Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Kafa Kelimpungan


__ADS_3

"Astaghfirullah, aku lupa kalau aku masih menginap di hotelmu," jawab Salma.


"Terus sekarang kamu mau ke mana?" tanya Riki.


Salma kembali menatap sekitar, dia baru sadar jika dirinya sudah terlalu jauh melangkah dan pergi dari tempat Kafa berada tadi.


"Sudahlah, ikut saja denganku, aku orang baik dan aku tidak akan menyakitimu, apa lagi kamu tamu di hotelku," Riki masih mencoba merayu Salma agar dia mau ikut bersamanya, sedang Salma masih berfikur seribu kali untuk ikut bersama pria yang tadi siang menggodanya, jujur saja Salma masih tidak percaya pada Riki yang terlihat playboy itu


"Baiklah, jika kamu masih tidak percaya padaku dan ragu untuk ikut denganku, sekarang berikan nomor ponselmu!" pinta Riki yang cukup membuat Salma semakin tidak percaya padanya.


"Kenapa harus berikan nomor ponsel?" tanya Salma menatap aneh ke arah Riki yang kini masih tersenyum pada Salma yang terlihat masih menatap penuh rasa curiga ke arah Riki.


"Kamu mau aku bantu atau tidak? jika tidak ya sudah aku akan pergi dari sini. Berhati-hatilah dalam bertindak! ini di kota bukan seperti di desa, kamu biasa pergi tanpa rasa takit karena mayoritas orang di sana pribumi yang punya kearifan lokal, tadi aku sudah ingatkan kamu, jika ada apa-apa denganmu tanggung sendiri!" ancam Riki yang mulai jengah memilih untuk pergi karena percuma terus mencoba meyakinkan Salma sejak tadi, Salma tetap saja terlihat ragu, dengan langkah pelan Riki mulai melangkah meninggalkan Salma yang masih diam mematung di tempatnya.


"Riki tunggu!" cegah Salma yang merasa jika saat ini dirinya masih ingin kembali ke hotel. dan membutuhkan bantuan Riki.


"Kenapa? apa kamu berubah fikiran?" sahut Riki yang kini berbalik dan menoleh ke arah Salma yang tepat berada di belakangnya.


"Maaf, aku memang butuh bantuanmu," ujar Salma yang tak lagi punya pilihan lain selain meminta bantuan pada Riki, dia tidk mungkin bisa pulang sendiri tanpa ada yang menenamninya di kota sebesar ini.


"Maaf, karena aku telah meragukanmu, tapi tolong, antar aku kembali ke hotel, aku ingin berterima kasih padamu karena sudah mau menolongku aku yang lemah ini," ujar Salma.


"Berikan ponselmu!" titah Riki yang langsung di turuti oleh Salma, percuma saja jual mahal jika Kafa sang suami masih bermesraan dengan Intan si ulet bulu itu.

__ADS_1


"Nomor yang cantik, dama seperti orangnya," ujar Riki setelah mencatat nomor Salma dan Riki mencoba menghubungi nomor Salma dan benar saja nomor itu tersambung.


"Sekarang ikut aku!" titah Riki berjalan menuju ruang parkir yang ada di lantai bawah.


Salma hanya bisa mengikuti langkah Riki tanpa protes ataupun fikir panjang lagi, bagi Salma saat ini dia harus pergi dulu dari Kafa.


"Pak Wawan!" panggil Riki saat melihat seseorang berpakaian serba hitam seperti seorang satpam yangs edang duduk bersandar di jok mobil yang sangat mewah.


"Iya, Tuan muda, ada apa?" tanya Pak Wawan.


"Tolong antarkan gadis, ups salah, maksudku wanita yang ada di sampingku ini ke hotel kita yang tidak terlalu jauh dari sini." Titah Riki.


"Baik, Tuan muda," jawab Wawan dengan senyum ramah yang mampu mengubah penilaian orang lain terhadapnya, sejak tadi Pak Wawan diam dan terlihat begitu menyeramkan, tapi saat ini dia terlihat begitu baik denga senyum yang menghiasi wajahnya.


"Masuklah! dia sopir pribadinya yang dapat di percaya, kamu bisa menelfonku nanti jika sudah sampai atau ada sesuatu yang mengancamnya." Ujar Riki yang mampu menciptakan senyum lega bagi Salma yang awalnya merasa takut dan ragu pada Riki.


"Sama-sama, berhati-hatilah!" pesan Riki sebelum Salma masuk ke dalam mobil yang cukup besar dan lega di dalamnya.


Aroma maskulin yang masih tertinggal milik Riki di dalam mobil yang terlihat sangat rapi itu.


"Jalan Pak!" teriak Riki yang langsung di kabulkan oleh sang sopir.


Mobil melaju menyusuri jalan, rasanya memang sangat berda dengan mobil yang biasa di naiki oleh Salma.

__ADS_1


"Terima kasih, pak," ujar Salma sesaat setelah turun dari mobil.


"Sama-sama, lain kali hati-hati Salma, di kota seperti ini sangat jauh berbeda dengan di desa, kalau begitu saya permisi dulu." Pamit Salma melenggang pergi masuk ke dalam kamar hotel.


"Dasar wanita jaman sekarang, selalu bertindak tanpa di fikirkan akibatnya." Gumam Wawan seraya menggelengkan kepala pelan.


Jika Salma sudah sampai di kamar hotel dan mulai merebahkan diri menikmati denyutan jantung yang cemburu, maka berbeda dengan Kafa yang kini kelimpungan mencari Salma yang tiba-tiba menghilang tanpa jejak yang pasti.


"Salma!!" panggil Kafa saat dia sudah memutari tokoh baju di mana Salma tadi membeli baju.


"Kamu kenapa Kafa?" tanya Intan seolah dia tak tahu apa-apa, padahal Salma pergi juga karena kehadiran Intan di saat kedua sedang asyik berbelanja.


"Diamlah! istriku tidak ketemu dan kamu bawel seperti itu, diam atau pergi dari sini!" sahut Kafa.


Apa yang di lihat Salma tak seluruhnya benar, Kafa dan Intan tadi tidak berpelukan, memang Intan yang sedang curhat jika dirinya bersedih sempat menyandarkan kepalanya, tapi Kafa yang tidak suka langsung menyingkirkan kepala Intan, tapi hal itu tak sempat di lihat Salma karena dia lebih dulu pergi sebelum mengetahui apa yang sebenarnya terjadi.


Tadi Intan sedang berjalan-jalan di Mall, tanpa sengaja dia melihat Kafa duduk sendiri di kursi yang di sediakan untuk menunggu, Intan yang memang sudah lama tak bertemu dengan Kafa langsung duduk di samping Kafa dan mulai berdrama, ber acting seolah-olah dia tengah bersedih karena sang sepupu yang sedang sakit, Intan mencari empati Kafa yang memang punya rasa kemanusiaan yang sangat tinggi itu.


Tapi tanpa Kafa tahu dan sadari, rasa empatinya itu sudah membuat Salma cemburu dan pergi tanpa dia tahu, sekarang Kafa sedang ribut mencari keberadaan Salma yang entah ada di mana.


"Mbak, apa kalian melihat istriku, ini fotonya." Kafa menunjukkan satu foto Salma tapi apa yang dia dapat, jawaban yang sama yaitu tidak tahu.


Salma tadi pergi di saat semua karyawan tokoh sibuk dengan pekerjaan mereka sendiri.

__ADS_1


"Baiklah, kalau kalian semua tidak tahu, apa boleh aku melihat cctv yang ada di tempat ini?" tanya Kafa dengan wajah panik yang belum pernah terlihat sebelumnya.


Bagaimana tidak panik? Kafa yang tahu jika Salma sama sekali tidak tahu seluk beluk kota yang sekarang di tempati, dia tiba-tiba hilang tanpa kabar seperti saat ini, tentu saja hal itu membuat Kafa kelimpungan mencari keberadaan Salma.


__ADS_2