tidak percaya jika Kafa mengatakan apa yang dia katakan barusan.


'Jika semua yang di miliki Kafa juga milikku, berarti aku kaya donk,' batin Salma yang mulai berfikir macam-macam.


"Aku bisa membenahi makan Ayah dan Ibu agar terlihat jauh lebih baik dari pada saat ini, " gumam Salma yang mulai berfikir banyak hal.


"Astaghfirullah, mikir apa aku ini? aku tidak ingin membuat Mas Kafa berfikir yang tidak-tidak tentangku, baru saja dia bilang miliknya juga milikku, aku langsung meminta hal-hal yang tidak ada hubungannya dengan keperluan rumah," Salma bergumam sendiri mencoba menyadarkan dirinya sendiri jika apa yang di fikirkannya barusan bukanlah hal yang baik untuk saat ini, padahal jika Salma mau mengatakannya pada Kafa, dia pasti akan mengabulkan apa yang Salma ucapkan tadi.


Salma mulai mengosongkan fikirannya seraya memejamkan mata menikmati suasana pantai dengan angin yang terasa begitu sejuk menerpa dirinya.


Nyes ....


Salma langsung membuka mata lebar merasakan sesuatu yang dingin menempel di pipinya.


"Mas Kafa," spontan Salma saat melihat Kafa datang dengan satu kelapa mudah yang sudah di lubangi atasnya dengan dua sedotan yang terlihat bertengger di sana.


"Lagi ngelamunin apa? sampai-sampai suami datang kamunya gak tahu," tanya Kafa dengan tatapan menyelidik yang menatap dalam ke arah mata Salma, seolah dia mencari jawaban di sana.


"Aku sedang menikmati angin pantai yang terasa begitu sejuk sambil bayangin es kelapa muda yang di belikan Mas Kafa," jawab Salma yang tak berani sepenuhnya jujur pada Salma.


"Ngapain di bayangin? sekarang kamu bisa langsing menikmatinya, aku sudah membelikannya untukmu," ujar Kafa.


"Loh, kok cuma satu, Mas?" tanya Salma menatap heran ke arah Kafa yang hanya membawa satu kelapa muda yang kini terlihat berair dan sangat menggiurkan karena sudah di beri es batu di dalamnya.


"Kata siapa ini satu, coba kamu lihat di dalam kelapanya! ada berapa sedotan!" titah Kafa.


"Ada dua," jawab Salma yang memang melihat ada dua sedotan di dalam kelapa muda yang sekarang di pegang oleh Kafa.


"Tunggu! jangan bilang kalau Mas Kafa ingin aku minum satu kelapa muda bersama dengan Mas Kafa," sambung Salma setelah menyadari maksud dari ucapan Kafa.


"Benar sekali, aku ingin kita minum ini berdua," Kafa tersenyum manis sambil menunjukkan satu es kelapa muda yang ada di tangannya.


"Kenapa tidak beli dua saja, Mas?" tanya Salma yang merasa tak enak jika harus minum es kelapa muda di satu wadah yang sama dengan Kafa, bukan apa-apa, Salma merasa sangat haus dan ingin melepas dahaga sepuasnya, kalau satu es kelapa muda seperti sekarang di satu kelapa muda untuk dua orang, bisa di pastika Salma tak bisa minum sepuasnya karena rasa tak enak hati pada Kafa yang pasti saat ini merasa haus juga, sama seprrti dirinya.


"Kalau aku beli dua mana bisa romantis Sayang," ujar Kafa santai.


Salma hanya bisa tersenyum manis ke arah Kafa, tidak mungkin dia mengatakan apa yang ada dalam fikirannya, karena apa yang di lakukan Kafa juga demi dirinya, Kafa benar-benar terlihat sedang berusaha mendekatkan dirinya dengannya dan mencoba meluluhkan hati Salma yang sebenarnya mulai menyukai Kafa, perlahan tapi pasti Kafa mulai membuat Salma mencintainya tanpa dia sadari.

__ADS_1


Sesungguhnya rasa cinta itu tumbuh saat seseorang itu merasakan sebuah kenyamanan, perhatian dan yang paling penting, dia bisa membuat seseorang itu merasa di butuhkan dan di hargai.


"Terserah Mas Kafa saja maunya bagaimana," ujar Salma mengalah.


"Ayo minum! katanya haus," ajak Kafa yang kini ikut duduk di bagasi belakang mobil.


Minum dalam satu wadah yang sama memberikan sensasi beerbeda ketikaminum dalam wadah yang sama, Salma merasakan rasa senang, dan gerogi juga deg deg'an yang bercampur jadi satu, jarak keduanya begitu dekat, Kafa menikmati es kelapa muda sambil menatap lekat ke arah Salma, sungguhperpaduan yang sangat sempurna, es kelapa muda yang manis dan segar berpadu dengan Wajah Salma yang cantik dan teduhmenenangkan jiwa siapapun yang memandangnya.


"Astaga, kapan kalian bisa sadar, ini tempat umum woii!!! bisa tidak mesra-mesraannya nanti setelah kalian sampai di rumah," ujar Ghozi yang baru saja sampai di mobil setelah tadi mendapat telfon dari Kafa jika dia mengajak Ghozi pulang.


"Kenapa kamu selalu saja datang di waktu yang tidak tepat, bisa tidak kamu datangnya nanti saja? PENGGANGGU," sahut Kafa sambil menekankan satu kata di akhir ucapannya.


"Kenapa jadi aku yang salah? datang telat salah, tepat waktu juga salah, dasar membingungkan," keluh Ghozi yangakhir-akhir ini sering di salahkan oleh Kafa.


Tadi Kafa menelfonnya dan menyuruh Ghozi kembali ke mobil untuk pulang, dan Ghozi yang selalu patuh pada putera dari gurunya itu langsung menuruti apa yang perintahkan tanpa membantah ataupun melawan ucapannya.


"Sudah jangan protes! kalau kamu mau minum kelapa muda pergi saja sana! aku beri waktu sepuluh menit sambil nunggu Mbok Sumik dan Arif datang, setelah itu kita langsung pulang," titah Kafa yang tidak ingin di ganggu oleh Ghozi, sedang Salma hanya diam tanpa kata, dia hanua memperhatikan apa yang terjadi di hadapannya tanpa melakukan protes sedikitpun.


"Lebih baik aku pergi cari minum saja dari pada jadi obat nyamuk lagi," sahut Ghozi melenggang pergi meninggalkan Kafa dan Salma yang masih setia duduk di bagasi mobil yang terbuka.


"Apa sikapmu tidak keterlaluan sama Ghozi? kasihan dia Mas, bukankah dia datang ke sini juga mengikuti perintahmu," ucap Salma merasa kasihan pada Ghozi yang selalu mendapat perlakuan kurang baik menurut Salma.


"Apa kamu mendengarnya Salma?" tanya Kafa saat Salma hanya diam membisu di hadapannya.


"Iya, Mas Kafa," jawab Salma sambil memutar bola mata jengah mendengar Kafa kembali memberi peraturan.


Kafa berdiri melenggang pergi meninggalkan Salma yang terdiam sambil memperhatikan setiap gerakan yang di lakukan oleh Kafa yang kini berjalan menjauh meninggalkannya menuju tempat penjualan kelapa muda. Kafa memilih duduk di samping Ghozi sambil menikmati suasana pantai yang masih terasa begitu asri nan indah, hali itu jauh lebih baik dari pada harus duduk di samping Salma yang tak bisa berhenti membicarakan rasa khawatirnya yang di tujukan pada laki-laki lain, meskipun laki-laki itu Ghozi, tetap saja Kafa tidak menyukainya ada sudut hati yang tercubit saat dia mendengar Salma mengkhawatirkan orang lain.


"Mas Kafa selalu saja memberikan peraturan dan larangan lagi, mana larangan yang di katakan Mas Kafa selalu saja tidak masuk akal," lirih Salma sambil menghembuskan nafas kasar.


Cukup lama Kafa menungguMbok Sumik dan puteranya yang baru saja datang.


"Maaf, Mbok terlambat ya," ujar Mbok Sumik tersenyum kaku ke arah Salma yang sedang duduk terdiam menatap laut lepas yang masih bisa di lihat dari tempat dia duduk.


"Tenang saja Mbok, Mas Kafa juga masih menikmati makanan di sana, jadi Mbok tidak perlu khawatir," jawab Salma mencoba menenangkan Mbok Sumik yang terlihat resah karenanya.


"Apa ini yang namanya Neng Salma Mbok?" tanya Arif yang berdiri di samping Mbok Sumik.

__ADS_1


"Kamu Arif puteranya Mbok Sumik bukan?" sela Salma sebelum Mbok Sumik menjawab pertanyaan Arif.


"Benar Neng, saya puteranya Mbok Sumik, salam kenal," jawab Arif dengan senyum ramah yang muncul di wajahnya.


"Salam kenal juga, maaf, aku tidak bisa menyapamu sejak tadi pertama kita bertemu," ujar Salma yang juga tersenyum ramah membalas senyum Arif.


"Masya allah, cantik dan ramah sekali Neng Salma ya Bu, pantes saja Mas Kafa jatuh hati padanya," ujar Arif memuji Salma.


"Kamu bisa saja, aku hanya orang biasa Arif, sama sepertimu," sahut Salma.


Apa yang di lakukan Salma tak luput dari perhatian Kafa, tanpa basa basi dia langsung berjalan mendekat ke arah Salma tanpa mengatakan apapun.


"Khem," dehem Kafa saat sampai di dekat Salma yang terlihat masih tersenyum manis ke arah Arif sebagai tanda jika Salma menghormati Arif.


"Mas Kafa," lirih Arif sedikit takut melihat tatapan tajam yang di tujukan padanya.


"Masuklah!" titah Kafa yang langsung di turuti oleh Mbok Sumik dan Arif, sedang Salma hanya bisa mengerutkan dahi bingung melihat sikap Mbok Sumik dan Arif yang terlihat ketakutan setelah mendengar perintah Kafa.


"Kamu juga, ayo masuk!" titah Kafa.


"Apa kita akan pulang sekarang, Mas?" tanya Salma.


"Kalau kamu mau menginap di sini silahkan! tapi aku mau pulang sekarang." Jawab Kafa dengan nada dingin.


Salma langsung masuk ke dalam mobil ke dalam mobil setelah mendengar ucapan pedas dari Kafa.


'Kenapa Mas Kafa terlihat marah ya? apa salahku?' batin Salma.


"Ghozi! cepat masuk mobil, kita pulang sekarang!" Kafa kembali memberi perintah kemudian masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Salma.


"Mas, sempit," keluh Salma karena Kafa duduk tepat di sampingnya tanpa memberi cela sedangkan di samping Kafa masih ada bangku yang kosong.


Bukannya bergeser Kafa malah duduk semakin merapat ke sisi Salma kemudian menarik bahu Salma meletakkan kepala Salma telat di pahanya.


"Tidurlah!" titah Kafa.


Salma yang bingung tak lagi bisa bergerak ataupun memberontak karena saat ini Kafa memegang pundaknya dengan tangan kirinya sedang tangan yang kanan mengusap lembut kepala Salma yang tertutup rapi oleh kerudung.

__ADS_1


'Apa Mas Kafa cemburu ya? atau dia marah karena melihat aku mengobrol dengan Arif barusan? tapi Arif aku cuma ngobrol biasa, lagi pula aku lebih tua dari Arif untuk apa Ms Kafa cemburu,' batin Salma terus berasumsi seiring dengan laju mobil yang melaju meninggalkan pantai.


__ADS_2