
"Apa Kak Salma datang membawa hadiah ini sebagai sogokan agar aku menyetujui hubungan kalian dan aku menyukai Kak Salma?" Alif menjabarkan maksud dari pertanyaannya.
'Astaga, ini bocah kenapa bisa berfikiran seperti itu ya?' batin Salma merasa heran dengan pemikiran Alif yang terkesan seperti orang dewasa.
"Kak Salma kok diem? apa bener yang aku bilang tadi?" Alif kembali bertanya.
"Tidak, Alif, Kakak tidak pernah bermaksud seperti itu, ini hanya hadiah kecil karena Alif sudah berani di sunat," jawab Salma mencari alasan agar bocah di hadapannya tak terus bertanya, sedang Kafa yang melihat interaksi antara Salma dan Alif hanya tersenyum tipis, akhirnya setelah berbulan-bulan dia kembali dari kota sekarang dia mendapat hiburan yang bisa membuatnya sedikit senang.
Watak Alif memang sama dengan watak Kafa yang sekarang, Alif yang selalu bersikap dingin pada orang yang baru di kenal, Alif juga selektif pada orang-orang yang mendekat padanya.
"Baguslah, karena jika Kak Salma memiliki niat seperti itu, maka niat itu akan sia-sia karena Aku bukan pria yang mudah di sogok," ujar Alif, kata-kata yang keluar dari mulutnya seperti kata-kata orang dewasa, padahal umur Alif baru sembilan tahun tapi tutur katanya begitu dalam dan tajam seperti tutur kata milik sang Kakak yaitu Kafa.
"Alif, Kakak tidak akan memaksa Alif langsung menyukai Kakak, karena kita baru saja bertemu dan berkenalan, Alif tenang saja, Kakak datang dan membawa hadiah saat ini tidak bermaksud apa-apa, Kakak hanya ingin memberi hadiah atas keberanian Alif tidak kurang dan tidak lebih," tutur Salma dengan nada bicara yang begitu lembut berharap Alif tak berfikir macam-macam tentangnya.
"Baiklah, aku terima hadiahnya, terima kasih," ujar Alif bocah menyebalkan yang sama persis seperti sang Kakak.
Salma hanya tersenyum menanggapi ucapan Alif tanpa niat untuk membalas kata-katanya, mengalah adalah hal paling baik yang bisa Salma lakukan, bagaimanapun juga Alif tetaplah anak kecil yang tidak pantas untuk di ajak berdebat.
"Kak Kafa kapan pulang dari kota?" tanya Alif dengan nada manja, sungguh sikap dan nada bicara Alif saat ini jauh berbeda dengan sikap dan nada bicara yang di tunjukkan pada Salma tadi.
"Kakak sudah cukup lama pulang dari kota Alif," jawab Kafa yang juga bersikap begitu ramah pada Alif sangat jauh berbeda dengan sikap yang di tunjukkan di hadapan Salma.
'Kalau di lihat-lihat mereka seperti pinang di belah dua, sama-sama nyebelin,' batin Salma seraya menatap kedua laki-laki yang sedang asyik mengobrol di hadapannya.
"Kakak kenapa tidak main ke sini kalau sudah lama pulang dari kota?" tanya Alif.
"Kakak sibuk Alif, makanya tidak sempat datang ke sini, kamu sendiri tumben gak pernah main ke pesantren Kakak?" Kafa balik bertanya.
__ADS_1
"Aku malas ke sana kalau tidak ada Kakak," jawab Alif santai.
"Kenapa bisa malas? bukankah di pesantren ada Ummi," ujar Kafa merasa heran dengan bocah yang ada du hadapannya itu.
"Ummi bawel kayak Umik, jadi percuma aku ke sana gak ada hiburan yang ada dengerin ocehan mereka yang bikin kepala makin pusing aja," jawab Alif.
"Kakak punya sesuatu untukmu," ujar Kafa, tangannya meraih sesuatu yang tersimpan dalam saku baju kokohnya.
"Aku harap Kakak bawa coklat kesukaanku," ujar Alif dengan ekspresi penuh harap yang tergambar jelas di wajahnya.
"Tepat sekali, ini untukmu dan cepat makan sebelum Umik datang dan tahu kalau Kakak kasih kamu cokelat!" titah Kafa yang langsung di turuti oleh Alif.
"Wah Kak Kafa memang yang terbaik," seru Alif seraya mengacungkan kedua jempolnya ke arah Kafa, sedang Kafa hanya tersenyum sambil mengusap gemas rambut Alif.
"Isshh, jangan di acak-acak Kak! nanti gantengku hilang," protes Alif kembali merapikan rambut yang sempat di acak oleh Kafa.
"Kak Salma!" kini Alif mulai mengajak Salma mengobrol.
"Iya, Alif, kenapa?" sahut Salma dengan nada lembut dan senyum tulus yang tampak di wajahnya.
"Aku haus, apa Kak Salma mau ambilkan air untukku?" tanya Alif yang ingin tahu sesabar apa calon Kakaknya itu?
"Baiklah, Kakak ambilkan air dulu." Pamit Salma berdiri hendak pergi meninggalkan Kafa dan Alif. Tapi lagi-lagi Alif mencegah langkah Salma.
"Kak Salma!" Alif kembali memanggil Salma.
"Iya," sahut Salma menghentikan langkahnya dan berbalik melihat ke arah Alif.
__ADS_1
"Aku belum selesai ngomong," ujar Alif.
Salma yang mendengar Alif berkata jika dirinya belum selesai ngomong kembali berjalan mendekat ke arah Alif, di wajah Salma masih tampak keramahan dan tak ada ekspresi jengkel ataupun amarah sedikitpun.
"Alif mau ngomong apa lagi sama Kakak?" tanya Salma dengan sabar dia duduk tepat di samping kanan Alif seraya menatapnya penuh kasih.
"Aku ingin Kak Salma buatin jus jeruk dan camilan yang di goreng!" pinta Alif.
"Hanya itu?" tanya Salma menunjukkan jika apa yang di minta oleh Alif adalah hal yang mudah dan tidak sulit untuk di kerjakan oleh Salma.
"Apa Kakak yakin bisa buatin aku camilan dan jus jeruk yang enak?" Alif tidak menjawab pertanyaan Salma, dia malah balik bertanya.
"Nanti kalau Kakak sudah selesai masak, kamu bisa mencobanya, setelah itu terserah Alif mau bilang enak atau tidak masakan Kakak," ucap Salma dengan senyum percaya diri yang kini di tunjukkan di wajahnya.
"Baiklah, Alif akan tunggu di sini. Kakak jangan terlalu lama masaknya!" Alif memang super menguji kesabaran, dan untungnya Salma bukan tipe orang yang mudah terpancing emosi, dia memang penyabar apa lagi jika berhadapan dengan anak kecil. Tapi Salma akan keras dan tidak mau mengalah pada orang yanv lebih dewasa seperti Kafa.
"Siap, Alif tunggu saja di sini. Semua yang Alif pengen pasti akan Kakak penuhi jika Kakak mampu," ucap Salma kemudian melenggang pergi meninggalkan Alif dan Kafa yang masih setia duduk di tempatnya.
"Kak Kafa yakin mau nikah sama Kaka itu?" tanya Alif setelah Salma benar-benar pergi dan tak terlihat lagi.
"Memangnya kenapa dengan Kakak yang tadi?" tanya Kafa sambil menatap Alif dengab tatapan heran.
"Tidak apa-apa, Kakak itu memang cantik tapi apa Kak Kafa mencintainya?" Alif kembali bertanya.
Kafa membulatkan mata sempurna mendengar apa yang di tanyakan oleh Alif, bocah yang masih kecil itu seolah mengerti dengan apa yang di tanyakan tadi.
"Anak kecil dilarang bahas cinta-cintaan!" jawab Kafa yang di balas dengan ekspresi cemberut.
__ADS_1