
Malam mulai larut, sebagian besar tamu telah pulang meninggalkan tempat acara dan kembali ke rumah masing-masing.
"Apa sekarang sudah boleh istirahat?" tanya Salma menoleh ke arah Kafa yang terlihat biasa saja, di wajahnya sama sekali tidak terlihat gurat kelelahan yang muncul, Kafa masih terlihat biasa saja dan hal itu sangat jauh berbeda dengan Salma yang terlihat kelelahan.
"Ayo turun!" sahut Kafa tanpa menjawab pertanyaan Salma dia langsung mengajak Salma turun meninggalkan pelaminan di mana mereka duduk.
Mendengar ajakan Kafa membuat Salma senang, sejak tadi dia menunggu momen agar dia bisa turun dan beristirahat, resepsi pernikahan yang biasanya sangat di nanti dan bisa membuat sang pengantin bahagia nampaknya tidak terjadi pada Salma, dia sama sekali tidak merasakan hal itu, meski tidak merasakan apa yang di rasakan sebagian besar pengantin lainnya bukan berarti Salma tidak menyukainya, Salma hanya bingung dengan perasaannya yang masih belum bisa mencintai Kafa sepenuhnya.
Keduanya melangkah dengan pasti meninggalkan pelaminan menuju kamar Kafa yang sempat di tempati oleh Salma saat dia sakit kemarin.
'Deg'
Jantung Salma seolah berhenti setelah melihat dekorasi kamar, suasana di dalam kamar saat ini sangat jauh berbeda dengan suasana di kamar waktu kemarin Salma tidur di sana, lampu yang terlihat remang-remang denganbeberapa hiasan bunga di sekitar tempat tidur, tak lupa juga lilin aroma terapi yang tercium sangat menyengat menyeruak masuk ke dalam rongga hidung.
'Apa semua ini Mas Kafa yang menyiapkannya? kenapa aku jadi takut Mas Kafa akan meminta haknya saat ini ya?' batin Salma yang kini berdiri mematung menatap setiap hiasan yang ada di dalam kamar Kafa.
"Jangan bengong di tengah pintu! masuklah!" suara Kafa yang cukup menggema terdengar membuat Salma yang melamun jadi terkejut karenanya.
Salma langsung masuk dengan langkah perlahan ke dalam kamar, langkahnya sangat jelas terlihat jika saat ini Salma sedang takut.
__ADS_1
"Jangan berfikir yang aneh-aneh! ataupun memikurkan hal yang tidak mungkin terjadi malam ini, dan hiasan ini bukan aku yang menyiapkan tapi Ummi yang memaksa untuk menghiasi kamar ini," Kafa yang melihat Salma takut dan saat ini masih berdiri tanpa bergerak di belakang pintu memilih untuk menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, sebenarnya Kafa juga masih belum siap untuk melakukan hal yang seharusnya sudah dia lakukan, Kafa merasa jika saat ini bukan waktu yang tepat untuk melakukannya, selain Kafa yang belum siap Salma juga terlihat masih takut dan dia juga belum jatuh hati pada Kafa.
Kafa berjalan menuju lemari mengambilkan piama panjang untuk dirinya dan segera menuju kamar mandi untuk mengganti baju. Sedang Salma masih setia berdiri tanpa bergerak di tempatnya.
"Kenapa kamu masih berdiri di situ?" tanya Kafa menatap aneh ke arah Salma yang masih setia berdiri di tempatnya.
"Aku bingung harus ganti baju apa?" jawab Salma polos.
Salma lupa untuk membawa baju ganti ke dalam kamar sebelum resepsi, dan sangat tidak mungkin jika dia harus mengambil baju saat ini karena malam sudah larut dan bisa di pastikan kalau gerbang pondok putri sudah tutup dan semua santri sudahistirahat.
"Apa tadi kamu tidak bawa baju ganti sebelum di rias?" Kafa kembali bertanya sedang Salma hanya menggeleng sebagai jawabannya.
"Ceroboh," gerutu Kafa yang kini kembali berjalan mendekat ke arah lemari. Kafa benar-benar bingung mau memilih baju seperti apa yang mungkin bisa di pakai oleh Salma, semua bajunya hanya pantas di pakai oleh laki-laki.
Salma yang tidak memiliki pilihan lain dengan terpaksa mengambil baju dan boxer yang di berikan Kafa kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk berganti pakaian.
"Astaga besar sekali," lirih Salma saat menggunakan kaos dan boxer milik Kafa, kaos Kafa kebesaran di tubuh Salma yang tinggi badannya memang tak setinggi Kafa, tapi Salma tidak memiliki pilihan lain selain memakainya, sedang boxer yang di berikan oleh Kafa tak bisa dia pakai karena terlalu besar dan pada akhirnya Salma hanya bisa memakai kaos lengan panjang yang cukup menutup tubuh Salma sampai di atas lutut saja.
"Bagaimana aku bisa keluar dengan baju seperti ini? rasanya sangat aneh jika harus memakai baju seperti ini di hadapan laki-laki, meskipun aku tahu dia suamiku," gumam Salma yang kini sibuk dengan pemikirannya sendiri.
__ADS_1
Kafa yang merasa jika Salma sudah terlalu lama berada di dalam kamar mandi kini mulai khawatir, dia mulai takut terjadi sesuatu yang tidak di inginkan karena Salma terlalu lama berada di dalam kamar mandi.
Tok ... tok ... tok ....
Dengan segenggam keberanian Kafa mencoba mengetuk pintu kamar mandi yang masih tertutup dengan rapat.
"Salma, are you okey?" tanya Kafa sambil menempelkan telinganya ke pintu.
"Tunggu sebentar!" sahut Salma, dia masih ragu untuk keluar dengan baju yang menurutnya tidak pantas.
"Salma! apa terjadi sesuatu di sana sampai kamu tidak keluar-keluar?" Kafa kembali bertanya karena Salma masih saja tidak keluar.
"Keluarlah!" Kafa terdengar sedikit emosi karena Salma tak kunjung keluar.
'Ceklek'
Suara pintu perlahan terdengar, awalnya baik-baik saja sampai Kafa melihat Salma memakai baju yang baru saja dia berikan, kaos lengan panjang yang terlihat kebesaran membalut tubuh mungil Salma, dan Kafa di buat terkejut dengan kaki Salma yang terekspose sempurna.
"Khem," Salma yang merasa tidak nyaman di tatap Kafa kini mulai berdehem untuk menyadarkannya.
__ADS_1
"Khem," Kafa juga ikut berdehem untuk menetralkan segala perasaan aneh dan rasa gugup yang kini mulai dia rasakan, meski sebelumnya Kafa pernah melihat hal yang sama di kota dan dia juga sering melihat kaki je jang Intan, tapi apa yang dia rasakan saat ini sangat berbeda dengan apa yang di rasakan dia waktu melihat kaki Intan.
"Kenapa boxernya tidak di pakai?" tanya Kafa menatap penuh rasa penasaran ke arah Salma.