
Ghozi hanya tersenyum melihat apa yang terjadi di hadapannya, Salma yang polos versus Kafa yang posesif plus tukang ngatur tanpa mau di bantah.
"Anak Mbok Sumik laki-laki Neng Salma," sahut Mbok Sumik yang baru saja datang.
"Aku tahu, bukankah tadi Mas Kafa sudah mengatakannya dengan menyebut anak Mbok Sumik putera," ucap Salma.
"Kalau kamu tahu anak Mbok Sumik laki-laki kenapa kamu masih mau bertemu dan berteman dengannya? kamu mau selingkuh dari aku?" tanya Kafa.
"Kok jadi bahas selingkuh sih? anak Mbon Sumik kan masih kuliah Mas, aku yakin umur dia jauh di bawahku, mana mungkin aku selingkuh dengan berondong?" jelas Salma yang ngeri membayangkan dirinya jadi punya hubungan dengan berondong.
"Siapa tahu kamu menyukainya, kita tidak tahu isi hati manusia," Kafa terlihat tetap bersikeras melarang Salma bergaul dengan orang lain selain dirinya.
"Iya, iya, aku akan ikut apa kata Mas Kafa saja," pasrah Salma, dia tidak ingin Kafa membatalkan rencana jalan-jalan ke pantai hanya karena perdebatan kecil seperti saat ini.
"Mbok!" panggil Kafa.
"Iya mas Kafa," sahut Mbok Sumik berjalan mendekat ke arah kafa dan Salma meninggalkan pekerjaannya yang belum selesai.
"Besok suruh Arif ke sini! aku akan mengajaknya bersama Mbok sekalian, kita ke pantai." Ajak Kafa yanh di sambut senyuman gembira oleh Mbok Sumik, sungguh menjadi asisten rumah tangga Kafa memang sangat menyenangkan, selain royal Kafa juga sering sekali mengajak Mbo Sumik dan puteranya jalan-jalan, tak jarang pula Mbok Sumik dan sang putera mendapat traktiran belanja juga makan.
"Baik, Mas kafa, Mbok akan menelfonnya nanti," jawab Mbok Sumik dnegan senyum yang merekah di bibirnya.
Ghozi, Kafa dan Salma melanjutkan memakan habis keripik kentang yang tadi mereka ambil dari lemari, kini ketiganya pergi ke kamar masing-masing untuk bersiap sholat maghrib setelah itu baru makan malam.
Sungguh hari yang indah bagi Salma yang merasa begitu di cintai oleh sang suami.
__ADS_1
"Kamu lagi ngapain Salma?" tanya Kafa saat melihat Salma sibuk memasukkan beberapa baju ke dalam tas ransel yang ada di sudut ruangan.
"Aku mau nyiapin baju buat ke pantai besok," jawab Salma sambil terus memilih beberapa setel baju kemudian memasukkannya ke dalam koper.
"Sebanyak itu? kamu mau nginep berapa hari di sana?" tanya Kafa heran melihat tingkah istrinya yang jauh berbeda dari orang lain.
"Aku pasti memerlukan baju-baju ini di sana nanti Mas, ini untuk ganti berenang, yang ini setelah berenang terua kalau yang ini nanti mau aku pakai kalau mau sholat biar gak najis," Salma menjelaskan beberapa baju yang dia bawa beserta fungsinya.
"Simpan kembali semua baju itu!" titah Kafa.
"Tidam mau, kalau amu gak bawa baju ganti, bagaimana nanti aku bisa mandi di pantai?" tolak Salma yang takut tidak di izinkan berenang oleh Kafa dengan alasan tidak membawa baju ganti.
"Kamu bukan gadis berumur sepuluh tahun yang harus di larang mandi seperti yang kamu katakan tadi Salma," ujarKafa mulai lelah melihat tingkah Salma yang lebih mirip bocah saat ini.
"Aku bisa membelikanmu baju baru di sana, kamu tidak perlu membawa baju seperti yang kamu lakukan saat ini, semua yang kamu butuhkan nanti akan aku belikan di sana, tidak perlu repot membawa dari rumah," Kafa menjelaskan apa yang dia rencanakan.
"Astaga aku lupa, suamiku kan sultan, buat apa aku susah payah seperti saat ini jika suamiku bisa membelikan apapun yang aku mau," ujar Salma dengan senyum devil yang memiliki banyak arti, Kafa hanya bergidik ngeri melihat senyuman Salma saat ini.
"Sudah tinggalkan saja semua itu! biar Mbok Sumik yang membereskannya, lebih baik kamu ikut aku sekarang!" ajak Kafa.
"Kita mau ke mana Mas Kafa?" tanya Salma.
"Ikut saja! tidak usah banyak bertanya!" sahut Kafa.
Seperti biasa Salma hanya bisa mengikuti apa yang di katakan oleh Salma tanpa banyak bertanya apa lagi protes.
__ADS_1
"Loh, kok keluar Mas? bukankah besok kita harus banyak istirahat biar Mas gak kecapek'an nyetirnya?" tanya Salma yang bingung dengan apa yang ingin di lakukan Kafa, saat ini Kafa mengajaknya keluar dari rumah dan entah mau di ajak pergi ke mana.
Mobil terus melaju hingga sampailah Kafa dan Salma di Taman Kota, tempat yang sering sekali di pakai untuk berkumpul dengan teman , sahabat, keluarga atau bahkan pacar.
"Turunlah!" titah Kafasetelah mobil terparkir sempurna di depan taman kota.
"Kenapa kita jadi ke taman kota?" Salma kembali bertanya.
Tanpa menjawab pertanyaan Salma, Kafa langsung menggenggam tangan Salma mengajaknya ke tempat lain yang berada di sebelah barat Taman kota, di sana terdapat ruangan kotak bertuliskan ATM.
"Mas keenapa mengajakku ke ATM?" tanya Salma merasa heran dengan suaminya itu.
"Aku akan mengajarimu bagaimana caranya mengambil uang dari kartu tipis yang pernah aku berikan padamu," jawab Kafa.
"Loh, kenapa mesti di ajari? bukankah kartunya sudah aku kembalikan, lagi pula uang dari Mas Kafa waktu itu masih utuh belum terpakai," ujar Salma yang bingung dengan sikap Kafa.
Kafa pernah memberinya kartu ATM, tapi dengantegas Salma menolak dan mengembalikan kartu itu dengan alasan dia tidak bisa mengambil uang di ATM, dan Kafa mengganti kartu ATM itu dengan uang yang berjumlah lima juta, karena hanya ada segitu di dompetnya waktu itu.
Salma bahkan belum memakai uang itu, sepeserpun uang yang di berikan Kafa belum terpakai, semua itu karena Kafa selalu membayar semua yang Salma beli dan semua kebutuhan rumah juga Kafa yang memenuhinya, jadi Salma bingung mau mempergunakan uangnya untuk apa, akhirnya dia memutuskan untuk menyimpan sajauang pemberian Kafa, Salma berniat membelikan seekor sapi untuk hari raya kurban nanti jika Kafa memberinya uang lagi, Salma ingin berkurban untuk dirinya dan kedua orang tuanya.
"Aku tidak bisa memberimu uang tunai terus-terusan, aku malas mau bolak balik ambil ke ATM, lagi pula kamu harus terlihat pintar jika jadi istriku, jangan tunjukkan kelemahanmu itu pada siapapun!" ujar Kafa yang tak punya ide lagi untuk mencari alaaan agar Salma mau belajar, hanya kata-kata pedas itu yang muncul di fikiran Kafa saat ini.
Dan Salma hanya diam mendengar apa yang di katakan oleh Kafa, dia merasa ucapan Kafa memang ada benarnya, Salma harus belajar menjadi orang kaya sejati mulai saat ini, agar dia tidak mempermalukan Kafa di kemudian hari.
'Huh, repotnya jadi OKB (orang kaya baru) apa-apa gak ngerti,' batin Salma.
__ADS_1