Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Rasa Penasaran Kafa


__ADS_3

Kafa yang melihat kepergian Ghozi langsung berdiri melenggang pergi dengan langkah lebar, tujuannya saat ini hanya satu, menemui Ghozi dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi selama dia pergi dan siapa kedua gadis yang ada si hadapannya saat ini.


Ummi yang sebenarnya sejak tadi mengintai dan melihat apa yang terjadi hanya bisa tersenyum, Kafa masih saja seperti dulu meski dia sudah berubah, tapi apa yang di lihat Ummi saat ini cukup membuktikan jika Kafa tak seratus persen berubah.


"Ghozi!" panggil Kafa saat dia sudah ada di halaman rumah.


"Iya, ada apa Kafa?" jawab Ghozi.


"Sudah lama kita tidak ngopi bersama, apa kamu mau temani aku ke cafe biasa yang dulu sering kita datengi?" tanya Kafa yang sukses membuat Ghozi terkejut.


"Tentu saja, aku pergi menaruh kitab ini dulu setelah itu akan ku siapkan mobil untuk kita." Jawab Ghozi yang tak akan bisa menolak, bagi Ghozi apa yang di inginkan Kafa, sudah menjadi permintaan wajib yang harus di penuhi oleh Ghozi, bagaimanapun keadaannya selama Ghozi mampu dia akan menurutinya. Semua dia lakukan dengan tujuan mengabdi pada kedua orang tua Kafa sebagai gurunya demi kemanfaatan sebuah ilmu yang dia cari.


"Baiklah, aku tunggu kamu di sini." Sahut Kafa yang kini berdiri menunggu Ghozi yang sudah melenggang pergi menuju asrama.


Kafa dengan setia menunggu Ghozi hingga dia datang. Dan menyiapkan mobil yang akan mereka gunakan, perjalanan menuju cafe terasa begitu singkat meski tak ada satu kata terucap dari keduanya, Ghozi yang fokus menyetir dan Kafa yang sibuk membalas pesan Intan yang sejak pagi sidah mengiriminya puluhan pesan.


"Sudah lama kita tidak ke sini Kafa, dan tak ada yang berubah dengan cafe ini," ujar Ghozi saat keduanya sudah duduk di kursi yang dulu sering mereka tempati.


"Kamu benar Ghozi, cafe ini sama sekali tidak berubah, hanya saja keadaannya sudah berbeda," sahut Kafa.


Mendengar apa yang di katakan oleh Kafa membuat Ghozi tersenyum, ternyata Kafa menyadari apa yang telah dia perbuat.


"Mbak!" panggil Ghozi seraya mengangkat tangan memanggil pelayan cafe yang terlihat melintas tak jauh darinya.


"Iya, silahkan mau pesan apa?" ucap sang pelayan dengan senyum ramah yang terlihat jelas di wajahnya.

__ADS_1


"Capucinno satu sama serabi duren , kamu mau pesan apa Kafa?" tawar Ghozi.


"Aku kopi hitam gulanya satu sendok," jawab Kafa.


"Kamu gak mau serabi juga Kafa?" Ghozi kembali menawarkan makanan pada Kafa.


Cafe tempat mereka memang terkenal dan memiliki suasana kekinian tapi makanan yang di sajikan makanan jadul dengan variasi kekinian.


"Serabi original satu," jawab Kafa.


"Baik, kami akan siapkan. Silahkan menikmati suasananya dulu." Ujar sang pelayan melenggang pergi meninggalkan Kafa dan Ghozi yang kini asyik memperhatikan suasana sekitar sambil mengenang masa lalu.


"Apa kamu masih ingat Kafa? saat kita baru lulus sekolah SMP dan bermain di sini sampai sore, waktu itu Ummi mencari kita ke seluruh pesantren dan beliau menangis sampai tersendu-sendu karena mengkhawatirkanmu," Ghozi berusaha mengingatkan Kafa tentang masa lalu yang mungkin bisa mengubahnya menjadi Kafa yang dulu, Kafa yang bisa membuat Ummi dan Abah tersenyum bangga karenanya.


"Luka? kenapa kamu harus terus melihat masa lalu yang kelam itu jika kamu memiliki sejuta kenangan indah yang mungkin bisa mengobati lukamu," Ghozi masih berusaha untuk mempengaruhi fikiran dan hati Kafa.


"Menyembuhkan luka yang tak terlihat itu jauh lebih sulit dari pada menyembuhkan luka yang terlihat jelas di depan mata, karena tak ada obat yang pasti untuk menyembuhkannya," Kafa masih saja tak bisa di pengaruhi.


"Kenapa kamu tidak mencoba membuka hati dan menerima gadis lain untuk menggantikannya?" tanya Ghozi.


"Aku sudah melakukannya, tapi masih tak ada gadis yang bisa menggantikannya, dan percayalah Ghzoi aku sudah berusaha akan hal itu, tapi hati tak bisa kita atur seenaknya, karena dia punya pilihan sendiri," jelas Kafa.


"Kenapa hatimu masih saja berpihak pada dia yang jelas-jelas sudah menghianatimu?" Ghozi kembali bertanya, mendengar respon Kafa membuat Ghozi yakin jika Kafa masih memiliki harapan untuk kembali berubah seperti dulu.


"Sudah ku katakan, jika aku tak bisa mengatur hatiku, dia memiliki pilihan sendiri Ghozi," Kafa mulai terlihat sedikit jengkel dengan pertanyaan yang terus di utarakan oleh Ghozi.

__ADS_1


"Oke, aku tidak akan bertanya lagi," ujar Ghozi yang sangat mengerti dengan sifat Kafa yang tak terbantahkan, dia akan semakin brutal jika di paksa.


Sejenak suasana berubah hening dan sedikit canggung, tak ada yang membuka suara ataupun memulai percakapan hingga Kafa merasa jika saat inilah saat yang tepat untuk dia bertanya.


"Apa Kamu mengenal Salma dan temannya Ghozi?" tanya Kafa.


"Iya, aku mengenal mereka dan bahkan kita sudah berteman, memangnya kenapa?" jawab Ghozi sambil melempar pertanyaan kembali pada Kafa.


"Kenapa mereka terlihat begitu dekat dengan Ummi? dan sejak kapan mereka ada di pesantren?" Ghozi yang sejak tadi pagi begitu penasaranpun akhirnya bisa mengungkapkan rasa ingin tahunya itu pada Ghozi yang dia yakini pasti memiliki jawaban.


"Mereka berada di pesantren sudah dua bulan lebih, dan mereka menjadi santri di pesantren juga karena permintaan Ummi," jawab Ghozi yang sukses membuat Kafa terkejut, bagaimana bisa Ummi meminta seseorang untuk menjadi santri di pesantren? bukankah biasanya mereka sendiri yang meminta pada Ummi agar bisa menjadi santri di pesantren itu.


"Kok bisa? apa yang terjadi sampai Ummi meminta mereka menjadi santri di pesantren?" tanya Kafa dengan ekspresi terkejut bercampur penasaran.


Ekspresi Kafa saat ini membuat Ghozi memikirkan ide brillian agar Kafa lebih lama berada di pesantren dan Kafa terus dekat dengannya karena rasa penasaran yang belum bisa terpuaskan.


"Kau tahu Kafa, Ummi bahkan meminta Salma menjadi puterinya dan Tari menemani Salma di pesantren," Ghozi semakin giat membuat Kafa penasaran dan tak menjawab pertanyaan Kafa.


"Apa?? puteri? kamu jangan bercanda Ghozi! Ummi bukan tipe orang yang bisa menerima dan mempercayai orang baru dengan cepat," ujar Kafa yang terlihat tak percaya dengan apa yang di katakan oleh Ghozi.


"Kalau kamu tidak percaya tanya saja sama Ummi!" titah Ghozi dengan ekspresi santai tapi meyakinkan.


Mendengar titah dan melihat ekspresi Ghozi membuat Kafa bimbang, dia terdiam memikurkan apa yang terjadi sebenarnya sampai Ummi bisa meminta seorang gadis agar jado santri dan bahkan menganggapnya seperti puterinya sendiri.


"Ceritakan apa yang sebenarnya terjadi!" pinta Kafa yang terdengar seperti sebuah perintah dan menuntut untuk di turuti.

__ADS_1


__ADS_2