Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Belajar Mengaji Bersama Ummi


__ADS_3

Tari dan Salma hanya bisa mengikuti langkah Ratna menuju kamar mandi yang terletak di belakang asrama, kamar mandi yang terlihat tak terlalu ramai itu benar-benar bersih, hanya ada satu tong sampah besar yang ada di pintu utama saat masuk ke dalam kamar mandi, tapi tong sampah itu terlihat lucu karena telah di hias dengan cat berwarna hitam dan merah.


"Ini kamar mandi di mana kalian bisa mandi dan mencari antrian untuk mandi," tutur Ratna.


"What? antrian?" sahut Tari spontan.


"Iya, seperti yang tertulis di setiap pintu utama, budayakan antri! adalah sebuah kata yang harus di ikuti oleh setiap santri, karena dengan kita antri kita bisa belajar sabar dan tertib," Ratna kembali menjelaskan apa yang peelu di ketahui oleh Tari dan Salma.


"Terus bagaimana caranya aku antri? apa aku langsung berdiri nungguin yang di dalam selesai?" Tari kembali bertanya.


"Tidak seperti itu, Mbak Tari harus tanya dulu sama yang di dalam kamar mandi, setelah dia mandi apa masih ada orang lain yang menunggunya atau tidak?" Ratna kembali menjelaskan cara mencari gantian untuk mandi.


"Astaga Salma, mau mandi aja seribet ini, kalau aku tahu hidup di pesantren itu ribet kayak gini gak bakal ikut aku," bisik Tari pada Salma.


"Sudah, yang sabar! semua pasti indah pada waktunya," lirih Salma yang sejak tadi hanya diam memperhatikan Ratna dan Tari.


"Eh, itu ada yang keluar, aku samperin dulu ya." Ujar Tari, dan Salma hanya tersenyum lucu melihat tingkah Tari yang terlihat heboh sendiri.


'Barusan bilang ribet, tapi sekarang malah terlihat paling semangat cari antrian kamar mandi,' batin Salma berkomentar.


"Mbak Salma, aku tinggal dulu." Pamit Ratna.


"Iya, Mbak Ratna, terima kasih sudah di antar," sahut Salma yang kini berjalan menghampiri Tari yang terlihat senang karena sepertinya dia sudah menemukan gantian kamar mandi.


Drama kamar mandi di sore hari sungguh berkesan bagi Tati dan Salma yang baru pertama kali masuk ke pesantren.


"Mbak Tari dan Mbak Salma nanti ba'da maghrib ikut saya ya!" pesan Ratna saat keduanya baru saja selesai mandi.


"Ke mana? cari duit ya?" sahut Tari asal jeplak tanpa peduli di mana dia berada.


"Ishh, Tari jangan gitu! inget ini di pesantren!" bisik Salma yang terlihat begitu gemas pada Tari.

__ADS_1


"Upss maaf Mbak Ratna, Tari keceplosan," ujar Tari setelah mendapat bisikan dari Salma.


"Tidak apa-apa, Umik berpesan tadi, kalau khusus Mbak Tari dan Mbak Salma bisa mengaji bareng Umik di ndalem." Jelas Ratna.


"Terima kasih sudah di kasih tahu Mbak," sahut Salma, sedang Ratna hanya tersenyum sambil mengangguk sebagai jawaban.


Hampir semua anggota kamar tahu jika Tari dan Salma adalah Santri istimewa, mereka di bawa sendiri oleh Ummi bahkan mereka mengira jika Salma dan Tari adalah saudara Ummi.


Sore telah pergi berganti senja yang perlahan memudar menjadi gelap tanda jika malam telah tiba, seperti apa yang di katakan Ratna, dia benar-benar menemani Tari dan Salma untuk mengantarnya ke ndalem bertemu dengan Ummi.


"Assalamualaikum," ucap Ratna dengan suara pelan dan sikap sopannya.


"Waalaikum salam, masuklah!" sahut Ummi dari dalam rumah.


Ratna membuka perlahan pintu rumah Ummi sambil membimbing Salma dan Tari agar ikut berjalan di belakangnya.


"Ummi, saya mengantar Mbak Tari dan Mbak Salma," ucap Ratna setelah sampai di ruang keluarga si mana Ummi sesang duduk di sofa dengan memangku Al-qur'an di tangan kanannya.


"Sama-sama Ummi, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Ratna.


"Mbak Ratna!" panggilan Ummi mencegah langkah ratna.


"Iya, Ummi," sahut Ratna menghentikan langkahnya dan berbalik menghadap ke arah Ummi.


"Mulai sekarang kamu Ummi beri tanggung jawab mengajari santri baru, dan kamu bisa melaporkannya seminggu sekali setiap hari jum'at." Titah Ummi.


"Baik, Ummi," jawab


Ratna melenggang pergi meninggalkan ndalem Ummi setelah menerima tugas yang sebenarnya tugas Ummi, sebelum Salma dan Tari datang mengajar santri baru merupakan tugas Ummi, entah mengapa sekarang tugas itu malah si serahkan pada Ratna.


"Duduklah, putri-putriku!" titah Ummi dengan senyum yang terlihat begitu meneduhkan dan menenangkan.

__ADS_1


Salma dan Tari langsung duduk tepat di hadapan Ummi setelah mendapat perintah dari beliau.


"Ummi ingin mendengar kalian mengaji, dan Ummi ingin mengajari kalian banyak hal agar kalian bisa mengamalkannya nanti," ujar Ummi.


Ternyata Ummi memiliki keinginan untuk menjadikan Tari dan Salma seorang Ustadzah yang akan mengajar di pesantren dan Ummi akan mengajari mereka secara khusus agar apa yang menjadi keinginan Ummi dapat terwujud.


"Tari, kamu ngaji duluan! biar Ummi dan Salma yang mengoreksi," titah Ummi.


"Maaf sebelumnya Ummi, aku kurang pandai dalam mengaji, jadi jika ada banyak salah mohon di maklumi," Tari menundukkan kepala tak enak hati, karena perceraian kedua orang tuanya membuat Tari menjadi pribadi yang jauh dari agama, tak ada yang mengajarinya mengaji dengan benar karena Nenek yang merawatnya pun sudah tak lagi bisa mengajari Tari mengaji karena rabun.


"Tidak apa-apa, Nak, semua butuh proses, Ummi yakin jika kamu mau berusaha suatu saat kamu pasti akan bisa," ujar Ummi membesarkan hati Tari agar dia tak pantang semangat.


Dan benar saja, Tari sedikit terbata-bata saat mengaji dan Ummi dengan sabar membenarkan setiap kalimat yang salah, hal itu membuat semangat Tari untuk memperbaiki bacaannya semakin membara.


Berbeda dengan Tari, Salma justru terdengar begitu lancar melantunkan setiap bacaan Al-qur'an, suaranya begitu merdu terdengar dengan fasih Salma melantunkannya memberi ketenangan dalam jiwa siapapun yang mendengarnya.


"Alhamdulillah, suaramu merdu sekali Salma," puji Ummi yang merasa kagum dengan suara Salma.


"Alhamdulillah, jika Ummi merasa jika suaraku merdu," sahut Salma.


"Bukan cuma merdu, tapi juga tepat bacaannya, makhroj dan sifatul hurufnya juga tepat," Ummi kembali memuji bacaan al-qur'an Salma.


"Salma memang pintar Ummi, dulu waktu sekolah SMP dia sering mendapat tugas mengaji di kantor dengan pengeras suara karena ketepatan dan kemerduan suaranya," timpal Tari dan Ummi semakin bangga di buatnya.


"Semoga saja kalian berdua bisa menjadi seorang Ustadzah seperti yang ku harapkan," untaian harapan Ummi terucap dari bibir indahnya yang di amini oleh kedua gadis yang ada di hadapannya.


Untuk hari ini Ummi hanua mengajari mereka mengaji dan berencana mengajari banyak hal lagi esok hari.


"Baru sehari di sini udah jadi alim aja aku," celetuk Tari.


"Iya, entar kalau udah sebulan kamu pasti jadi Ustadzah," sahut Salma dengan senyum manis yang terlihat di wajahnya.

__ADS_1


__ADS_2