Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Istilah Anak Gaul


__ADS_3

Sedang di sisi lain di malam yang sama, terdengar rintihan hati yang begitu pilu memanjat do'a untuk sang putera tercinta, meski malam itu hujan terdengar semakin deras dan hawa dingin menusuk ke dalam kulit tak menghalangi Ummi untuk tetap melaksanakan sholat malam, berdo'a agar Kafa segera sadar dan mau kembali ke sisinya.


Lantunan do'a Ummi akhirnya terdengar dan terkabulkan melalui mimpi Kafa, benar saja keesokan harinya sang putera menelfon meminta di jemput untuk kembali ke pesantren, sungguh do'a Ibu adalah hal yang paling mustajab.


Flashback Off ....


"Maaf," Kafa kembali meminta maaf setelah menyadari kesalahannya, dia tak lagi mampu mengatakan hal lain kecuali meminta maaf.


"Sudah Abah katakan jangan minta maaf pada Abah, karena kali ini urusanmu bukan dengan Abah," ucap Abah kembali mengingatkan Kafa.


"Sekarang apa rencanamu ke depan?" sambung Abah menanyakan rencana sang putera untuk masa depannya, Abah memanfaatkan Kafa yang terlihat lemah saat ini, tatapan sayu Kafa menandakan sebuah penyesalan yang telah dia rasakan dan Abah memanfaatkan hal itu untuk membuat Kafa semakin sadar.


"Entahlah Abah, Kafa masih belum bisa memutuskan bahkan Kafa belum memikirkannya," jawab Kafa.


"Apa kamu serius dengan Intan? apa kamu punya rencana untuk menikahinya?" pertanyaan Abah mengejutkan Kafa yang tadi menunduk kini menatap sendu ke arah sang Abah.


"Aku sudah memutuskannya, Abah," jawab Kafa dengan ekspresi mantap.


"Bagus, jadi apa kamu sudah memikirkan permintaan Ummi?" Abah kembali bertanya.


"Permintaan yang mana, Abah?" Kafa yang sejak kemarin hanya memikirkan cara putus dari Intan dan ancaman yang di berikannya kini mulai melupakan permintaan Ummi tentang perjodohan yang suda di rencanakan, sedang Abah sengaja mengatakan perjodohan yang sudah di rencanakan sekarang agar Kafa bisa menerima perjodohan itu.


"Apa kamu lupa jika Ummi sudah merencanakan sebuah perjodohan untukmu?" tanya Abah dengan niat mengingatkan Kafa.

__ADS_1


"Astaghfirullah, iya Abah, Kafa baru mengingatnya," seru Kafa membuat Abah heran.


"Bagaimana? apa keputusanmu tentang perjodohan itu?" Abah tetus mendesak Kafa agar dia menjawab.


Mendengar pertanyaan Abah yang mendesak Kafa untuk segera menjawab pertanyaannya membuat Kafa semakin dilema, di sisi lain dia masih khawatir akan ancaman Intan dan disisi lain dia tidak mungkin menolak permintaan sang Ummi karena mimpi yang dia alami benar-benar masih terbayang di benaknya.


"Aku akan membicarakannya lagi dengan Ummi setelah ini Abah, dan aku akan memberikan keputusanku setelah tahu siapa dan seperti apa gadis yang akan di jodohkan denganku," tutur Kafa.


"Baiklah, Abah tunggu kabar baik darimu, ingatlah pesan Abah, istrimu akan menjadi orang yang paling berpengaruh dalam hidupmu, maka pilihlah yang tepat!" Abah memberi peringatan sekaligus wejangan pada Kafa.


"Iya, Abah, Kafa sudah mengerti, terima kasih atas apa yang telah Abah berikan dan Kafa akan selalu mengingatnya," ujar Kafa.


"Bagus jika kamu bisa menerima semua yang Abah katakan dengan baik, sekarang pergi dan temui Ummi di ruang keluarga! Abah yakin sejak tadi dia sudah menunggumu di sana," titah Abah.


Sejak Abah mengutarakan niatnya untuk menasehati dan sedikit mendesak Kafa agar dia mau menerima perjodohan yang di rancang oleh Ummi dan menyesali setiap kesalahan yang telah dia perbuat, Ummi merasa resah dan gelisah, hatinya begitu tak tenang menunggu sang putera keluar dari ruangan sang suami, Ummi khawatir jika apa yang di lakukan Abah bisa membuat Kafa semakin brutal dan pergi meninggalkan pesantren dan kembali ke kota seperti dulu.


"Ummi kenapa?" suara lembut Kafa sungguh membuat jantung Ummi berdebar kencang karena terkejut, pasalnya sejak tadi Ummi fokus memikirkan Kafa dengan segala kemungkinan terburuk yang ada di benaknya.


"Kafa," reflek Ummi memeluk sang putera yang berdiri tak jauh darinya.


"Ada apa, Ummi?" Kafa kembali bertanya karena ekspresi wajah sang Ummi terlihat begitu khawatir dan bingung.


"Tidak ada apa-apa, Nak," jawab Ummi, kini ekspresinya berubah lembut dan lega, suara Kafa yang lembut bisa menghilangkan segala keresahan yanh sejak tadi bersarang di benak Ummi.

__ADS_1


"Bagaimana dengan Abah? apa saja yang kalian obrolkan? apa kamu baik-baik saja?" Ummi langsung memberondongi Kafa dengan segala pertanyaan yang muncul di benaknya.


"Satu-satu kalau tanya Ummi! Kafa jadi bingung mau jawab yang mana dulu," jawab Kafa tersenyum manis ke arah Ummi.


"Apa kamu sudah setuju dengan perjodohan yang Ummi rancang?" Ummi terlihat begitu tidak sabar mendengar jawaban sang putera, dan ekspresi wajah Ummi membuat Kafa tersenyum karena dengan ekspresi seperti itu menandakan betapa Ummi menyayanginya.


"Aku akan menyetujuinya jika Ummi sudah memberitahukan pada Kafa siapa gadis yang di jodohkan dengan Kafa, dan berasal dari mana dia?" ujar Kafa yang sukses membuat Ummi tersenyum karenanya.


Bagi Ummi mendengar Kafa mau di pertemukan dengan gadis pilihannya saja sudah mampu membuatnya senang, karena dengan begitu artinya Kafa percaya jika pilihan Ummi memang pilihan yang terbaik dan paling tepat untuknya.


"Baiklah, besok Ummi akan mengajakmu menemui orang tuanya, kemudian Ummi akan menceritakan secara detail kenapa Ummi memilihnya meski dia bukan anak seorang kiyai sepertimu? dia hanya orang biasa, tapi kepribadian dan budi pekertinya tak bisa di ragukan lagi," jelas Ummi.


"Jika Ummi sudah memujinya seperti itu, maka Kafa yakin jika gadis itu memang benar-benar gadis yang baik dan cocok untuk Kafa," sahut Kafa dengan tujuan agar sang Ummi semakin senang karenanya.


"Apa kamu langsung setuju dengan pilihan Ummi? bagaimana kalau Ummi siapkan acara pernikahan untuk kalian?" tawar Ummi yang sukses membuat Kafa terkejut.


"Ummi, Kafa memang setuju dengan apa yang di katakan oleh Ummi, hanya saja Kafa juga butuh waktu dan kesempatan untuk bertemu dengan calon istri yang akan menemani Kafa sampai tua nanti." Tutur Kafa.


"Kamu benar Kafa, ada istilah tak kenal maka tak sayang, dan Ummi hampir melupakannya." Ujar Ummi dengan semangat yang terlihat masih sama.


"Ummi bisa saja jika membuat istilah," sahut Kafa menggelengkan kepala tanda heran melihat sang Ummi yang kini terlihat semakin bersemangat.


"Gini-gini Ummi masih tahu istilah anak gaul zaman sekarang Kafa, Ummi kan orangnya gaul," ujar Ummi sambil tersenyum.

__ADS_1


"Ahh sudahlah Ummi, jangan sok gaul! ingat umur dan status!" Kafa kembali mengingatkan Ummi akan kenyataan tentang umur dan status yang di miliki olehnya.


__ADS_2