
Ummi sangat bersemangat memasak, begitu juga dengan Tari dan Salma yang sama bersemangatnya dengan Ummi,.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," ucap Tari sambil mencuci tangannya.
"Alhamdulillah, gak kerasa ya udah mateng aja," sahut Salma.
"Semua ini berkat kalian yang menemani Ummi memasak, jadi masakannya cepat matang dan tidak terasa capek," Ummi yang berjalan mendekat setelah menaruh sambal di meja langsung ikut menyahuti obrolan Tari dan Salma.
"Ummi ternyata sangat menyenangkan, aku aja tadi sempet ragu dan sedikit takut," celetuk Tari yang tak pernah bisa menyaring setiap ucapannya.
Ummi yang mendengar pengakuan Tari, Ummi sama sekali tak tersinggung dengan ucapan Tari karena menurutnya semua yang di katakan Tari itu wajar, bahkan semua santri yang baru pertama kali di mintai tolong membantu Ummi memasak pasti akan merasakan apa yang Tari rasakan saat ini, hanya saja Tari jauh lebih bisa jujur dan terbuka di bandingkan dengan santri baru yang lain.
"Hus Tari! kau ini kebiasaan kalau ngomong di saring jangan ceplas ceplos gitu!" Salma mencoba mengingatkan Tari yang justru terlihat biasa saja dengan peringatan Salma.
"Salma, ceplas ceplos seperti aku itu jauh lebih baik dari pada bersikap munafik, pura-pura baik padahal aslinya buruk, bener Kan Ummi?" sahut Tari yang selalu memiliki seribu jawaban dan kata untuk melawan Salma.
"Sudah, jangan berdebat! apa yang kalian katakan benar semua tak ada yang salah, Ummi tidak masalah jika Tari mengatakan hal itu karena menurut Ummi apa yang di katakan Tari benar, jujur jauh lebih baik dari pada berkata bohong atau berpura-pura, tapi Salma juga benar, kadang kala kita harus menyaring setiap ucapan yang keluar agar tak menimbulkan kesalah fahaman ataupun perselisihan antar saudara ataupun teman." Ummi menjabarkan pendapatnya dan menasehati keduanya.
Tari dan Salma hanya diam mendengarkan apa yang Ummi katakan, menyimak setiap kata dan makna dalam ucapan Ummi.
"Sudah jangan bengong lagi! lebih baik kalian kembali ke asrama untuk bersih-bersih setelah itu kembalilah kemari kita makan bersama!" titah Ummi.
"Baik, Ummi," jawab Salma.
"Siap, Ummi," kini Tari yang menjawab.
__ADS_1
Keduanya berjalan menuju kamar melakukan ritual mandi yang penuh dengan drama antri mengantri yang paling di benci Tari, meski begitu dia tetap melakukan apa yang seharusnya dia lakukan tanpa mengeluh dan selalu mensyukuri apapun yang dia miliki saat ini.
"Salma!" panggil Tari saat keduanya sudah selesai dengan urusan masing-masing.
"Apa?" sahut Salma.
"Apa kamu benar-benar mau makan di rumah Ummi saat ini?" tanya Tari ragu.
"Memangnya kenapa?" sahut Salma bingung dengan pertanyaan Tari.
"Aku kok ya sungkan," ungkap Tari.
"Sungkan bagaimana maksudmu Tari?" Salma menghentikan langkahnya dan beralih melihat Tari yang kini ikut berhenti di sampingnya.
"Aku kok ya sungkan sama Abah, Salma" jelas Tari.
"Ishhh kau ini, lupa kok keseringan," ujar Tari.
"Ingatlah Tari al insanu ma'al khotto' wannisya, manusia itu tempat salah dan lupa," Salma mengeluarkan jurus andalannya.
"Au ah, terserah kamu," sahut Tari malas untuk berdebat ataupun melawan ucapan Salma.
Keduanya kembali berjalan beriringan dengan langkah sedikit melambat, ada rasa ragu yang tiba-tiba muncul meski sebenarny Abah bukanlah orang jahat atau orang yang suka bersikap sinis, Abah begitu ramah pada siapapun hanya saja dia tak banyak bicara dan jarang sekali berkomunukasi dengan Salma dan Tari, karena itulah keduanya merasa sungkan jika makan satu meja dengan Abah yang notabennya pemilik pesantren ini.
"Assalamualaikum," ucap Salma dan Tari hampir bersamaan saat mereka sudah sampai di depan ruang tamu khusus pengirim.
__ADS_1
"Waalaikum salam, masuklah!" sahut Ummi yang terlihat sudah berganti baju dengan dandanan yang bisa di bilang sedikit tebal, Salma sedikit terkejut melihat penampilan Ummi, dia langsung memegang tangan Tari dan meremasnya khawatir jika Tari langsung berkomentar atau mengatakan sesuatu yang bisa membuat Ummi tersinggung.
"Eh Ummi," ucap Tari tak berani melanjutkan kata-katanya karena Salma sudah meremas tangan Tari sebagai tanda jika dirinya tak boleh berkomentar.
Ummi tersenyum seraya memberi isyarat agar Tari dan Salma mengikutinya dari belakang. Tari dan Salma di ajak masuk ke dalam ruang makan di mana sudah ada Abah yang duduk sambil menatap layar ponsel dengan seriusnya.
"Abah, Tari dan Salma sudah datang," ucap Ummi.
Usai mendengar ucapan Ummi, Abah langsung mengalihkan pandangannya yang semula menatap serius ponsel yang dia pegang, kini menaruhnya dan menoleh ke arah Tari dan Salma yang berdiri di dekat meja makan, Abah tersenyum ramah sedikit melegakan hati Tari dan Salma.
"Duduklah! kita makan bersama." Titah Abah.
Mendengar perintah Abah membuat Tari dan Salma langsung duduk sesuai dengan apa yang di perintahkan oleh Abah, begitu pula dengan Ummi yang ikut duduk di samping kanan Abah.
Suasana makan terasa begitu canggung, Tari dan Salma makan dengan porsi sedikit meski masakan yang terhidang di atas meja terasa begitu lezat, tapi keduanya merasa sungkan jika mau makan lebih atau seperti biasa.
"Ambillah apa yang kalian ingin! jika ingin tambah jangan sungkan tambah saja!" ujar Ummi sambil menatap keduanya dengan senyum yang terlihat begitu menawan, dandanan Ummi memang sedikit tebal tapi kecantikan dan aura menenangkan yang terpancar di wajahnya tak bisa di pungkiri, Tari dan Salma mengangguk sebagai jawaban dan menatap sekilas Ummi yang menurut mereka sudah seperti Ibu mereka sendiri, jika saja di meja makan itu tak ada Abah, bisa di pastikan Tari dan Salma akan makan banyak dan lahap.
"Alhamdulillah," lirih Abah yang ternyata sudah selesai menghabiskan satu porsi makanan yang tadi di ambilkan oleh Ummi tanpa sisa walau sebutir nasipun di piringnya.
"Abah sudah selesai makannya? atau mau Ummi ambilkan lagi?" tawar Ummi saat melihat Abah telah menghabiskan makanannya.
"Sudah, cukup, kamu dan yang lain lanjutkan makannya! Abah harus ke kantor Putera, ada yang harus Abah selesaikan." Pamit Abah berdiri dan melenggang pergi meninggalkan ruang makan.
Abah terlihat begitu sibuk, padahal waktu sudah menunjukkan pukul setengah lima sore, harusnya beliau bisa sedikit santai menikmati hidup.
__ADS_1
"Ayo lanjutkan makannya!" titah Ummi.
Melihat kepergian Abah Tari dan Salma langsung menghabiskan makanannya dan segera membereskan piring bekas makan, sebenarnya mereka ingin tambah tapi niatnya di urungkan mengingat waktu yang sudah mepet, mereka harus segera kembali ke kamar bersiap untuk sholat maghrib berjamaah sebelum ketinggalan.