Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Cukup Mas!


__ADS_3

Salma hanya terdiam mendengar setiap kata yang keluar dari bibir manis Kafa, amarah Kafa menumbuhkan keberanian dalam diri Salma untuk melawan Kafa yang memang terlihat sudah emosi.


"Cukup Mas!!" Salma yang merasa sudah pusing mendengar setiap kata yang keluar dari bibir Kafa di sertai dengan bentakan.


Kafa yang baru pertama kali melihat Salma membentak seperti saat ini langsung terdiam karena terkejut, Salma yang biasanya selalu lemah lembut dengan tutur bahasa yang halus kini bersuara begitu keras dan membentak.


"Kamu tahu betapa sakitnya hati dan hancurnya perasaanku saat melihat gadis lain bersandar di bahu yang seharusnya hanya milikku? bagaimana jika hal itu terjadi padaku? bagaimana jika ada laki-laki lain yang bersandar di bahuku? apa Mas Kafa bisa menerima ataupun memakluminya? apa Mas Kafa bisa langsung percaya pada penjelasanku?" tanya Salma yang kini memutar posisinya.


Kafa terdiam menatap lekat ke arah Salma mencoba mencari tahu bagaimana perasaan Salma saat ini?


"Maaf," lirih Kafa yang baru sadar jika apa yang dia lakukan barusan bukanlah hal yang benar, tak seharusnya dia meluapkan emosi di hadapan Salma yang tengah terluka.


"Maaf, jika apa yang aku lakukan menyakiti hatimu, Maaf karena aku tak bisa mengerti perasaanmu, tapi satu hal yang perlu kamu ketahui Salma, perasaanku tulus padamu, rasa cinta yang aku miliki tak akan pernah bisa di ukur oleh apapun, karena itulah jangan pernah meminta pisah ataupun berfikir untuk pergi dariku!" Kafa yang mengerti jika dirinya salah mencoba mengalah dan meluluhkan hati Salma yang dia yakini tak sekeras ucapannya tadi.


Sedang Salma langsung duduk dengan kepala yang menunduk menikmati setiap rasa yang tengah bergulat dalam hatinya.


Suasana kamar berubah menjadi hening, tak ada yang bicara ataupun melanjutkan pembicaraan hingga satu bel tanda jika ada yang datang terdengar menggema di ruangan.


Salma langsung berdiri di ikuti Kafa dari belakang mendekat ke arah pintu dan melihat siapa yang datang.


"Pagi!!" suara Riki menyeruak masuk ke dalam telinga, memberi kode bahaya di otak Kafa yang sedang berdiri tepat di belakang Salma.


"Riki, ada apa?" tanya Salma sambil mengerutkan dahi bingung melihat Riki yang datang tanpa di undang di pagi hari.


"Apa tidak sebaiknya kalian menyuruhku masuk? bukankah aku tamu di sini?" ujar Riki dengan wajah penuh percaya diri yang terlihat jelas di wajahnya.


"Ini bukan rumah di mana kamu bisa bertamu seenaknya, di sini kamar hotel, tempat privasi bagi setiap tamu yang menginap," sahut Kafa.


Tapi apa yang di lakukan Kafa sangat jauh berbeda dengan apa yang di katakan oleh Salma, dia seolah mempunyai ide untuk membalas apa yang sudah dia rasakan kemarin, meski dia tahu jika apa yang di lakukannya bukanlah hal yang baik, tapi Salma tetap melakukannya, namanya juga manusia jadi tidak ada kesempurnaan dalam diri Salma.


"Masuklah Riki!" ujar Salma yang cukup membuat Kafa meradang, bagaimana bisa Salma mengizinkan Riki yang notabennya bukan siapa-siapa mereka masuk ke dalam kamar hotel yang mereka tempati, tapi Kafa yang mengerti jika saat ini Salma sedang marah hanya diam dan mengikuti apapun yang Salma mau tanpa ada niat untuk mendebat ataupun memprotesnya, Kafa hanya perlu memperhatikan saja apa yang terjadi setelah itu.


Riki berjalan di belakang Salma dan Kafa yang kini berjalan menuju ruang tamu.


"Duduklah!" ujar Salma sesaat setelah keduanya sampai di ruang tamu.


Kafa memilih duduk dekat dengan Salma seolah memberi tanda jika Salma itu miliknya dan tak ada satu orangpun yang bisa merebutnya dari Kafa, meski dia adalah Riki.

__ADS_1


"Terima Kasih," sahut Riki dengan lagak tengil dan senyum centil yang bisa membuat siapapun ingin menonjok wajahnya.


"Ada apa pagi-pagi kamu ke sini?" tanya Salma.


"Aku hanya ingin memberikan ini." Rimi mengeluarkan tas selempang kecil yang sejak tadi di sembunyikan di balik jaketnya.


"Bukankah ini milikmu?" tanya Riki dengan senyum yang masih mwngembang di wajahnya.


"Iya, terima kasih," jawab Salma mwngambil alih tas yang baru saja di sodorkan padanya.


"Aku saja hampir lupa dengan tas ini, kamu menemukannya di mana?" tanya Salma.


"Tasnya tertinggal di mobil sopirku menemukannya tadi pagi, kamu bisa memeriksa apakah isinya masih lengkap atau tidak?" titah Riki.


Salma langsung memeriksa isi dari tas tersebut dan benar saja isinya masih utuh, Salma dan Riki terlihat biasa saja tapi berbeda dengan ekspresi wajah Kafa yang kinimmerah padam, api cemburu sedang menguasai hatinya, bagaimana bisa tas Salma sampai tertinggal di mobil Riki, apa yang mereka lakukan semalam? berbagai pertanyaan muncul dalambenk Kafa.


"Alhamdulillah, semuanya lengkap, terima kasih sudah mengantarka tasnya, dan terima kasih sudah membantuku semalam," ujar Salma.


Hati Kafa semakin terasa panas mendengar Salma berterima kasih seperti saat ini.


"Tentu saja, sekali lagi terima kasih untuk semua bantuannya, semoga allah membalas kebaikanmu," sahut Salma.


"Sama-sama, kau begitu aku permisi dulu." Pamit Riki yang kini berdiri di ikuti Salma dan tentunya Kafa yang seau berada di samping Salma mengantar Riki keluar dari kamar.


"Ada apa kamu sama Riki? kenapa kalian jadi akrab seperti itu dan terima kasih apa yang kamu maksud?" rentetan pertanyaan keluar dari mulut Kafa.


"Semua keakraban dan terima kasih yang ku ucapkan karena dirimu Mas," jawab Salma yang tak ingin kembali di salahkan.


"Maksud kamu bagaimana Salma?" Kafa yang tidak mengerti kini mulai mencari jawaban.


"Riki yang menolongku sampai aku bisa kembali pulang dengan selamat dan dia pula yang menolongku sampai aku bisa masuk ke dalam kamar ini semalam," Salma yang tak ingin di salahkan terus memilih untuk menceritakan segalanya pada Kafa.


"Dan satu lagi, dia orang baik yang memiliki kesopanan tinggi tidak seprti suamiku yang berpelukan di tempat umum," ujar Salma.


"Aku bisa menjelaskan semuanya Salma, apa yang kamu lihat kemarin tidak seperti apa yang kamu duga, ketahuilah aku hanya menyayangimu dan hanya kamu yang aku harapkan menjadi pasangan hidupku, ibu dari anak-anakku," Kafa berusaha menjelaskan apa yang terjadi.


"Aku mohon padamu Salma, dengarkan penjelasanku!" pinta Kafa.

__ADS_1


Salma yang lelah jika harus terus-terusan bertengkar memilih untuk duduk dan mendengarkan setiap penjelasan yang di jelaskan oleh Kafa.


Kafa menjelaskan secara detail peristiwa dan apa yang sebenarnya terjadi dan Salma yang memang harus mengerti dengan keadaan yang terjadi hanya bisa mempercayai setiap kalimat yang keluar dari bibir Kafa.


"Jika memang itu yang terjadi sebenarnya, aku akan mencoba mempercayainya, semoga saja Mas Kafa jujur dan tidak sedang menutupi sesuatu," sahut Salma setelah mendengar semua penjelasan Kafa.


"Percayalah! aku tidak pernah berbohong padamu Salma! aku tulus mencintaimu dan aku tidak akan pernah menyakiti perasaanmu," Kafa mencoba membuat Salma percaya dengan apa yang dia lakukan.


"Baiklah, aku percaya padamu Mas, tapi lain kali aku akan benar-benar pergi jika hal seperti ini kembali terjadi," ancam Salma.


"Aku janji padamu, aku tidak akan pernah membuatmu tersakiti seperti kemarin dan aku akan lebih menjaga diri agar kamu tidak salah faham lagi," Kafa kembali berucap agar Salma lebih percaya lagi padanya.


"Aku pegang janjimu Mas," sahut Salma.


Kafa yang mendengar jawaban Salma langsung mendekat dan berniat memeluk istrinya itu, tapi dengan gerakan cepat Salma mengelak.


"Aku masih marah padamu Mas, jadi tidak ada acara peluk-pelukan," ujar Salma.


Kafa hanya tersenyum kecut menanggapi ucapan Salma yang membuat keinginannya tak terwujud itu.


Pagi ini ada banyak hal yang di lewati kedua pengantin baru yang sebenarnya masih merasakan manisnya madu pernikahan.


"Sayang!" Kafa kembali bermanja dan memanggil Salma dengan nama kesayangan yang dia berikan.


"Hm," sahut Salma singkat.


Salma masih enggan untuk menanggapi panggilan Kafa, sejujurnya Salma masih sakit hati dengan apa yang di lakukan Kafa.


"Bagaimana kalau kita sarapan nasi pecel?" usul Kafa.


"Terserah," sahut Salma dengan ekspresi datar yang mampu membuat Kafa bingung karenanya.


"Kamu mau aku pesankan atau kita makan di luar kamar?" Kafa kembali memberi tawaran pada Salma.


"Terserah," jawaban sama yang cukup membuat Kafa jengkel karenanya, tapi Kafa tetap berusaha bersabar karena dia tahu dengan pasti jika saat ini Salma masih marah padanya.


'Alamat, gak dapat jatah lagi kalau kayak gini ceritanya,' batin Kafa mengusap dada mencoba bersabar dengan sikap Salma.

__ADS_1


__ADS_2