
"Aku akan mencoba membicarakan semuanya dengan Tari,d dan Umik bicarakan dengan Ghozi," usul Ummi.
"Ide yang bagus, kalau begitu aku pamit dulu mau menemui Ghozi." Pamit Umik. Sedang Ummi berjalan masuk ke dalam kamar tamu untuk menemui Tari.
"Assalamualaikum," tegur Ummi setelah sampai di depan pintu, suara Ummi mengalihkan perhatian Tari dan Salma yang sedang merapikan kerudung setelah di rias.
"Waalaikum Salam," sahut keduanya hampir bersamaan, Tari tak memerlukan MIA untuk acara kali ini, dia cukup memakai lipstik dan alat make up seadanya, meski begitu Tari terlihat sangat cantik dan mempesona, semua itu karena efek dari Tari yang tidak pernah memakai make up setiap harinya.
"Masya allah, kamu cantik sekali Tari," puji Ummi saat melihat Tari yang begitu cantik nan anggun duduk di depan jendela dengan Salma yang menjadi perias dadakan berdiri di sampingnya.
"Ummi jangan membuatku malu! Aku tidak secantik itu, bahkan Salma jauh lebih cantik dariku," sahit Tari yang kini menunduk menyembunyikan riba merah di pipinya.
"Kamu memang benar-benar cantik, Nak, Ummi tidak bermaksud apapun, Ummi hanya mengadakan apa yang Ummi lihat?" ujar Ummi yang semakin membuat Tari malu karenanya.
"Apa semua sudah siap Ummi?" Salma yang mengerti jika Umik Ghozi dan keluarganya sudah sampai kini bertanya.
"Justru kedatangan Ummi ke sini untuk mengatakan sesuatu pada Tari," ujar Ummi.
Wajah tegang terlihat jelas di wajah Tari dan Salma, melihat ekspresi wajah serius milik Ummi membuat keduanya khawatir, ada banyak hal buruk yang sedang menguasai fikiran keduanya, terutama Tari yang kini menjadi pusat dari acara yanh di selenggarakan.
"Ada apa, Ummi? apa ada masalah? atau keluarga Ghozi tidak bisa menerimaku?" tanya Tari yang entahmengapa selaku merasa kecil hati setiap kali mengingat jika dirinya bukan siapa-siapa dan bukan berasal dari keluarga kaya raya.
"Tidak seperti itu Tari, apa yang akan Ummi katakan malah sebaliknya, Umik Ghozi meminta Ummi untuk menyampaikan rencananya," tutur Ummi.
__ADS_1
"Rencana apa Ummi?" sela Salma yang kini malah terlihat penasaran dengan apa yang terjadi.
"Umik berencana melaksanakan acara akad saat ini juga, jadi acara tunangannya di batalkan, apa Tari setuju?" Ummi mengatakan pesan yang memang harus dia sampaikan.
"Apa tidak terlalu cepat Ummi?" Tari yang merasa terkejut dan sedikit stok mulai bertanya.
"Tentu. saja tidak, Tari tenang saja! saat ini kamu dan Ghozi memang menikah secara sirri, tetapi lusa kalian akan menikah secara sah, karena saat ini anak buah Umik sedang mempersiapkan berkas pernikahan kalian," Ummi kembali menjelaskan pesan yang di berikan oleh Umik.
Sejenak suasana menjadi hening, tak ada yang bersuara, Tari dan Salma hanya saling pandang, dari tatapan keduanya tergambar jelas jika saat ini Tari dan Salma terkejut mendengar pesan dari Umik.
"Bagaimana? apa Tari setuju dengan apa yang aku sampaikan barusan?" Ummi kembali bertanya dengan pertanyaan yang jelas karena Tari dan Salma hanya saling diam tanpa ada yang berbicara ataupun menjawab.
"Kalau aku setuju Ummi," jawab Salma.
"Aku hanya berniat memberi saran Ummi, kalau aku di posisi Tari pasti mau, lagi pula Ghozi pria yang baik begitu pula dengan keluarganya, aku yakin jika mereka tidak akan berbohong atau membohongi Tari," Salma mengatakan apa yang dia maksud.
"Bagaimana dengan kamu Tari?" Ummi yang merasa belum mendapat jawaban kembali bertanya.
"Jika menurut Ummi baik, maka aku akan setuju, semuanya aku pasrahkan pada Ummi," jawab Tari yang cukup membuat Ummi bahagia mendengarnya, Tari memang gadis yanh tepat untuk Ghozi, Ummi berharap Tari bisa menjadi pendamping sekaligus Ibu bagi para santri yang ada di pesantren Ghozi.
"Alhamdulillah, Ummi senang mendengarnya," ujar Ummi.
Tapi ekspresi wajah bahagia Ummi berubah seketika satu menit setelah ucapan rasa syukur itu keluar dari bibir Ummi.
__ADS_1
"Aku akan kehilangan putera dan puteriku setelah ini," lirih Ummi sambil menunduk dengan ekspresi wajah sedih yang tak bisa dia sembunyikan.
"Kehilangan bagaimana, Ummi?" tanya Salma, sepertinya sejak hamil Salma menjadi pribadi yang sangat kepo dengan apa yang terjadi di sekitarnya, hal itu sama seperti Ummi.
"Tari dan Ghozi akan pergi ke pesantren Umik setelah menikah nanti, dan secara otomatis aku akan kehilangan Putera dan puteriku dalam waktu bersamaan," Ummi menjelaskan alasan dirinya mengatakan jika Ummi akan kehilangan Putera dan puterinya dalam wktu bersamaan.
"O," satu huruf terdengar dari bibir Salma setelah mendengar penjelasan Ummi.
"Kami akan tetap mengunjungi Ummi, dan kami tetap jadi putera juga puteri Ummi sama seperti sebelum menikah," ujar Tari mencoba menenangkan hati Ummi yang dia tahu jika saat ini sedang risau.
Ummi tersenyum mendengar setiap ucapan Tari, ketiganya larut dalam kebahagiaan, hingga suara seorang penghulu terdengar keras dari arah ruang tamu.
"Penghuninya sudah siap, sebentar lagi kamu akan menjadi puteriku juga Tari," ucap Umik yang baru saja datang, sedang Ibu Tari hanya diam, dia lebih sibuk memperhatikan setiap hal yang terlihat di depan matanya.
"Apa nanti kamu akan pulang ke pesantren milik suamimu Tari?" tanya Ibu Tiri Tari dengan nada ketus dan mimik wajah tak menyenangkan.
"Iya, Ibu," jawab Tari dengan senyum yang di paksakannya.
'Harusnya kedua orang tuku berada di sini, tapi Ibu tak mungkin datang, dia pasti lebih memilih bersama dengan Ayah diriku dari pada datang ke sini,' batin Tari.
Semua orang sibuk memperhatikan sang penghulu yang kini sudah bersiap untuk mengakad Tari dan memilikinya seutuhnya.
Suasana riuh berubah menjadi hening, tak ada yang berbicara, semua orang fokus menatap ke arah Ghozi yang kini sudah bersiap untuk mengucapkan ijab qobul, dengan satu tarikan nafas yang terdengar penuh kemantapan dan keyakinan, Ghozi telah sah menjadi suami bagi Tari, begitu pula sebaliknya, kini Tari bukan lagi seorang gadis lamanya, melainkan wanita bersuami yang itu artinya dia tak sebebas dulu.
__ADS_1
"Selamat ya, semoga keluargamu nanti menjadi keluarga sakinah mawaddah warohmah," untaian do'a terdengar dari mulut Salma yang kini sedang memeluknya dengan penuh rasa bahagia. Akhirnya Tari sah menjadi istri Ghozi setelah beberapa kali mereka menghadapi ujian hingga takdir menyatukan keduanya dalam ikatan suci pernikahan.