
Ummi tersenyum lembut menatap kedua gadis yang ada di hadapannya itu, melihat sikap Salma dan Tari seperti bumi dan langit, yang satu lembut penuh kehati-hatian sedang yang satu polos suka ceplas ceplos apa adanya tanpa ada yang di buat-buat.
Meskipun begitu, Ummi tetap menyayangi keduanya dan memilih Salma sebagai calon menantunya agar dia bisa terus bersama dengan Salma.
"Kalian bisa ke halaman. Di sana ada Ghozi yang sudah menunggu." Titah Ummi yang langsung di turuti oleh Salma dan Tari.
Keduanya berjalan menuju halaman seperti yang di perintahkan oleh Ummi menemui Ghozi yang ternyata sudah siap dengan mobil yang sudah menyala.
"Sudah siap?" tanya Ghozi yang mengintip dari dalam mobil.
"Sudah, ayo berangkat!" jawab Salma sambil berjalan masuk ke dalam mobil dan duduk di bagian jok tengah.
Tari lanhsung ikut masuk ke dalam mobil tanpa mengucapkan sepatah katapun, melihat Ghozi yang sudah siap di kursi kemudi, semakin hari Ghozi semakin terlihat tampan mempesona, Tari mulai menyukai Ghozi tapi rasa suka Tari bukan cuma karena ketampanan yang di miliki Ghozi, rasa suka Tari pada Ghozi karena dia laki-laki yang baik dan penuh tanggung jawab juga mengerti tentang ilmu agama. Sesekali Tari melirik Ghozi yang tengah serius menatap jalanan.
"Kita ke pasar tradisional saja ya," pinta Salma yang mendapat anggukan dari Ghozi.
Mobil terus melaju meninggalkan pesantren menuju pasar tradisional yang berada tak jauh dari pesantren sesuai yang Salma inginkan.
"Sudah sampai, Ghozi nunggu di sini atau ikut ke pasar?" tanya Salma sebelum turun dari mobil.
"Aku ikut aja, nanti kalau kalian butuh bantuan biar aku bisa langsung bantu," jawab Ghozi.
"Kamu bener juga, kebetulan barang yang mau kita beli banyak banget jadi kamu bisa bantu bawain," ujar Salma dengan senyum manisnya.
__ADS_1
"Ayo Tari!" Salma menarik dan menggandeng lengan Tari untuk pergi masuk ke dalam pasar dan berburu semua barang yang sudah tertulis rapi di secarik kertas.
"Masya allah, belanjaannya banyak banget, mending kalian tunggu di sini dulu. Aku mau taruh belanjaan ino di mobil. Setelah itu kita lanjut belanja lagi," tutur Ghozi yang merasa sudah tak sanggup membawa belanjaan lebih dari apa yang dia bawa sekarang.
"Maaf, gara-gara bantuin kita kamu jadi kerepotan seperti ini," ucap Tari yang sedari tadi diam kini mulai buka suara.
"Sudah, jangan merasa tak enak hati seperti itu! aku ini laki-laki jadi bawa segini saja tak terlalu berat kok, santai aja," jawab Ghozi dengan senyum menawan yang membuat jantung Tari berdegup dengan kencang, tapi degupan itu tiba-tiba berhenti saat Tari melihat Salma dan Ghozi saling menatap dalam.
"Khem," tegur Tari bertujuan untuk menyadarkan kedua pasang mata yang saling memandang tanpa melihat keadaan.
"A~aku pergi dulu." Pamit Ghozi gugup sambil melangkah pergi meninggalkan Salma yang kini tertunduk malu dan Tari yang diam di samping Salma.
Tatapan keduanya menunjukkan jika Ghozi memiliki perasaan lebih pada Salma begitu pula sebaliknya, terlihat jelas kekaguman yang tergambar di wajah Salma membuat hati Tari yang sejak pertama kali bertemu dengan Ghozi kini merasa sedikit sakit, meski Tari tahu jika keduanya tidak akan bisa bersatu karena Salma telah menerima perjodohan yang telah di rencanakan oleh Ummi tapi entah mengapa hatinya sakit seperti di cubit.
"Kamu kenapa Tari?" tanya Salma yang melihat ekspresi Tari berubah, sejak berangkat tadi Tari tersenyum senang, tapi saat ini dia terlihat diam tak bersemangat.
"Kamu boleh istirahat di mobil jika lelah, Tari," ucap Salma yang merasa kasihan melihat ekspresi Tari.
"Tidak apa-apa, aku masih kuat kok, lagian saat ini kita juga lagi istirahat, kamu gk perlu fikirkan aku santai aja!" Tari mencoba menunjukkan sebuah senyum di wajahnya meskipun saat ini hatinya teras sakit Tari harus menyembunyikannya karena Salma tidak tahu perasaannya.
Tari memang takut berkomitmen ataupun menjalin hubungan dengan seorang laki-laki tapi Tari tetaplah manusia dan gadis yang memiliki perasaan, dia bisa jatuh hati ataupun kagum pada seseorang sama seperti gadis lain.
"Ayo belanja lagi!" ajak Ghozi sesaat setelah sampai di samping Salma dan Tari.
__ADS_1
Salma tersenyum mengangguk sebagai jawaban, sikap Salma berbanding terbalik dengan Tari yang hanya diam tak berbicara ataupun menanggapi ucapan dan keberadaan Ghozi.
Awalnya Salma tak begitu memperhatikan perubahan sikap Tari, hingga akhirnya dia sadar jika saat ini sikap Tari berbeda dari biasanya, Salma sangat hafal dengan sikap Tari dan apa yang sedang dia rasakan, dulu dia pernah bersikap seperti sekarang meski awalnya Salma tak tahu jika Tari sedang jatuh hati hingga akhirnya Tari bercerita dengan sendirinya saat laki-laki itu telah pergi.
'Apa mungkin Tari menyukai Ghozi?' batin Salma sambil memeperhatikan sikap dan ekspresi Tari.
"Salma, kenapa kamu diam saja?" tegur Ghozi yang sejak tadi memperhatikan wajah Salma yang terlihat sedang berfikir dengan kerasnya.
"Eh, tidak apa-apa," jawab Salma sambil melihat ke arah Tari yang hanya meliriknya sekilas kemudian segera berbalik kembali fokus memilih cabai yang ada di hadapannya.
"Bukankah aku sudah pernah bilang kalau melamun itu tidak baik, kenapa kamu kembali melamun?" tanya Ghozi dengan nada selembut sutera, sangat terdengar jelas nada penuh kasih sayang dan perhatian di setiap ucapan Ghozi tapi Tari yang mendengarnya berusaha acuh dan tak menghiraukannya meski hatinya semakin sakit.
"Aku gak melamun kok, tadi cuma lagi mikir aja apa ada yang ketinggalan atau enggak, takut ada barang yang belum terbeli," jawab Salma membuat alasan agar Ghozi tak lagi bertanya.
"Alhamdulillah jika seperti itu, ingat Salma! jangan pernah melamun+ jika kamu butuh teman untuk curhat atau berbagi cerita temui aku! karena aku akan selalu ada untuk.mendengar keluh kesahmu," ujar Ghozi dengan senyum khasnya.
Mendengar apa yang di katakan Ghozi membuat Tari semakin yakin jika saat ini Ghozi sedang jatuh hati pada Salma, dan Tari hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apapun.
Ketiganya kembali berbelanja membeli semua barang yang tercatat di kertas yang Ummi bawakan.
"Alhamdulillah, akhirnya selesai juga," lirih Salma setelah semua barang sudah tersusun rapi di bagasi dan jok belakang mobil.
"Setelah ini kita mampir dulu ke rumahku, Umikku sudah menyiapkan makan untuk kita," ucap Ghozi.
__ADS_1
"Apa Ummi mengizinkan jika kita mampir ke rumahmu dulu?" tanya Salma yang merasa tak enak hati jika harus mampir tanpa pamit pada Ummi.
"Tenang saja, aku sudah meminta izin tadi, jadi kalian tidak perlu khawatir!" jawab Ghozi mencoba meyakinkan Salma dan Tari agar tak ragu untuk ikut bersamanya.