
Mendengar suara yang sudah dia hafal membuat Salma sedikit terkejut, dia langsung berbalik dan melihat siapa yang baru saja memanggilnya.
"Astaghfirullah, Ghozi, kamu bikin kaget saja," seru Salma sambil mengusap pelan dadanya.
Ghozi mengernyitkan dahi bingung melihat Salma yang terlihat sangat terkejut hanya karena pertanyaannya barusan.
"Memangnya kamu lagi cari siapa?" Ghozi kembali bertanya saat tadi pertanyaannya tidak mendapatkan jawaban.
"Tadi aku lagi nyari Tari," jawab Salma spontan, dia yang bingung harus menjawab apa akhirnya memilih untuk menjawab pertanyaan Ghozi dengan sebuah kebohongan.
'Tari, maaf, aku pinjam namamu ya,' batin Salma meminta maaf pada Tari yang dia manfaatkan sebagai alasan.
"Aku kira kamu lagi perhatiin apaan, tapi sejak tadi aku tidak melihat Tari si sekitar sini," ujar Ghozi.
'Pantaslah kalau kamu gak lihat, orang anaknya ada di dapur sejak tadi, justru akan aneh kalau kamu sampai lihat Tari di sini,' batin Salma kembali menyahut sedang dirinya terdiam mematung dan sibuk dengan pemikirannya sendiri.
"Salma! kenapa kamu jadi melamun seperti itu?" tanya Ghozi menatap heran ke arah Salma yang terdiam mematung di depannya.
"Eh, melamun, siapa yang melamun? aku tidak melamun," jawab Salma yang mengelak jika dirinya tengah melamun.
"Sejak tadi aku perhatikan kamu hanya diam dengan tatapan kosong, jika bukan melamun terus apa namanya?" ujar Ghozi.
"Aku tidak melamun, aku tadi cuma lagi mikir sambil lihat-lihat keadaan, apa ada yang perlu di tambahkan atau tidak." Salma lagi-lagi berbohong, begitulah orang yang berani berbohong maka akan terus berbohong demi menutupi kebohongan yang lainnya.
__ADS_1
"Oh, aku kira kamu sedang melamun," ucap Ghozi.
"Ghozi!" panggil Zia dengan mata yang terlihat berbinar menatap lekat ke arah Ghozi yang terlihat biasa saja menanggapi sapaan Zia.
"Iya, kenapa?" sahut Ghozi, dia terlihat bersikap dingin dan kurang bersahabat pada Zia.
"Kenapa kamu masih saja sinis padaku Ghozi? memangnya aku melakukan kesalahan yang berat sampai kamu terlihat sebenci itu padaku," tanya Zia.
Flash back on ....
Dulu mereka bersahabat sangat akrab sejak SMP, tapi persahabatan itu berubah tak ada lagi Ghozi yang ramah dan penuh canda tawa, semua seakan berubah seratus delapan puluh derajat sejak Zia mengutarakan isi hatinya.
Saat itu lulusan sekolah, seperti biasa Zia dan yang lain berkumpul untuk merayakannya, mungkin terdengar tidak etis jika sekolah dalam pesantren siswa laki-laki dan perempuan bisa bersama tapi inilah kenyataannya, Ghozi, Kafa, Bella dan Zia adalah pengurus osis mereka berkenalan dan akrab sejak resmi menjadi pengurus osis dan Kafa sebagai ketuanya.
Semua orang sibuk menyiapkan acara perpisahan semalam, dekorasi panggung catering, jamuan untuk para tamu dan persiapan acara penghibur, semuanya sudah siap tinggal menunggu hati H saja, kesibukan semua anggota baru saja selesai, Zia yang sejak tadi terlihat sangat sibuk kini sedang duduk bersantai di samping taman di mana ada Ghozi di sana.
"Iya, Zia, kenapa?" sahut Ghozi tanpa menoleh ke arahnya karena dia terlalu menyukai pemandangan yang kini memanjakan mata.
"Ada sesuatu yang ingin aku katakan padamu," tutur Zia.
"Apa? katakan saja apa yang ingin kamu katakan! bukankah biasanya kamu selalu cerewet," jawab Ghozi.
Ghozi memang terkenal dengan kebaikan dan keramahannya, dia selalu melakukan hal yang menurutnya terbaik untuk orang lain, termasuk menolong siapapun tanpa pamrih, apa lagi pada sahabatnya, Ghozi jauh lebih perhatian fan baik lagi.
__ADS_1
"Emm. Ghozi," lirih Zia yang terlihat ingin mengungkapkan sesuatu tapi dia masih mengumpulkan keberanian, apa yang dia lihat justru membuat orang lain yang melihat ekspresinya penasaran sengan apa yang sebenarnya ingin di katakan oleh Zia.
"Katakan saja Zia! jangan.pernah ragu ataupun takut mengatakan sesuatu yang menurutmu perlu untuk si katakan, dan apa yang kamu katakan bukanlah hal yang menyakitkan hati," ujar Ghozi yang kini beralih menatap Zia yang justru tertunduk setelah di tatap oleh Ghozi.
"Katakan! ada apa? jangan membuatku semakin penasaran!" desak Ghozi dengan tatapan yang masih mengarah ke arah Zia.
Zia yang tidak ingin membuat Ghozi marah ataupun penasaran kini mulai memejamkan mata mengumpulkan keberanian yang entah sekarang sedang berada di mana, hingga akhirnya kata-kata yang seharusnya indah dan membuat orang yang mendengarnya bahagia kini justru sangat berbeda dengan respon yang di berikan oleh Tari.
"A~, aku," suara Zia kembali terhenti.
"Aku apa Zia? katakan!" Ghozi terus saja mensesak.
"Aku menyukaimu, apa kamu mau jadi imam dalam hidupku?" akhirnya keluar sudah apa yang ingin dia katakan, sejak pertama kali bertemu dengan Ghozi, Zia memang menyukainya, kelembutan tutur bahasa, keramahan dan perhatian Ghozi sukses merobohkan dindin besar yang melindungi hati Zia.
Mendengar pengakuan tak biasa dari seorang Zia cukup membuat Ghozi tercengang, bagaimana mungkin seorang gadiz cantik, pintar dan baik juga berasal dari keluarga terpandang bisa melakukan hal yang tidak seharusnya dia lakukan, mungkin di zaman sekarang seorang gadis menyatakan cinta terlebih dulu itu hal yang biasa, tapi tidak untuk Ghozi, Ghozi masih memegang teguh sebuah hadist yang mengatakan jika 'Alhayaau minal Iman' yang artinya malu itu sebagian dari iman.
Dan Ghozi sangat mengerti jika seharusnya rasa malu seorang gadis itu jauh lebih besar dari pada seorang laki-laki, tapi apa yang di lakukan Zia benar-benar bukan hal yang baik dan Ghozi sangat tidak menyukai tindakan Zia, meskipun dia sedang mengungkapkan rasa sukanya pada Ghozi tetap saja Ghozi tidak menyukainya.
Wajah Ghozi yang tadi di penuhi rasa penasaran kini berubah menjadi tatapan tidak suka, tanpa mengeluarkan kata-kata ataupun menanggapi ucapan Zia, Ghozi langsung berdiri meninggalkan Zia yang kini terlihat bingung dan murung.
Sungguh Zia sangat bingung dengan sikap yang di tunjukkan oleh Ghozi, seharusnya dia senang karena sudah ada gadis yang menyukainya, bahkan dia rela menyatakan perasaannya lebih dulu, dan itu artinya si gadis sangat menyukai Ghozi, tapi sikap yang di tunjukkan Ghozi sangat jauh berbeda dan itu cukup membuat Zia bingung.
"Kenapa Ghozi malah pergi meninggalkanku?" lirih Zia dengan ekspresi wajah yang tampak sangat bingung.
__ADS_1
Sejak saat itu Ghozi tidak pernah lagi bersikap ramah pada Zia, dia juga terlihat jelas menghindar dari Zia, setiap kali berkumpul dan ada Zia di sana bisa di pastikan Ghozi langsung pergi, Kafa sempat bertanya tentang perubahan pada diri Ghozi, tapi sampai saat ini Ghozi tidak pernah mengatakan ataupun menceritakan apa yang sebenarnya terjadi pada siapapun.
Flash back off ....