Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Bola-Bola Tahu Rambutan


__ADS_3

Salma berjalan dengan langkah ragu mencari di mana letak dapur, karena ini pertama kalinya Salma masuk ke dalam rumah itu wajar saja jika Salma tidak tahu di mana letak dapur.


"Mbak!" tegur Salma pada seorang santri yang kebetulan lewat di sampingnya.


"Iya, kenapa Mbak?" sahut Santri itu.


"Mbak letak dapurnya di mana?" tanya Salma.


"Mbak bisa jalan lurus ke sana terus belok kiri, di sana letak dapurnya," tunjuk Santri itu.


"Terima kasih ya Mbak," ujar Salma yang di tanggapi dengan anggukan dan senyum yang terlihat mengembang di wajah Santri itu.


Salma berjalan menuju tempat yang tadi di tunjukkan oleh Sang Santri. Dan benar saja dia menemukan dapur yang sudah ramai dengan beberapa orang yang sedang memasak dan membersihkan dapur.


"Permisi!" tegur Salma saat melihat ada beberapa orang yang sedang sibuk dengan pekerjaan mereka masing-masing.


"Iya, ada apa Mbak?" sahut salah satu orang yang ada di sana.


"Kenalkam nama saya Salma, saya mau minta izin untuk memasak di sini, karena Alif eh maksud saya Mas Alif meminta saya untuk membuatkannya jus jeruk dan camilan," ucap Salma setelah terdiam cukup lama.


"Oh silahkan! Mbak Salma bisa menggunakan peralatan masak di sebelah sini. Dan bahan masakannya ada di lemari sebelah sini." Tunjuk seseorang yang terlihat sedikit tua dengan senyum ramahnya.


"Oh ya, sampai lupa, perkenalkan nama saya Darmi, Nak Salma bisa panggil saya Mbok Darmi," sambung wanita itu yang ternyata bernama Mbok Darmi.


"Terima kasih sudah di kasih tahu Mbok," ujar Salma seraya menunjukkan senyum manisnya ke arah Mbok Darmi.

__ADS_1


"Sama-sama, oh ya, Mas Alif kurang suka jus terlalu manis, jadi cukup dua sendok gula aja," tutur Mbok Darmi yang tak ingin Salma mendapat amukan dari Alif.


"Baiklah, terima kasih sudah mau ngasih tahu aku," ujar Salma penuh rasa syukur karena masih ada orang baik yang mau memberitahukannya agar Salma bisa mendapat pujian buka cacian dari Alif yang bertubuh bocah tapi bermulut Kafa.


Satu masalah telah usai, Salma sudah mengerti apa yang harus dia buat dan kini tinggal membuat camilan yang mungkin di sukai oleh Alif, Salma berjalan menuju tempat penyimpanan makanan di lemari es, ada berbagai macam bahan masakan juga makanan yang terdapat di sana, Salma terus memperhatikan bahan apa yang bisa di masak dan perhatian Salma tertuju pada mie kuning dan tepung juga telor plus tahu yang ada di dalam lemari es.


"Bagaimana kalau aku buat bola-bola tahu aja buat Alif dan Kafa," lirih Salma.


Dengan cekatan Salma mengambil semua bahan yang di perlukan kemudian mulai mengelolahnya dengan penuh hati, semangat Salma terus berkobar hingga akhirnya jadilah bola-bola tahu rambutan, camilan yang biasanya Ibu Salma siapkan setiap kali mereka libur tidak berjualan dan menikmati waktu santai bersama.


"Kamu buat apa Salma?" tanya Mbok Darmi yang baru saja datang, sepertinya beliau baru selesai bersih-bersih di tempat lain, terlihat dari lap dan kemonceng yang ada di tangannya.


"Kebetulan Mbok Darmi datang, sini Mbok! cobain masakan Salma, kasih tahu ya bagaimana rasanya? enak atau tidak," ajak Salma yang kini mulai menyiapkan saos sambal dan mayonaise juga bola-bola tahu rambutan yang sudah dia masak untuk Mbok Darmi.


"Emmn, rasanya enak Salma," puji Mbok Darmi.


"Alhamdulillah kalau memang enak, aku harap Nas Alif menyukainya," ujar Salma, saat ini Salma memanggil Alif dengan panggilan Mas karena dia tahu jila di pesantren ini Alif di panggil Mas karena dia putera dari Umik Wardah dan Mbok Darmi juga yang lain pasti tidak tahu jika Salma calon dari Kafa Kakak Umik Wardah, tadi Ummi hanya memperkenalkan Salma pada saudara dan para tamu tapi belum sempat memperkenalkan Salma pada orang-orang yang membantu Umik Wardah di dalam rumahnya.


"Mas Alif kurang suka saos tomat, tapi dia lebih suka saos sambal dan mayonise," Mbok Darmi kembali memberitahu apa yang di sukai dan tidak di sukai oleh Alif.


"Loh bukankah saos sambal itu pedas Mbok, apa Mas Alif tidak kepedesan nanti?" tanya Salma yang merasa ragu dengan apa yang di beritahukan oleh Mbok Darmi.


"Mas Alif memang menyukai makanan pedas Salma," jawab Mbok Darmi menghilangkan keraguan yang terlihat di wajah Salma.


"Pantas saja mulutnya pedas, makanannya aja pedas padahal masih kecil sudah doyan makanan pedas," lirih Salma yang hanya di dengar oleh dirinya sendiri tapi Mbok Darmi yang memiliki pendengaran cukup tajam samar-samar mendengarnya.

__ADS_1


"Kamu bilang apa tadi Salma?" tanya Mbok Darmi.


"Tidak ada Mbok, aku tidak bilang apa-apa," Salma tak ingin Mbok Darmi tahu jika dia sedang mengumpat Alif yang tak lain putera dadi gurunya.


"Kalau begitu Salma pamit dulu ya Mbok," pamit Salma tak ingin terus membahaa makanan dangan Mbok Darmi, karena jika itu terjadi maka camilan yang di masak Salma akan dingin dan tidak akan enak di makan.


"Hm," sahut Mbok Darmi singkat.


Salma berjalan menuju kamar Alif dengan kepercayaan diri yang tinggi dan semangat yang berkobar, dia yakin jika Alif dan Kafa pasti akan menyukainya.


"Assalamualaikum," ucap Salma setelah sampai di kamar Alif.


"Waalaikum salam," sahut Alif dan Kafa hampir bersamaan.


"Ini camilan dan jus jeruk yang Alif pesan!" ujar Salma dengan lembut sembari memberikan satu nampan berisi satu piring ukuran cukup besar dengan mangkok kecil berisi saos sambal dan mayonaise, dan dua gelas jus jeruk pesanan Alif.


"Makanan apa ini?" tanya Alif sambil mengerutkan dahi, dia terlihat begitu bingunh dengan makanan yang ada di hadapannya saat in karena ini baru pertama kalinya dia melihat makanan yang di huat oleh Salma.


"Ini namanya bola-bola tahu rambutan, di coba dulu baru komentar Alif!" ujar Salma dengan senyum yang masih terlihat meski dalam hatinya ada kedongkolan tersendiri saat melihat Alif menatap remeh ke arah makanan yang baru saja dia buat dengan dahi yang mengkerut.


"Apa Kak Kafa pernah memakan makanan seperti ini?" Alif masih terlihat ragu untuk memakannya.


"Belum sih, tapi Kakak akan memakannya, siapa tahu rasanya enak," jawab Kafa. Sebenarnya Kafa tahu jika Salma pandai memasak karena beberapa kali dia makan masakan Salma dan semua yang di masak Salma terasa enak.


Alif yang mendengar jawaban Kafa mulai mengambil dan mencoba makanan yang baru saja di huat oleh Salma, ekspresi Alif tak terbaca saat memasukkan makanan itu ke dalam mulutnya.

__ADS_1


__ADS_2