Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Martabak Untuk Ummi


__ADS_3

"Khem," suara deheman seorang laki-laki terdengar mengejutkan Ghozi dan Tari yang sedang asyik duduk.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Salma yang terlihat begitu penasaran dengan apa yang di lakukan oleh kedua sejoli yang terlihat sedang berbincang serius.


"Tidak ada, kita sedang jenuh menunggu kalian yang tak kunjung datang, jadi kita putuskan untuk menikmati suasana sekitar," jawab Tari.


"Kalian dari mana saja? kenapa lama sekali?" sambung Tari.


"Kita juga sedang menikmati suasana sekitar, kalian masih mau keliling atau langsung pulang?" Salma menjawab pertanyaan Tari dengan pertanyaan yang di tujukan kembali padanya.


"Sejak tadi aku menunggumu kembali untuk pulang," jawab Tari.


"Baiklah, Ayo pulang!" ujar Salma seraya menarik jemari tangan Kafa yang berada di sampingnya.


Perjalanan pulang pun terasa begitu menyenangkan, karena saat ini semua masalah sudah selesai tak ada lagi yang bisa memisahkan Kafa dan Salma kecuali ajal dan takdir yang telah tertulis untuk keduanya.


"Assalamualaikum," ucap keempat serangkai yang baru saja datang.


"Waalaikum salam," sahut Ummi yang kini membukakan pintu untuk keempatnya.


"Kami hanya jalan-jalan di kompleks Ummi, tapi tadi mampir dulu ke warung martabak, bukankah Ummi menyukai martabak?" kelas Kafa, sedang Salma yang mendengar Kafa menjelaskan mereka ke mana dulu sebelum pulang berjalan mendekat ke arah Ummi sambil memberikan satu bungkus martabak yang ada di tangannya.


"Lain kali kabari Ummi jika kalian pulangnya lama, sekalipun kalian bawa makanan favorit Ummi jika pulangnya lama Ummi kurang menyukainya," ujar Ummi sambil mengambil martabak yang tadi di berikan oleh Salma.


"Maaf, Ummi, lain kali kita gak bakal bilangin lagi," ucap Kafa.


"Iya, Ummi kami minta maaf," sambung Salma mewakili Tari dan Ghozi yang kini mengangguk memberi isyarat jika mereka juga meminta maaf sama seperti Kafa.


"Sudahlah, yang penting kalian pulang dengan selamat, Ummi sudah senang dan lega," ucap Ummi yang kini tersenyum mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa menegangkan akibat omelannya.

__ADS_1


"Khem," suara deheman seorang laki-laki terdengar mengejutkan Ghozi dan Tari yang sedang asyik duduk.


"Kalian sedang apa di sini?" tanya Salma yang terlihat begitu penasaran dengan apa yang di lakukan oleh kedua sejoli yang terlihat sedang berbincang serius.


"Tidak ada, kita sedang jenuh menunggu kalian yang tak kunjung datang, jadi kita putuskan untuk menikmati suasana sekitar," jawab Tari.


"Kalian dari mana saja? kenapa lama sekali?" sambung Tari.


"Kita juga sedang menikmati suasana sekitar, kalian masih mau keliling atau langsung pulang?" Salma menjawab pertanyaan Tari dengan pertanyaan yang di tujukan kembali padanya.


"Sejak tadi aku menunggumu kembali untuk pulang," jawab Tari.


"Baiklah, Ayo pulang!" ujar Salma seraya menarik jemari tangan Kafa yang berada di sampingnya.


Perjalanan pulang pun terasa begitu menyenangkan, karena saat ini semua masalah sudah selesai tak ada lagi yang bisa memisahkan Kafa dan Salma kecuali ajal dan takdir yang telah tertulis untuk keduanya.


"Assalamualaikum," ucap keempat serangkai yang baru saja datang.


"Waalaikum salam," sahut Ummi yang kini membukakan pintu untuk keempatnya.


"Kami hanya jalan-jalan di kompleks Ummi, tapi tadi mampir dulu ke warung martabak, bukankah Ummi menyukai martabak?" kelas Kafa, sedang Salma yang mendengar Kafa menjelaskan mereka ke mana dulu sebelum pulang berjalan mendekat ke arah Ummi sambil memberikan satu bungkus martabak yang ada di tangannya.


"Lain kali kabari Ummi jika kalian pulangnya lama, sekalipun kalian bawa makanan favorit Ummi jika pulangnya lama Ummi kurang menyukainya," ujar Ummi sambil mengambil martabak yang tadi di berikan oleh Salma.


"Maaf, Ummi, lain kali kita gak bakal bilangin lagi," ucap Kafa.


"Iya, Ummi kami minta maaf," sambung Salma mewakili Tari dan Ghozi yang kini mengangguk memberi isyarat jika mereka juga meminta maaf sama seperti Kafa.


"Sudahlah, yang penting kalian pulang dengan selamat, Ummi sudah senang dan lega," ucap Ummi yang kini tersenyum mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa menegangkan akibat omelannya.

__ADS_1


Keempat serangkai yang berdiri di depan pintu itu langsung tersenyum senang, bagaimana mereka tidak tersenyum jika saat ini mereka merasa sangat di cintai oleh Ummi.


"Ayo makan martabak bersama!" ajak Ummi.


Ummi melangkah dengan langkah ringan sambil membawa martabak yang tadi di bawakan oleh Salma dan Kafa, martabak yang di bawa memang hanya satu kotak tapi isinya penuh karena tadi Salma dan Kafa membelinya dengan porsi double.


"Mbok Sumik!" panggil Ummi yang tak akan mungkin bisa menikmati martabak itu sendirian, dia juga memanggil Mbok Sumik yang kebetulan sedang duduk diam di kamarnya sambil menikmati siaran televisi yang sedang menyiarkan berita siaran langsung.


"Iya, Ummi," sahut Mbok Sumik yang langsung berjalan keluar dari kamar setelah mematikan siaran televisinya.


"Sini gabung! kita makan martabak bareng-bareng." Ajak Ummi.


"Terima kasih Ummi, tapi Mbok baru saja selesai makan, jadi masih kenyang, maaf, bukannya menolak, Mbok hanya merasa kenyang dan tidak mungkin makan lagi," Mbok Sumik berusaha keras merangkai kata agar Ummi tidak marah atau merasa sakit hati karena dirinya menolak ajakan Ummi untuk makan martabak bersama-sama.


"Tidak apa-apa Mbok, kalau sudah kenyang jangan di paksakan!" sahut Ummi yang sangat memahami sifat dari Mbok Sumik.


Sejak dulu Mbok Sumik selalu menakar makanan yang dia makan, Mbok Sumik akan berhenti makan jika merasa sudah kenyang, dua bukan orang serakah yang akan terus makan kapanpun dia mau atau kapanpun jika ada makanan di hadapannya.


"Kalau begitu Mbok pamit kembali ke kamar, Ummi." Pamit Mbok Sumik seraya melangkah meninggalkan Ummi dan yang lain yang masih duduk dengan setia di ruang keluarga.


"Terus rencana kalian sekarang bagaimana?" tanya Ummi menatap intens ke arah Salma dan Kafa yang duduk tak jauh darinya.


Salma dan Tari duduk di atas sofa sebelah tempat duduk Ummi, sedang Kafa dan Ghozi duduk di depan Ummi tepatnya duduk lesehan di lantai.


"Kami belum tahu Ummi," jawab Kafa yang mengerti jika pertanyaan yang di ungkapkan oleh Ummi di tujukan padanya.


"Ummi ingin pulang besok, apa kalian bersedia pulang bersama Ummi? Abah juga akan pulang besok," Ummi kembali bertanya.


"Kalau Kafa terserah Salma, Ummi, jika Salma mau pulang Kafa akan ikut pulang," jawaban yang selalu bisa membuat hati seorang Ibu terkadang merasa sedikit sakit.

__ADS_1


Putera yang dulu selalu menuruti ucapannya dan lebih mementingkan keputusan Ummi dan selalu menuruti apapun yang Ummi minta, tapi setelah menikah keputusan sang istri menjadi pilihannya.


__ADS_2