
"Alhamdulillah, semuanya sudah hampir selesai Bah, tinggal nunggu hari H saja," jawab Ummi dengan senyum yang masih mengembang di pipinya, menunggu hari pernikahan Kafa hampir sama seperti menunggu hari kelahiran, ada rasa senang, dan rasa sedih semuanya campur aduk, Ummi merasa sangat senang bahkan terkesan bahagia menunggu hari pernikahan Kafa, tapi hati nya juga merasa sedih karena Salma menikah tanpa ada yang mendampingi.
"Alhamdulillah jika semuanya sudah siap, maaf Abah tidak bisa membantu Ummi dan Kafa untuk mempersiapkan segalanya," ujar Abah yang sebenarnya merasa kurang senang karena tidak bisa ikut andil dalam mempersiapkan pernikahan putera semata wayangnya.
"Sudahlah, tidak apa-apa Abah, Ummi sangat mengerti keadaan Abah, lagi pula in semua juga salah Ummi yang langsung memajukan tanggal pernikahan tanpa mendiskusikannya terlebih dahulu," Ummi mengakui kesalahannya dan tidak menyalahkan Ummi atas apapun karena Ummi sangat mengerti jika janji yang sudah di buat tidak bisa di batalkan begitu saja.
"Syukurlah jika Ummi mengerti dengan keadaan Abah," ungkap Abah yang begitu bersyukur atas semua pengertian yang di miliki oleh Ummi untuk dirinya.
"Abah sudah makan?" tanya Ummi dengan nada lembut penuh perhatian.
"Belum Ummi, tadi Abah langsung pulang setelah selesai acara, Ummi ingin melihat keadaan Salma yang sudah pulang dari rumah sakit," jawab Abah jujur.
"Ummi akan siapkan makan untuk Abah." Sahut Ummi.
__ADS_1
"Ummi siapkan saja makan untuk Abah! nanti kalau sudah siap panggil Abah!" titah Abah.
"Loh Abah mau ke mana?" tanya Ummi yang merasa bingung dengan perintah yang di berikan oleh Abah padanya.
"Abah ingin melihat keadaan Salma dulu." Jawab Abah seraya berdiri melenggang pergi meninggalkan Ummi yang masih duduk di tempat dan belum bergerak sedikitpun dari tempatnya.
Hari ini di lewati dengan penuh rasa syukur oleh Kafa dan keluarganya, meskipun Salma masih belum sembuh sepenuhnya tapi Kafa sangat bersyukur karena hari ini dia bisa melewatinya di rumah tanpa harus bolak balik ke rumah sakit.
"Iya, Mas Kafa, ada apa?" sahut Ghozi menatap lurus ke arah Kafa yang kini berjalan mendekat ke arahnya.
"Malam ini dan sampai beberapa hari ke depan aku akan tidur di kamarmu, apa boleh?" jawab Kafa sambil melempar pertanyaan lagi pada Ghozi yang justru terlihat santai menanggapinya.
"Tentu boleh Mas Kafa, apapun bisa Mas Kafa lakukan," jawab Ghozi.
__ADS_1
"Bagaimana keadaanmu?" tanya Kafa yang kini duduk di samping kursi di mana Ghozi duduk.
"Alhamdulillah, baik, sama seperti yang Mas Kafa lihat," jawab Ghozi sambil tersenyum ke arah Kafa dengan tujuan agar Kafa percaya jika dia baik-baik saja.
"Aku tahu kamu baik dan sehat, hanya saja aku ingin tahu bagaimana kabar hatimu? apa dia masih berlabuh di dermaga yang salah?" Kafa kembali bertanya.
"Hatiku sehat kok Mas Kafa, tenang saja, Aku perlahan mulai pergi dari dermaga yang bukan milikku," Ghozi menjawab pertanyaan Kafa dengan sangat jelas.
"Syukurlah, aku harap kamu segera punya pengganti dan melupakan dia yang sebentar lagi akan sah menjadi milikku," ujar Kafa dengan senyum yang sebenarnya semakin membuat Ghozi sedikit meradang.
"Do'akan saja!" sahut Ghozi yang kini kembali menatap langit yang terlihat indah dan sayang untuk di lewatkan.
.
__ADS_1