
"Salma! kemarilah!" pinta Ummi sambil melambaikan tangan memberi isyarat agar Salma berjalan mendekat ke arahnya.
"Iya, ada apa Ummi?" sahut Salma seraya berjalan mendekat ke arah Ummi yang sedang berdiri tepat di depan pemilik butik dengan tiga abaya indah yang ada di tangannya.
"Di antara ketiga abaya ini, mana yang paling kamu suka?" tanya Ummi pada Salma yang kini menunjukkan tiga setel abaya ke hadapan Salma.
"Semuanya indah Ummi, Salma sampai bingung mau pilih yang mana," ujar Salma menatap kagum ke arah ketiga abaya yang di pegang oleh Ummi.
"Kalau begitu kita bungkus saja semuanya," ucap Ummi enteng.
"Astaghfirullah, tidak usah Ummi! biar Salma pilih salah satu saja." Cegah Salma sebelum Ummi benar-benar membungkus semua gaun yang ada di tangannya.
"Tidak apa-apa Salma, kita bungkus saja semuanya, lagi pula semua model gaun ini memang bagus dan terlihat cocok denganmu," ucap Ummi seolah gaun yang di pegangnya saat ini berharga puluhan ribu.
"Tidak Ummi, biar Salma pilih salah satu saja," tolak Salma.
Di sisi lain tak jauh dari tempat Salma dan Ummi berada, Kafa memperhatikan apa yang terjadi, sungguh sifat Salma jauh berbeda dengan Intan, bahkan sifat Salma lebih mirip dengan sifat Bella, meskipun saat itu Bella hanya berpura-pura tapi sifat Salma mengingatkannya pada sosok Bella yang sabar, lembut dan tidak banyak menuntut.
"Salma pilih yang ini saja Ummi," ujar Salma memilih satu gaun berwarna biru langit yang terlihat semakin indah dan bersinar saat Menyatu dengan kulit Salma yang cukup putih.
"Baiklah, saya pilih yang ini." Ummi memberikan baju pilihan Salma pada salah satu pelayan. dan memberikan kedua gaun yang tidak di pilih oleh Salma pada pelayan yang lain.
Usai memilih baju untuk acara pertunangan, kini Salma memilih model baju untuk pernikahannya nanti.
"Kafa!" panggil Ummi, Kafa yang sejak tadi sibuk dengan ponselnya kini mulai mengalihkan pandangannya ke arah Salma dan Ummi yang duduk bersebelahan di depan pemilik butik.
"Kenapa Ummi?" sahut Kafa santai tanpa berdiri dari tempatnya.
"Sini!" Ummi melambaikan tangan memberi isyarat agar Kafa mendekat ke arahnya.
__ADS_1
"Sebentar!" ujar Kafa yang kembali fokus menatap ponselnya kemudian beralih berjalan mendekat ke arah Ummi berada.
"Kenapa Ummi?" tanya Kafa saat Ummi memanggilnya.
"Coba kamu pilih mana yang paling bagus di antara desain gaun ini!" pinta Ummi.
Kafa terdiam memperhatikan setiap detail desain gaun yang ada di hadapannya, desain gaun dan jas yang terlihat begitu mewah juga elegan.
"Aku pilih yang ini." Kafa menunjuk sebuah gaun dengan desain yang begitu elegan nan terlihat berkelas.
"Kafa memilih ini, bagaimana pendapatmu Salma?" kini giliran Ummi menanyakan pendapat Salma tentang gaun yang di pilih oleh Kafa.
"Gaunnya indah Ummi, Salma setuju dengan pilihan Mas Kafa," jawab Salma yang terlihat pasrah dengan pilihan Kafa.
Selama beberapa tahun ini Kafa selalu menghadapi tantangan yang dia cari sendiri, Kafa juga selalu berhadapan dengan gadis-gadis yang berkepribadian keras tak terbantahkan, gadis yang selalu ingin menang sendiri dan tidak mau di nasehati juga gadis dengan kehidupan sosialita kelas atas, apa yang dia temui saat ini sangat jauh berbeda dengan yang dia temui sewaktu tinggal di kota. Bukan cuma sifat begitu juga dengan cara berpakaian meski Salma tergolong masih baru masuk pesantren tapi dia terlihat sangat mudah beradaptasi dengan lingkungan pesantren, sangat berbeda dengan Intan yang selalu mengeluh dan terlihat tidak nyaman berada di lingkungan pesantren.
"Kafa!" Ummi mencobamenyadarkan Kafa yang terlihat terdiam tanpa ada kata, dia mematung seolah ada yang di fikirkan.
"Kamu ngelamun?" tanya Ummi.
"Enggak, cuma lagi merhatiin desain gaun yang lain. Kali aja ada yang lebih menarik," elak Kafa yang tak ingin Ummi dan yang lain tahu jika saat ini dirinya sedang melamun.
"Ummi kira kamu melamun Kafa," ujar Ummi.
"Kafa sudah memilih gaun dan jas untuk pernikahan, sekarang Kafa pergi dulu. Kafa tunggu Ummi dan Salma di luar." Pamit Kafa melenggang pergi meninggalkan Ummi dan Salma yang masih setia duduk di tempatnya.
"Mas Kafa!" suara Ghozi terdengar dari ruang tunggu.
"Ada apa?" sahut Kafa.
__ADS_1
"Aku ingin bicara denganmu," jawab Ghozi dengan ekspresi wajah serius.
"Bicaralah!" titah Kafa yang tak ingin terlalu banyak berbasa basi dengan Ghozi.
"Bisakah kita bicara di cafe yang ada di depan sana?" tanya Ghozi yang merasa jika tempat di mana mereka berada bukanlah tempat yang nyaman untuk berbicara.
"Baiklah," jawab Kafa berjalan lebih dulu keluar dari butik menuju cafe yang berada tepat di depan butik itu berada. Sedang Ghozi hanya mengikuti langkah Kafa tanpa berbicara ataupun bertanya lagi.
"Apa yang ingin kamu bicarakan? bicaralah!" Kafa membuka percakapan setelah keduanya sudah sampai di cafe.
"Apa aku boleh tahu alasan apa yang mendasari Mas Kafa menerima perjodohan yang di rencanakan oleh Ummi dan Abah?" Ghozi tak lagi ingin berbasa basi, dia langsung bertanya pada intinya tanpa bertele-tele.
"Apa alasanmu bertanya seperti itu?" bukannya menjawab Kafa malah balik bertanya pada Ghozi.
"Maaf sebelumnya, tanpa mengurangi rasa hormatku pada Mas Kafa, aku hanya ingin meyakinkan diriku bahwa Salma sudah menikah dengan orang yang tepat, dan aku bisa ikhlas sepenuhnya melepaskan dan melupakan Salma," Ghozi yang tak ingin memiliki veban rasa dalam hatinya langsung mengatakan segalanya pada Kafa tanpa berbasa basi lagi.
"Selama kamu mengenalku, apa aku pernah lari dari tanggung jawab atau aku pernah mempermainkan hati seorang wanita?" Kafa selalu menjawab pertanyaan Ghozi dengan pertanyaan yang sudah menjelaskan segala keraguan yang di rasakan oleh Ghozi.
"Apa Mas Kafa mencintainya?" pertanyaan yang sejak awal mengganjal di hati Ghozi kini sudah terucap.
"Cinta itu bisa tumbuh seiring berjalannya waktu, dan aku tak mempermasalahkan hal itu, bagiku saat ini aku bisa membuat Ummi dan Abah bahagia sudah cukup, saat ini aku sedang menunjukkan baktiku pada mereka dengan mengikuti apapun yang mereka inginkan, selain sebagai tanda bakti aku juga ingin menebus semua kesalahanku beberapa tahun yang sudah terlewati," Kafa menjelaskan tujuannya menikahi Salma.
Ghozi yang mendengar pengakuan Kafa langsung tercengang, bagaimana mungkin sebuah pernikahan di pakai sebagai ajang pembuktian kebaktian seseorang pada orang tuanya. Jika seperti ini bagaimana dengan nasib Salma yang menikah tanpa cinta dan di cintai.
Fikiran Ghozi terus melayang-layang jauh memikirkan hal-hal negatif yang akan terjadi jika keduanya benar-benar menikah.
"Jangan terlalu banyak berfikir! aku bukan tipe laki-laki yang suka menyakiti hati orang lain, kamu tenang saja, Salma aman bersamaku," ujar Kafa seolah mengerti apa yang sedang di fikirkan oleh Ghozi.
"Aku titipkan dia padamu Mas Kafa, kali ini aku berbicara bukan sebagai seorang santri yang berbicara dengan putera gurunya, tapi aku berbicara sebagai seorang sahabat yang sudah lama bersahabat, aku harap kamu bisa menjaga dan mencintainya sepenuh hati," Ghozi mengungkapkan semua yang ada dalam fikirannya.
__ADS_1
"Salma memang hebat, dia bisa membuat sahabatku sebegitu mengkhawatirkannya, padahal kalian belum lama bertemu, entah apa yang dia miliki sampai bisa membuatmu terliht begitu mengkhawatirkan dan mencintainya," ujar Kafa dengan tatapan penuh tanya yang dia tujukan pada Ghozi.