Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Do'a Abah


__ADS_3

"Alhamdulillah," ucap Ummi dan Abah juga Ghozi bersamaan, rasa syukur dan kelegaan hati tergambar jelas di wajah ketiganya, apa lagi di wajah Ghozi yang kini terlihat begitu bahagia dengan jawaban Umik, kini tak ada lagi yang bisa menghalangi ataupun menghambat niat Ghozi untuk segera menikah dengan Tari, sang gadis pujaan hati.


"Jika Umik sudah merestui, bagaimana kalau kita langsung melamar Tari?" ujar Ghozi sesaat setelah ucapan kalimat syukur terdengar di telinga.


"Kenapa kamu terburu-buru, Ghozi?" tanya Ummi ketika mendengar Ghozi yang langsung bertanya Kapan dia bisa meminang Tari sang gadis Pujaan hatinya.


"Bukankah niat baik itu tidak boleh di tunda lagi, Ummi?" sahut Ghozi seolah tidak terima jika perkataannya disangkal oleh sang Ummi.


Bagi Ghozi tak ada lagi yang bisa menghalangi dirinya untuk meminang Tari, Karena itulah dia tidak ingin membuat Tari menunggu lagi, dia ingin segera meminang dan menghalalkan Tari agar rasa khawatir dalam dirinya bisa menghilang dan Daddy Sasa bisa pergi meninggalkan Tari dan dia tak bisa mengejar Tari lagi.


Mendengar perkataan Ghozi membuat Umik dan yang lain tersenyum sebegitu cintanya dia pada Tari hingga dia tidak ingin menunda niat baiknya lagi.


"Ghozi benar, kita sebagai orang tua harus mendukung apa yang di inginkan anak selagi keinginan itu merupakan hal yang baik," sela Abah yang sejak tadi diam memperhatikan pembicaraan antara Ghozi dan kedua orang tua yang sudah dia anggap sebagai Ibunya sendiri.


"Menurut Umik kapan hari baikny" kali ni Ummi yang bertanya.


"Aku ingin melihat Tari sekali lagi Ummi, sebelum dia resmi menjadi menantuku," Umik tidak langsung menjawab pertanyaan Ummi, dia malah meminta agar dirinya bisa bertemu dengan Tari sekali lagi untuk meyakinkan hatinya jika Umik benar-benar menerima Tari sebagai menantunya.


"Kenapa Umik harus melihatnya lagi? apa Umik masih belum yakin dengan pilihanku?" Ghozi yang diam langsung menyahuti ucapan Umik yang menurutnya tidak bisa menerima Tari sepenuhnya, Ghozi beranggapan bahwa saat ini Umik masih belum yakin dengan pilihan Tari dan dia ingin meyakinkan hatinya dengan bertemu Tari sekali lagi, meskipun Ghozi tahu dengan pasti jika saat ini Umik sudah pernah bertemu dengan Tari sebelumnya dan Ghozi tahu jika Umik tahu dengan pasti gadis sepeti apa Tari itu.


"Umik hanya ingin melihatnya saja, kamu tidak perlu khawatir atau berfikiran buruk dengan niatku yang ingin bertemu dengan Tari sekali lagi, bagaimanapun keadaannya nanti, Umik akan tetap menyetujui keinginanku itu, Nak," Umik menjelaskan niatnya yang ingin bertemu dengan tari.

__ADS_1


Ghozi terlihat menghembuskan nafas perlahan setelah menghirup udara sedalam-dalamnya, Ghozi merasa jauh lebih lega setelah mendengar jawaban Umik yang bisa di percaya.


"Kapan Umik mau melihat Tari?" kali ini Ummi yang bertanya.


"Bagaimana kalau besok?" usul Umik.


"Boleh, besok aku akan mengatur pertemuan Umik dengan Tari," jawab Ummi menyanggupi usulan Umik.


"Jangan di atur! kalau bisa jangan katakan apapun pada Tari!" sela Umik yang tak ingin Tari tahu kedatangannya.


"Kenapa tidak boleh mengatakan pada Tari dulu?" tanya Ummi dengan dahi yang mengkerut karena penasaran dengan apa yang ada di fikiran Umik Ghozi.


Sejenak suasana menjadi hening, tak ada satupun yang berbicara, semuanya terdiam tanpa ada yang berkomentar hingga suara Abah memecahkan keheningan yang tercipta.


"Jika memang itu yang Umik inginkan, maka kami akan ikuti keinginan Umik, lagi pula apa yang Umik katakan barusan memang ada benarnya juga," ujar Abah memecahkan keheningan dan mencoba mencairkan suasana yang mulai terasa tegang.


"Baiklah, aku akan menyetujui apa yang di minta oleh Umik, tapi aku harap Umik tidak melakukan hal buruk pada Tari nanti," Ghozi kembali mengatakan apa yang ada dalam fikirannya.


"Permisi," sapa Rani yang baru saja selesai membuat minuman dan menyediakan camilan untuk tamu kebesaran Ummi.


"Masya allah, kenapa harus repot-repot seperti ini?" ucap Ummi seraya mengambil alih minuman yang di sodorkan padanya.

__ADS_1


"Tidak repot Ummi, hanya segelas minuman dan beberapa camilan kecil saja," sahut Umik dengan senyum ramah yang selalu menghiasi wajahnya.


Keakraban kembali tercipta, Ummi dan Umik berbincang banyak hal dan bercerita begitu banyak kejadian yang terkadang membuat keduanya tersenyum bahkan tertawa, mengenang masa lalu memang selalu menyenangkan untuk di lakukan.


Jika Ummi dan Umik sedang asyik berbincang tentang masa lalu yang tak pernah habis untuk di bicarakan, maka berbeda dengan Ghozi dan Abah yang kini justru sedang berjalan-jalan mencari udara segar seraya melihat keadaan pesantren milik Ghozi.


"Apa ini bangunan baru?" tanya Abah sambil menu kuk ke arah sebuah bangunan tingkat yang ada di samping pesantren putera.


"Ini kamar untuk para santri Abah, " jawab Ghozi dengan nada sopan yang tak pernah hilang dari diri Ghozi.


"Apa itu artinya saat ini kamu memiliki lebih banyak santri?" tanya Abah.


"Alhamdulillah Abah, saat ini kami punya program pesantren gratis bagi para yatama, dan kami juga menjamin makan mereka, jadi para yatama hanya perlu menyiapkan uang untuk saku sekolah dan biaya membeli buku jika di perlukan," Ghozi menjelaskan alasan bangunan yang di tunjuk Abah itu berfungsi untuk apa.


"Alhamdulillah, kamu memang putera Zakaria, gaya hidup dan cita-cita juga apa yang kamu kerjakan tidak jauh berbeda dengannya, Abimu dulu juga begitu mencintai anak yatim, air matanya selalu mengalir ketika dia melihat anak yatim yang kebetulan ada di hadapannya, Abah bangga padamu Ghozi, semoga apa yang kamu lakukan saat ini bisa membawa berkah dan bisa terus berjalan tanpa ada hambatan," Abah mengungkapkan apa yang dia rasakan.


Zakaria merupakan ayah dari Ghozi, selama hidupnya dia di kenal sebagai seorang Kiyai yang sangat mencintai anak yatim dan dia selalu berjihat memberantas kebodohan dengan cara mengratiskan biaya pesantren agar ada banyak orang yang tertarik untuk mendalami agama islam, selain itu Abi Ghozi juga ingin menolong mereka yang kurang mampu agar bisa terus belajar di pesantren tanpa memikirkan biayanya.


"Amin, semoga allah mengabulkan do'a Abah dan merestui apa yang tengah aku perjuangkan, Abah," ujar Ghozi.


"Amin, do'a Abah selalu bersamamu, dan semoga gadis pilihanku itu bisa menerima keadaanmu apa adanya," Abah kembali mengatakan apa yang ada dalam hatinya, sedang Ghozi hanya mengamini sebagai jawabannya.

__ADS_1


__ADS_2