
Tari terdiam mendengar pertanyaan yang di ajukan oleh Daddy Sasa, pertanyaan mudah tapi memiliki jawaban yang cukup serius.
"Belum," Tari menjawab pertanyaan Daddy Sasa dengan jawaban jujur, dirinya memang belum memiliki kekasih ataupun calon Imam ĺmeskipun dalam hatinya ada cinta yang tengah tumbuh, tapi Tari tak bisa mengatakannya.
"Berarti masih ada kesempatan," lirih Daddy Sasa yang masih bisa di dengar oleh Tari.
"Maaf, apa masih ada yang mau di bicarakan?" tanya Tari dengan nada dan ekspresi penuh rasa sopan yang di tunjukkan ke arah Daddy Sasa.
Tari dan Daddy Sasa berbincang tanpa mereka sadari ada sepasang telinga yang tengah mendengar dan sepasang mata yang tengah menatap tajam ke arah keduanya.
'Aku benar-benar kalah cepat dengan si duda itu,' batin Ghozi yang terus menatap tidak suka ke arah Tari dan Ghozi yang berdiri tidak jauh dari tempat Ghozi berdiri.
"Sudah, aku tidak ingin tanya apa-apa lagi, jika kamu ingin pergi silahkan!" jawab Daddy Sasa yang kini menatap ke arah Tari dengan senyum yang mengembang di wajahnya.
"Assalamualaikum." Pamit Tari melenggang pergi meninggalkan Daddy yang masih setia berdiri di tempatnya sambil menatap ke arah Tari yang terus berjalan menjauh dan mendekati Sasa yang sedang sibuk menikmati makanan di hadapannya.
"Tari!" kali ini bukan Daddy Sasa yang memanggil, tapi Ghozi yang memanggilnya.
"Ghozi," lirih Tari sambil melihat ke arah Ghozi yang kini berada tepat di belakangnya.
"Iya, ada apa?" sahut Tari sambil menatap lekat ke arah Ghozi yang masih setia berdiri.
"Aku ingin bicara padamu," ujar Ghozi.
__ADS_1
"Kalau mau bicara, kamu bisa bicara sekarang, ada apa? Katakan saja!" ucapTari yang terlihat cuek dan biasa saja Saat melihat Ghozi yang kini menatapnya dengan tatapan serius.
"Ini masalah penting Tari, jadi aku ingin bicara empat mata denganmu," ujar Ghozi yang dengan tatapan yang masih terlihat serius ke arah Tari.
Tari menatap heran ke arah Ghozi yang terus saja menatapnya dengan tatapan serius, Tari menarik nafas kasar melihat sikap Ghozi, sungguh berada di antara dua laki-laki berbeda status seperti saat ini membuat Tari lelah dan ingin menjauh tapi tak mampu.
Dengan langkah gontai Tari berjalan mengikuti langkah Ghozi yang lebih dulu berjalan menjauh dari kerumunan.
"Kita mau ke mana Ghozi?" tanya Tari saat Ghozi melangkah keluar dari pondok putri.
Ghozi tak menjawab pertanyaan Tari, dia terus melangkah hingga sampai di depan kamar yang dia tempati.
"Duduklah! Kamu bisa menungguku di sini." Ujar Ghozi tanpa menoleh ke arah Tari yang berdiri di belakangnya dengan ekspresi wajah bingung.
Tari memilih duduk di kursi yang ada di depan kamar Ghozi, dua kursi berjajar di sana dan hanya di sekat oleh satu meja bunda.
"Aku minta kamu lanjutkan pekerjaan yang sempat tertunda," ujar Ghozi yang dengan ekspresi berubah, wajahnya terlihat serius dan sedikit emosi yang tergambar jelas di wajahnya.
"Apa tidak bisa nanti saja?" tanya Tari yang merasa tak enak hati dengan Sasa, pasalnya acara ulang tahun Sasa belum selesai tapi Tari harus pergi meninggalkan acara ulang tahunnya, padahal ucaranya belum selesai.
"Harusnya tadi kamu tidak memberi kesempatan pada duda itu," jawaban yang sungguh tidak ada sambungannya sama sekali dengan apa yang di tanyakan oleh Tari.
"Maksud kamu apa Ghozi?" tanya Tari merasa aneh dengan apa yang di katakan oleh Ghozi.
__ADS_1
"Kamu pasti mengerti dengan apa yang ku maksud Tari, jangan pura-pura bodoh!" ujar Ghozi yang merasa jika Tari berpura-pura tidak mengerti dengan apa yang dia Katakan, padahal Tari tahu maksud Ghozi yang sebenarnya.
"Aku benar-benar tidak mengerti dengan maksud dari ucapanmu Ghozi," kekeh Tari yang memang tidak mengerti dengan apa yang di maksud oleh Ghozi.
"Daddy Sasa, seharusnya kamu bilang jika kamu sudah punya kekasih atau tambatan hati, jangan beri dia peluang untuk mendapatkanmu ataupun menunggumu," Ghozi menjelaskan apa yang dia maksud.
"Aku bukan orang bodoh Ghozi," sahut Tari yang terlihat tidak terima dengan apa yang di katakan oleh Tari.
"Kamu memang tidak bodoh soal ilmi ataupun akal, tapi kamu bodoh jika menyangkut masalah cinta," ujar Ghozi.
"Aku tidak bodoh soal cinta Ghozi, karena itulah aku memilih memberi Daddy Sasa kesempatan," sahut Tari yang tak mau kalah berdebat dengan Ghozi.
"Apa maksudmu Tari?" kali ini Ghozi yang tidak mengerti dnegan apa yang di katakan oleh Tari.
"Aku tidak bodoh harus menunggu ataupun mengakui dia yang tidak bisa memberiku kepastian, perlu kamu tahu jika aku tidak akan menunggunya selamanya, karena menunggu bukanlah hal yang menyenangkan untuk di lakukan," Tari terus saja menekan Ghozi yang tak pernah bisa tegas dalam mengambil keputusan, meski dalam hatinya ada cinta yang terpendam, tapi Tari harus tetap terlihat tegas demi masa depan dirinya, sendiri, dalam benak Tari umur itu tidak akan bertambah panjang, tapi akan bertambah pendek dan berkurang.
Seketika Ghozi terdiam setelah mendengar ucapan Tari yang terdengar tegas dan tak terbantahkan, sungguh Ghozi tak ingin Tari pergi ataupun berpaling, tapi Ghozi masih belum bisa tegas ataupun mengambil keputusan yang tepat untuk masa depan dirinya dan Tari.
"Apa hanya ini lembar ujian yang tersisa?" tanya Tari yang mulai jengah melihat sikap Ghozi yang terkesan menarik ulur perasaannya, Tari memang mencintai Ghozi, tapi Tari tidak mungkin terus-terusan di beri harapan yang entah akan jadi nyata atau malah sebaliknya.
"Iya, sebagian besar sudah kita kerjakan tadi," jawab Ghozi yang langsung kehabisan kata-kata melawan Tari yang saat ini semakin terlihat tegas dalam mengambil keputusan.
"Aku akan mengerjakannya di kamar, apa boleh?" tawar Tari yang tak ingin terus-terusan berada di dekat Ghozi yang sebenarnya cukup membuat sport jantung dan otak, logika dan hati Tari selalu berperang mempertahankan keyakinan masing-masing, jantung Tari yang selau berdetak kencang tiap kali berada di dekat Tari berperang melawan logikanya yang menolak terus mencintai ataupun menunggu Ghozi yang tak bisa tegas itu.
__ADS_1
"Apa tidak sebaiknya di kerjakan di sini?" bukan jawaban yang Ghozi berikan, tapi sebuah pertanyaan yang tersirat dengan jelas jika Ghozi masih ingin berada di dekat Tari dan tak ingin Tari pergi meninggalkan dirinya.
"Aku lelah dan ingin mengoreksi semua ini dengan santai di kamar, mengoreksi dengan posisi duduk seperti ini cukup membuat badanku lelah," jawaban yang tidak pernah di sangka oleh Ghozi, Tari bisa segelas sekarang membuat Ghozi semakin kelimpungan karenanya.