
Kafa diam merenungi semua yang telah terjadi dan di ucapkan oleh Salma, tanpa dia sadari dari sudut bibirnya terlihat seutas senyum yang mengembang, Salma memang pintar menjawab pertanyaan dan mampu membuat Kafa tak lagi bisa menjawab.
"Aku akan menerima perjodohan ini dan akan ku lihat sejauh mana dia bisa terus membalas ucapan dan perbuatanku," lirih Kafa dengan senyum devil yang terlihat di wajahnya.
Saat ini Kafa terlihat seperti seseorang yang lupa jika pernikahan bukanlah sebuah permainan, dia juga seolah lupa jika sebuah pernikahan bersifat selamanya bukan sementara. Tanpa banyak berfikir lagi Kafa berdiri melangkah masuk ke dalam rumah menemui sang Ummi dengan niat membicarakan rencana perjodohan yang telah Ummi rancang.
"Ummi!" panggil Kafa mencegah langkah Ummi yang terlihat hendak pergi dari ruang keluarga.
"Iya, ada apa, Kafa?" tanya Ummi yang kini berhenti melangkah dan menoleh ke arah Kafa yang sedang berdiri tak jauh dari dirinya.
"Aku ingin bicara dengan Ummi, apa saat ini Ummi sedang sibuk?" Kafa langsung mengatakan niatnya untuk mengutarakan semua yang dia rasakan.
"Tidak, Nak, Ummi tidak sedang sibuk, ayo duduk!" Ummi berjalan kembali menuju ruang keluarga kemudian duduk di atas sofa yang ada di sana.
"Ada apa, kok tumben manggil Ummi dengan wajah seserius ini?" tanya Ummi.
"Ummi, Kafa cuma mau bilang kalau Kafa setuju dengan perjodohan yang Ummi rencanakan dengan Abah," ungkap Kafa yang sukses membuat Ummi tersenyum senang karenanya.
"Alhamdulillah," sahut Ummo dengan binar kebahagiaan yang terpancar jelas di wajahnya, Ummi benar-benar merasa sangat bahagia karenanya, mau bagai mana pun keputusan Kafa saat ini adalah hal yang paling di tunggu oleh Ummi.
"Setelah ini apa rencana Ummi dan Abah selanjutnya?" Kafa kembali bertanya.
__ADS_1
Ummi semakin terlihat girang dan bahagia mendengar pertanyaan yang terdengar dari bibir Kafa, seperti sebuah mentari yang muncul setelah hujan lebat berhari-hari, memberi sebuah kehangatan pada setiap orang yang ada di bawahnya.
"Apa kamu sudah siap jika Ummi dan Abah memintamu untuk segera menikah dengan Salma?" Ummi mencoba meyakinkan dirinya jika Kafa berbicara dengan keadaan sadar dan tak lagi emosi.
"Aku siap Ummi," jawab Kafa mantap, mendengar pertanyaan Ummi yang pasti di mengerti oleh Kafa apa maksudnya langsung di jawab dengan jawaban singkat, padat dan jelas tanpa ada kata yang bertele-tele.
"Alhamdulillah," untaian rasa syukur terus saja terdengar dari bibir Ummi yang entah bagaimana bisa dia ungkapkan rasa bahagianya karena mendengar ucapan Kafa yang mengatakan jika dirinya mau menerima perjodohan yang sudah di rencanakan.
"Setelah ini Ummi akan membicarakan semuanya bersama Abah. Dan kamu tunggu saja kabar selanjutnya!" titah Ummi masih menunjukkan ekspresi bahagia yang sama seperti sebelumnya.
"Siap, Ummi," jawab Kafa sambil tersenyum manis ke arah Ummi seolah meyakinkan sang Ummi jika saat ini dirinya benar-benar telah menerima perjodohan yang telah beliau lakukan.
Tanpa keduanya sadari ada sepasang bola mata yang terlihat menatap heran penuh penasaran sedang berdiri tepat di belakang Ummi dan Kafa yang duduk berhadapan di atas sofa.
Ya, laki-laki yang berdiri tegak di belakang keduanya sejak tadi adalah Kafa, wajahnya terlihat begitu penasaran dengan topik utama dari pembicaraan mereka saat ini, entah siapa yang mereka bicarakan membuat jiwa penasaran Ghozi muncul secara tiba-tiba.
Awalnya Ummi dan Kafa tak menyadari kehadiran Ghozi di belakang mereka hingga Kafa yang merasa ada sesuatu di belakangnya menoleh dan melihat Ghozi berdiri dengan tegaknya menatap penuh rasa penasaran ke arahnya.
'Ghozi,' batin Kafa.
'Sedang apa dia berdiri di situ?' batin Kafa kembali berkomentar, tapi tubuhnya tetap pada posisi hanya lirikan mata saja yang sesekali tertuju pada Ghozi yang masih mematung di belakangnya, lebih tepatnya di belakang sofa tempat Ummi dan Kafa duduk saat ini.
__ADS_1
"Ummi pergi dulu. Nanti Ummi akan mengatakan segalanya padamu jika Abah sudah menemukan hari baik untuk melangsungkan acara pernikahannya," pesan Ummi seraya bersiap hendak beranjak dari tempatnya duduk.
Mendengar pesan Ummi yang akan langsung mengadakan pesta pernikahan membuat Kafa bingung, reflek dia memegang tangan Ummi agar dia tak beranjak dari sofa.
"Loh, kok langsung menikah, Ummi?" seloroh Kafa membuat Ummi bingung dengan pertanyaan yang di ungkapkan oleh Kafa.
"Memangnya kamu maunya bagaimana Kafa?" mendengar ucapan Kafa membuat Ummi mengurungkan niatnya, dia kembali duduk dengan ekspresi wajah serius menatap heran ke arah Ummi.
"Apa tidak sebaiknya aku dan dia bertunangan dulu, Ummi?" tanya Kafa yang sengaja tidak menyebutkan nama Salma karena dia ingin membuat Ghozi tetap berdiri di tempatnya saat ini dengan ekspresi rasa penasaran yang bisa di pastikan jika saat ini Ghozi masih berdiri dengan rasa penasarannya.
"Apa kamu lupa jika dia tak memiliki siapapun selain kita? dan untuk apa acara pertunangan di lakukan jika kita bisa langsung mengadakan acara pernikahan?" Ummi yang merasa sedikit heran bercampur greget akhirnya memilih untuk kembali melempar pertanyaan yang cukup membuat Kafa bingung karenanya.
"Ummi benar, tapi Kafa juga butuh waktu untuk saling mengenal satu sama lain dengannya, berikan kami waktu untuk saling mengenal dan menumbuhkan rasa sayang yang akan memperkuat pondasi kehidupan rumah tangga yang akan kami jalani nanti." Pinta Kafa yang memang masih ingin tahu banyak tentang Salma.
"Baiklah, nanti biar Ummi bicarakan sama Abah kamu." Sanggup Ummi yang mengerti dengan apa yang di inginkan sang putera, baginya keinginan sang putera saat ini memang masuk akal, semua yang di katakannya memang benar, Ummi juga tak ingin terjadi sesuatu saat keduanya sudah menikah nanti.
"Terima kasih, Ummi, maaf jika selama ini Kafa mengecewakan ataupun menyakiti hati Ummi, Kafa sayang sama Ummi," ujar Kafa kemudian mencium punggung tangan Ummi meminta do'a restu serta keberkahan dalam kehidupannya.
Air mata Ummi meleleh mendengar perkataan sang putera, tak ada lagi hal terindah dan harapan lain bagi Ummi, saat ini yang terpenting hanya satu, melihat kebahagiaan Kafa sang putera semata wayangnya.
"Ummi, kenapa menangis?" tanya Kafa membuat Ummi tersenyum meski air mata masih setia mengalir di wajahnya.
__ADS_1
"Ini bukanlah tangis kesedihan, tapi tangis kebahagiaan, Ummi merasa begitu bahagia karena ucapanmu, Nak, Ummi sangat bahagia mendengarnya, terima kasih kamu sudah kembali," ucap Salma dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Harusnya aku yang berterima kasih padamu Ummi, jika bukan karenamu maka aku tidak akan bisa jadi seperti sekarang," sahut Kafa memperparah keadaan hati Ummi yang sejak tasi terbawa oleh perasaan.