
Sesuai dengan apa yang di rencanakan oleh Ummi, hari ini Ummi mengajak Kafa pergi ke menemui orang tua gadis yang akan di jodohkannya, Ummu memangn masih belum memberitahu Kafa siapa gadis yang akan di jodohkan dengannya, bagi Ummi Kafa harus tagu dulu seluk beluk calon istrinya, termasuk kejadian kelam yang merenggut nyawa Ibu sang gadis.
"Apa kamu sudah siap bertemu dan melihat calon mertuamu?" tanya Ummi sambil menatap lekat ke arah Kafa yang saat ini terlihat begitu tampan dengan baju kokoh yang menempel di badannya.
"Iya, Ummi, Kafa siap," jawab Kafa mantap.
"Jangan kaget jika apa yang kau lihat tak sesuai dengan apa yang kamu fikirkan!" Ummi hanya berniat mengingatkan Kafa agar dia tak terlalu terkejut jika dia tahu yang sebenarnya.
"Baik, Ummi," jawab Kafa.
"Baiklah, ayo pergi!" Ummi menarik tangan Kafa keluar dari rumah masuk ke dalam mobil yang sudah di siapkan oleh Ghozi.
"Biar aku yang nyetir Ghozi!" titah Kafa.
"Jangan! Ummi tidak mau jantungan sebelum melihatmu menikah," seru Ummi melarang Kafa untuk menyetir karena Ummi tahu dengan pasti bagaimana ugal-ugalannya Kafa saat menyetir baik itu mobil ataupun sepeda motor.
Kafa kembali menyerahkan kunci mobil pada Ghozi setelah tadi sempat mengambilnya. Mobil melaju dengan kecepatan rendah menuju tempat orang tua calon istri Kafa tanpa Ghozi ketahui, tadi Ummi hanya meminta Ghozi untuk mengantar Ummi dan Kafa ke suatu tempat tanpa menhelaskan tujuan dan tempat mana yang di maksud oleh Ummi.
"Kita mau ke mana, Ummi?" tanya Ghozi yang sekarang sedang menjadi sopir.
"Kita ke pemakaman umum yang waktu itu." Jawab Ummi yang membuat Ghozi dan Kafa sukses kebingungan.
__ADS_1
'Kok ke pemakaman, mau ngapain?' batin Kafa yang belum mengerti apapun ke mana Ummi akan membawanya, sedang Ghozi merasa bingung dengan perintah Ummi, untuk apa beliau mengajak Kafa ke makam yang Ghozi tahi dengan pasti jika makam yang akan di kunjungi oleh Ummi adalah makan orang tua Salma, gadis incarannya.
'Kenapa Ummi mengajak Kafa ke makam orang tua Salma,' kali ini batin Ghozi yang mulai heran dan bertanya-tanya.
Kafa dan Ghozi sempat melirik ke belakang melihat Ummi yang justru terlihat duduk santai menikmati pemandangan yang terlihat di sepanjang jalan, sungguh keadaan itu jauh berbeda dengan keadaan yang terjadi di jok kursi bagian depan.
"Kita sudah sampai, Ummi," ucap Ghozi yang hendak turun dari mobil dan mengikuti langkah Ummi seperti biasa.
"Kamu mau ke mana Ghozi?" tanya Ummi mencegah langkah Ghozi.
"Ghozi mau menemani Ummi seperti biasanya," jawab Ghozi mantap.
"Untuk kali ini biarkan Kafa yang menemani Ummi, kamu bisa menunggu Ummi di mobil atau di sana!" Ummi menunjuk ke arah sebrang jalan di mana ada penjual es degan dan Mie ayam yang ada di sebrang jalan.
"Baik, Ummi," jawab Ghozi, meski dia begitu penasaran dengan apa yang akan di lakukan Ummi bersama Kafa di makam, tapi Ghozi tetap tidak bisa mengungkapkan rasa penasarannya itu, dia hanya diam dan mematuhi setiap perintah yang di berikan Ummi sebagai gurunya.
"Ayo Kafa!" ajak Ummi, apa yang di lakukan Ghozi juga di lakukan oleh Kafa, sejak tadi Kafa begitu bingung melihat Ummi mengajaknya ke pemakaman umum, tapi Kafa tidak bisa bertanya, dia hanya bisa diam tanpa kata dan terus mengikuti langkah Ummi masuk ke dalam pemakaman dan menuju satu makam yang Kafa tahu makam seorang perempuan dan laki-laki yang berjajar.
"Ini makam siapa, Ummi?" tanya Kafa saat Ummi memberi isyarat agar Kafa ikut duduk di sampingnya.
"Mereka adalah orang tua calon istrimu," jawab Ummi sambil menatap salah satu makam yang ada di hadapannya.
__ADS_1
"Apa dia yatim piatu Ummi?" tanya Kafa, hatinya mulai tersentuh, rasa kasihan mulai merasuki hati Kafa.
"Iya, Ayahnya telah lama meninggal dan Ibunya menyusul sang Ayah beberapa bulan yang lalu karena sebuah kecelakaan yang menimpanya," jelas Ummi.
"Kecelakaan Ummi?" Kafa kembali bertanya.
"Iya, kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya, apa kamu tahu Kafa? mobil siapa yang menabrak Calon Ibu mertuamu?" Ummi melempar pertanyaan pada Kafa dengan mata yang mulai berkaca-kaca, ingatannya kembali ke kejadian beberapa bulan silam, di mana mobil yang dia kendarai menabrak Ibu Salma.
"Siapa yang menabraknya Ummi?" Kafa kembali bertanya dengan ekspresi wajah heran bercampur kasihan.
"Mobil Ummi Kafa," jawab Ummi dengan air mata yang sudah luruh ke pipinya.
"Apa?? mobil Ummi, kok bisa? apa Ghozi tidak bisa berhati-hati? menabrak orang sampai meninggal," seru Kafa dengan emosi yang meletup-letup.
"Jangan salahkan Ghozi! dia menyetir dengan hati-hati dan sangat pelan, semua yang terjadi adalah takdir, awalnya beliau tidak meninggal, dia sempat di rawat beberapa hari sebelum akhirnya pergi untuk selamanya," Ummi menceritakan apa yang sebenarnya terjadi dan Kafa yang tadinya kasihan kini mulai penasaran dengan cerita perjalanan dan siapa gadis yang Ummi maksud.
"Siapa gadis itu Ummi?" tanya Kafa, merasa begitu penasaran dengan gadis yang akan di jodohkan dengannya.
"Dia gadis yang baik dan berhati lembut Kafa, meski Ibunya meninggal setelah di tabrak mobil Ummi, dia tak pernah menaruh dendam ataupun marah pada Ummi, dengan penuh kesabaran dia mengatakan ikhlas atas takdir yang telah terjadi. Dia bahkan menolak ketika Ummi menawarkan diri menjadi pengganti Ibunya dan menjadikannya putri Ummi, dia memang mau ikut bersama Ummi tapi dia tidak mau bergantung pada Ummi, bahkan dia meminta pekerjaan agar dia punya penghasilan untuk menghidupi dirinya sendiri, dia sebatang kara saat ini Kafa," Ummi menjelaskan semua yang dia tahu dan yang terjadi selama ini.
Penjelasan Ummi cukup membuat Kafa tercengang karena kaget, Kafa sangat salut dengan gadis yang di ceritakan oleh Ummi, mendengar cerita Ummi membuat Kafa yakin jika gadis pilihan Ummi pasti gadis yang paling sabar dan bijaksana, saat ini Kafa benar-benar ingin segera tahu dan bertemu dengan gadis pilihan Ummi itu.
__ADS_1
"Mendengar cerita Ummi membuat Kafa yakin jika gadis itu memang gadis yang terbaik untuk Kafa, kapan kita bisa menemuinya Ummi?" tanya Kafa dengan ekspresi tak sabar yang tergambar jelas di wajahnya, melihat ekspresi wajah Kafa membuat Ummi tersenyum, dia yakin jika Kafa pasti akan setuju untuk menikah dengan Salma, gadis pilihan Ummi.
"Kamu sudah mengenalnya Kafa, bahkan kamu sering bertemu dengannya, bahkan hampir setiap hari," ujar Ummi yang sukses membuat Kafa semakin penasaran karenanya.