Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Heran?


__ADS_3

"Mas Kafa," ujar Salma setelah mengalihkan pandangannya ke arah Kafa yang baru saja duduk di samping Salma.


"Apa ada sesuatu yang mengganjal atau mengganggu dirimu?" Kafa kembali bertanya, dia sangat yakin jika saat ini Salma sedang memikirkan hal yang entah apa itu.


"Tidak ada, aku hanya rindu pesantren," Salma akhirnya mengatakan apa yang dia rasakan.


"Baru juga sehari di sini kamu sudah merindukan pesantren," ucap Kafa dengan nada meremehkan.


"Pesantren adalah tempat paling menenangkan hati bagiku, dan di sana aku bisa merasakan kenikmatan yang jarang aku temukan di manapun," Salma menekankan setiap kata yang dia ucapkan, seolah dia tidak terima jika Kafa meremehkannya.


"Aku tidak bermaksud meremehkanmu, aku hanya heran denganmu," ujar Kafa mencoba menjelaskan maksud yang sebenarnya dari ucapannya.


"Heran? kenapa Mas Kafa harus heran denganku?" tanya Salma yang penasaran dengan apa yang di katakan oleh Kafa.


"Kamu termasuk santri yang belum terlalu lama tinggal di pesantren, tapi ucapanmu mengartikan seolah kamu sudah menjadi santri di pesantren selama bertahun-tahun," Kafa menjelaskan alasan dirinya yang merasa heran dengan sikap Salma.


"Aku memang lahir dari rahim wanita biasa dan hidup di keluarga awwam yang tidak terlalu faham dengan agama, kedua orang tuaku juga tidak pernah menjadi santri sebelumnya, karena itulah aku tidak pernah masuk pesantren sebelumnya, tapi saat aku sudah masuk pesantren ada hal berbeda yang aku rasakan, sesuatu yang tak pernah aku rasakan sebelumnya, ketenangan hati yang membesarkan sabarku dan menyadarkanku apa artinya hidup yang sesungguhnya dan untuk apa aku hidup di dunia ini," Salma mulai merasa nyaman berada di dekat Kafa hingga tanpa sadar dia menceritakan apa yang dia alami dan dia rasakan.


"Apa kamu juga merasakan hal yang sama saat ini?" Kafa mencoba mencari tahu apa yang ada dalam hati Salma.


"Maksud Mas Kafa apa?" Salma langsung menoleh ke arah Kafa.


"Apa kamu juga merasakan ketenangan itu sekarang di sini, di sisiku?" tanya Kafa seraya menatap lekat ke arah Salma yang terlihat terkejut dengan pertanyaan Kafa.


Salma tak lagi bisa berkata-kata meski hatinya tengah berteriak ingin berucap tapi mulutnya tertutup rapat tak bisa di buka.


"Aku tidak akan memaksamu menjawabnya sekarang, tapi aku hanya bisa memintamu bersabar dan mencoba menerima pernikahan ini pelan-pelan, seperti aku yang sedang berusaha menerima pernikahan ini secara perlahan,"Kafa berucap dengan ekspresi wajah kecewa kemudian berdiri hendak pergi meninggalkan Salma yang masih setia duduk di balkon kamar.

__ADS_1


"Mas Kafa, tunggu!" cegah Salma saat melihat Kafa hendak pergi meninggalkannya.


"Apa?" sahut Kafa menghentikan langkahnya dan mulai menoleh ke arah Salma yang kini menatap lekat ke arahnya.


"Maaf, saat ini aku memang masih belum bisa menerima semua ini, tapi percayalah aku sudah siap menjalankan segala kewajibanku sebagai istrimu dan aku masih berusaha menerima dan menyayangimu sepenuh hati,"! jujur Salma.


Ucapan Salma bagaikan air segar yang muncul di tengah gurun, penyejuk saat dahaga, sungguh Kafa merasa sangat bahagia mendengarnya, hati Kafa memang masih bingung tapi raga Kafa tak lagi bisa membohongi apa yang terjadi.


Tanpa di duga, Kafa berjalan cepat mendekat ke arah Salma dan memeluknya dengan erat, Salma langsung mematung merasakan sentuhan tak terduga dari Kafa, orang yang sejak awal dia kenal sebagai seorang laki-laki yang kaku bermulut tajam menyayat hati kini tengah memeluknya dengan erat penuh kehangatan seolah dia takut kehilangan dirinya.


Salma mematung merasakan pelukan Kafa yang tiba-tiba, Kafa memeluk Salma dengan sangat erat seolah dia takut Salma pergi dari sisinya.


"Tetaplah di sisiku! jangan pernah berniat pergi dari sisiku meski itu hanya niat," pinta Kafa dengan nada memelas yang cukup membuat Salma terkejut.


'Apa Mas Kafa sudah mencintaiku? atau dia sedang tidak sadar mengatakannya?' batin Salma terus mengutarakan pertanyaan tanpa bisa bersuara, sungguh pelukan Kafa membuat Salma mati kutu, dia tak lagi bisa melakukan apapun selain diam mematung tanpa suara dan tanpa gerakan.


Batin Salma berteriak mengatakan bahwa dirinya tidak masalah di peluk karena Kafa berhak melakukannya, tapi bibir Salma terus saja kaku rasanya sangat sulituntuk berucap hanya gelengan kepala yang mampu dia lakulan.


"Apa kamu marah karena aku peluk?" tanya Kafa yang justru berfikir jika gelengan kepala Salma itu berarti hal yang buruk.


"Ti~tidak," Salma yang tak ingin Kafa salah faham akhirnya mencoba mengeluarkan suaranya.


"Syukurlah jika begitu, bagaimana kalau kita ke mall? apa kamu mau?" Kafa memilih mengajak Salma ke Mall setelah mendengar keluh kesahnya yang mengatakan jika Salma sudah merindukan pesantren.


"Ke Mall mau ngapain?" sahut Salma yang justru bingung dengan ajakan Kafa.


Melihat ekspresi bingung Salma membuat Kafa tersenyum senang, dia memang mendapatkan intan asli bukan cuma nama.

__ADS_1


"Kamu mau ikut atau diam di sini?" tawar Kafa.


Salma sejenak terdiam menimang segala yang akan terjadi jika dirinya ikut.


"Aku ikut, tapi~" Salma memutuskan untuk ikut setelah berfikir dia lebih baik ikut dari pada harus berdiam diri di rumah.


"Tapi kenapa?" tanya Kafa mengernyitkan dahi bingung setelah mendengar jawaban yang tak lengkap dari Salma.


"Aku harus pakai baju apa ya? apa aku pakai ini saja? atau aku harus ganti baju?" pertanyaan yang sungguh sangat lucu bagi Kafa, ingin sekali dia tertawa tapi tawa itu di tahan karena Kafa tak ingin membuat Salma tersinggung ataupun malu.


"Kamu akan terlihat cantik memakai baju apapun, jadi pakai baju itu juga gak apa-apa," jawab Kafa.


"Aku akan ganti baju dulu." Ujar Salma langsung berjalan masuk ke dalam kamar.


Salma berjalan dengan cepat menyembunyikan rona merah di pipinya, entah mengapa Salma merasa malu saat mendapat pujian dari Kafa.


Salma langsung berjalan menuju ruang ganti memilih baju yang menurutnya paling bagus dan segera menggantinya, sedikit memoleskan bedak ke wajah kemudian mengambil tas selempang satu-satunya yang dia miliki.


"Mbok Sumik!" panggil Salma sesaat setelah dia sampai di bawah.


"Masya allah, Neng Salma cantik sekali," puji Mbok Sumik saat melihat Salma yang sangat cantik dengan abaya yang pas dan anggun di tubuhnya.


"Jangan terlalu memuji diriku Mbok!" sahut Salma.


"Kenapa Mbok gak boleh memuji Neng Salma?" tanya Mbok Sumik bingung.


"Jangan terlalu memuji karena Mbok Bat juga terlihat cantik saat ini," jawab Salma dengan senyum yang membuatnya semakin anggun nan manis.

__ADS_1


"Neng Salma memang cantik, kalau Mbok sudah luntur Neng, kecantikannya di makan usia," ucap Mbok Sumik yang sukses membuat tawa terdengar menggema di ruangan.


__ADS_2