Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Tanda adanya Benih-benih


__ADS_3

"Khem, kayaknya udah ada benih-benih ini," sindir Ghozi saat Kafa baru saja duduk di kursi ruang tamu.


"Benih-benih gundulmu," sahut Kafa.


"Hahahaha," tawa Ghozi terdengar begitu lepas dan menggelegar.


'Bug'


Satu bantal sofa melayang tepat di lengan Ghozi yang sedang tertawa.


"Ishh sakit tau, ini namanya penganiayaan dan kau tahu pasti bukan pasal tentang penganiayaan berapa hukuman dan dendanya," ujar Ghozi.


"Berisik kamu," ketus Kafa.


Bukannya takut Kafa bahkan berucap dengan ketusnya.


"Ngomong-ngomong, aku ini tamu loh, apa tidak ada minuman atau makanan yang bisa aku makan?" tanya Ghozi yang saat ini menatap kosong ke arah meja yang ada di hadapannya. Tanpa menjawab pertanyaan Ghozi Kafa langsung mengambil ponselnya dan menelfon seseorang.


"Mbok Sumik, tolong siapkan es jeruk dan cemilan! antar ke ruang tamu!" suara Kafa terdengar tegas dan penuh wibawa yang terdengar jelas di telinga Ghozi.


"Wahh enak ya jadi majikan, apa lagi punya asisten keibuan seperti Mbok Sumik, jadi berasa tinggal sama Ibu sendiri," ujar Ghozi seraya merebahkan diri di atas sofa ruang tamu sambil memeluk bantal yang tadi di lemparkan Kafa.


"Kamu ngapain tidur di sini?" tanya Kafa dengan ekspresi wajah panik melihat Ghozi yang berbaring di atas sofa.


"Aku mau istirahat dulu. Kamu fikir menyetir sendiri dengan anak yang sangat jauh, tidak membuat aku capek apa," Ghozi mengungkapkan segala keluh kesah yang ada dalam hatinya.


"Menginaplah di sini! istirahat saja di ruang tamu jika kamu masih lelah," titah Kafa.


"Ini baru tuan rumah yang baik, aku suka tuan rumah yang ramah seperti ini," sahut Ghozi.

__ADS_1


Keduanya larut dalam obrolan yang terdengar begitu seru dan menyenangkan hingga Mbok Sumik datang dengan satu nampan berisi es jeruk dan camilan yang terlihat menggiurkan.


"Silahkan di minum Mas Kafa, Mas Ghozi," ucap Mbok Sumik dengan ramah dan senyum yang menghiasi wajahnya.


"Wah terima kasih Mbok," sahut Ghozi dengan wajah berbinar.


"Mbok Sumik memang paling hebat dalam menghidangkan sesuatu," sambung Ghozi memuji Mbok Sumik yang sudah membawakannya makanan dan minuman segar yang memang terlihat begitu menyejukkan tenggorokan yang tengah kering.


"Wah Mas Ghozi bisa saja, Mbok cuma ngelakuin hal yang ringan dan bisa di lakuin siapa aja," jawab Mbok Sumik.


Ghozi tersenyum sebagai balasan dari ucapan Mbok Sumik, rasa hausnya sudah tak tertahankan lagi, dia langsung meminum es jeruk yang Mbok Sumik sediakan di dalam gelas, untung saja Mbok Sumik juga membawakan es lemon tea yang di taruh di dalam teko cukup besar.


"Ini apa isinya Mbok?" tanya Ghozi setelah menghabiskan satu gelas penuh es jeruk buatan Mbok Sumik.


Ghozi yang sudah hafal kebiasaan Ghozi yang selalu menghabiskan es jeruk buatannya sekali minum setiap kali datang kini berinisiatif membuatkan lemon tea sebagai minuman tambahan yang bisa di nikmati setelah menghabiskan es jeruk.


"Itu lemon tea khusus untuk Mas Ghozi jika merasa masih kurang setelah minum es jeruk," jawab Mbok Sumik jujur tanpa filter.


"Mas Kafa jangan salah faham! Mbok tetap setia memperhatikan Mas Kafa, apa Mas Kafa sudah berubah seleranya?" bela Mbok Sumik.


"Maksudnya Mbok?" kini Ghozi yang menyahuti ucapan Mbok Sumik.


"Lemon tea ini salah satu minuman kesukaan Mas Kafa, dan Mbok Sumik sering membuatkan Lemon tea ini untuk Mas Kafa," jelas Mbok Sumik.


Kafa hanya diam setelah mendengarkan penjelasan Mbok Sumik karena apa yang di ucapkan Mbok Sumik memang benar adanya.


"Wahh ternyata Mbok Sumik memang benar -benar perhatian seperti Ummi," ujar Ghozi.


"Kalau begitu silahkan di nikmati, Mbok kembali ke dapur dulu." Pamit Mbok Sumik.

__ADS_1


"Mbok, jangan lupa masaklah makanan dengan porsi yang sedikit lebih banyak dari pada biasanya!" titah Kafa sebelum Mbok Sumik benar -benar pergi meninggalkan ruang tamu.


"Mas Kafa!" panggil Mbok Sumik yang tadi sudah melangkah beberala langkah kini berbalik dan kembali melangkah menuju ruang tamu.


"Iya, kenapa lagi Mbok?" sahut Kafa dengan ekspresi penasaran yang terlihat jelas di wajahnya.


"Kira-kira Mbok harus masakin apa ya buat Neng Salma?" tanya Mbok Sumik.


"Terserah Mbok mau masak apa, Salma bukan tipe orang pemilih, dia akan makan apapun yang ada," jawab Kafa.


"Alhamdulillah jika seperti itu, calin istri yang solihah," sahut Mbok Sumik kembali berjalan menuju dapur.


"Alhamdulillah, ternyata cemilan dan lemon tea buatan Mbok Sumik terasa jauh lebih enak ya," cicit Ghozi setelah memakan setengah toples cemilan dan seperempat minumannya.


"Jangan makan terlalu banyak! nanti kamu bisa sakit perut, lebih baik sekarang beristirahatlah dan biarkan Mbok Sumik memasak untuk kita nanti," titah Kafa.


"Siap Mas Kafa, aku istirahat dulu ya." Pamit Ghozi melenggang pergi meninggalkan Kafa yang masih duduk di tempatnya, sedang Ghozi sudah pergi menuju kamar tamu yang biasa dia pakai kalau sedang dapat tugas dari Ummi untuk melihat keadan Kafa dulu.


"Lelahnya," keluh Ghozi menatap suasana kamar yang masih sama seperti dulu bahkan tak ada satu bendapun yang terlihat bergeser ataupun berpindah.


"Semua barang dan posisi tempat ini tidak berubah, yang berubah hanya status Kafa sedangkan aku masih saja sama, jomblo, ya allah kapan jodohku akan datang?" sambung Ghozi bermonolog sendiri mengingat jika saat ini Ghozi masih sendiri.


Jila Ghozi sedang bermonolog sendiri maka berbeda dengan apa yang di lakukan oleh Kafa saat ini, dia berjalan menuju kamarnya dengan langkah ragu, Kafa takut jika Salma sudah bangun saat dia berada di sana dan apa yang harus di lakukan Kafa? jawaban apa yang harus dia berikan? mana mungkin Kafa mengatakan jika dirinyalah yang menggendong.


Kafa terdiam mematung di depan pintu kamar, dia masih berfikir keras untuk masuk, bukan karena takut, tapi rasa gengsi yang tinggi masih menguasai Kafa.


"Kenapa tidak masuk, Mas Kafa?" tanya Mbok Sumik yang kebetulan lewat di depan pintu kamar Kafa.


"Aku tadi mengecek ponsel sebentar, ini baru mau masuk," jawab Kafa ngasal, Mbok Sumik cuma menggelengkan kepala melihat tingkah Kafa yang terlihat salah tingkah, Mbok Sumik juga tahu dengan pasti jika saat ini Kafa sedang berbohong karena sejak tadi Mbok Sumik sudah memperhatikan apa yang sudah Kafa lakukan.

__ADS_1


Mbok Sumik langsung pergi setelah memastikan jika Kafa benar-benar masuk ke dalam kamar dengan aman. Mbok Sumik terus berjalan kembali ke dapur dengan senyum yang tersungging di wajahnya, Mbok Sumik senang saat ini Kafa sudah memiliki istri yang baik sangat berbeda dengan Intan.


__ADS_2