
Restu sang Ayah telah di dapat, meski ada sedikit rasa tak enak hati karena Ibu Tiri Tari terlihat kurang menyukai Ghozi, tapi tak menghalangi niat keduanya untuk terus melanjutkan rencana pernikahan yang sudah ada di depan mata.
"Maaf jika sikap Ayah dan Ibu Tirinya yang kurang sopan," lirih Tari sesaat setelah mereka ada di dalam mobil.
"Sudahlah, jangan di fikirkan! kita tidak apa-apa Kok," sahut Ghozi.
"Ghozi benar Tari, Ummi juga tidak masalah dengan sikap Ayah ataupun Ibuku, yang terpenting saat ini kamu dan Ghozi sudah mendapatkan restu," Ummi juga mencoba menenangkan Tari yang terlihat gelisah mengingat sikap orang tua yang menurutnya kurang sopan.
"Sekarang kita tinggal pergi ke rumah Ibu kandungmu," Ghozi terlihat tidak sabar ingin segera menyelesaikan semua yang perlu di selesaikan.
"Tidak perlu, Ibu tidak akan perduli dengan pernikahanku," jawaban yang cukup membuat Ummi dan Ghozi terkejut.
"Apa maksudmu, Tari?" mendengar jawaban Tari, spontan Ghozi bertanya.
"Sudahlah, Ibuku tidak akan pernah peduli tentangku lagi," sekali lagi Tari mencoba menjelaskan apa yang terjadi.
"Setiap Ibu pasti menyayangi puterinya, seburuk apapun sikap yang dia tunjukkan, Ummi yakin jika jauh di dalam hatinya Ibuku memiliki rasa Sayang yang tak bisa dia ungkapkan," Ummi mencoba menenangkan hati Tari yang dia yakini sedang bersedih itu.
"Baiklah, aku akan tunjukkan di mana rumah Ibu," menyerah sudah, Tari berfikir jika apa yang di katakan Ummi memang benar adanya, kini dia sedang bertarung dengan ego yang tengah menguasai dirinya.
Sesuai dengan apa yang di katakan oleh Tari, mobil yang mereka kendarai kinu melaju ke arah rumah Ibu Tari yang kini tinggal bersama Ayah Tirinya.
"Assalamualaikum," ucap Ummi sambil mengetuk pintu. Sedang Tari berdiri tepat di samping Ummi dengan tangan yang melingkar indah di lengan sang Ummi, pegangan tangan Tari mengisyaratkan jika saat ini dirinya sedang di luput rasa takut yang entah apa penyebabnya.
__ADS_1
"Tenanglah! ada Ummi di sini," ujar Ummi sambil mengusap lembut punggung tangan Tari yang masih melingkar di lengannya.
Tari hanya tersenyum ke arah Ummi kemudian kembali menundukkan kepala mencoba mencari keberanian untuk menemui Sang Ibu yang cukup lama tak dia temui.
"Siapa?" sahut seorang wanita yang di yakini jika wanita itu Ibu Kandung Tari.
Mendengar suara Ibu Tari membuat tari semakin ketakutan keringat dingin mulai mengalir di dahi dan wajahnya, saat ini terlihat jelas jika tari memiliki Trauma di masa lalu sehingga dia bisa bersikap seperti itu saat suara ibunya terdengar. Sedang Umi yang mengerti dengan apa yang terjadi pada tari semakin erat menggenggam tangan Tari yang berpegang erat pada lengannya.
'Ceklek'
Perlahan pintu terbuka hingga tampaklah seorang wanita paruh baya membuka pintu.
"Tari," lirih ibu Tari.
Ekspresi wajah Ibu tari terlihat biasa saja sangat jauh berbeda dengan ekspresi wajah tari yang terlihat ketakutan.
"Apa kita boleh masuk lebih dulu? baru kita akan Jelaskan tujuan kita datang kemari," jawab Umi.
"Masuklah!" titah ibu yang kini membuka lebar pintu rumahnya menandakan jika Tari dan yang lain diizinkan masuk ke dalam rumah.
Tari dan yang lain mengikuti langkah sang ibu yang memberi isyarat bahwa ketiganya boleh duduk di kursi yang ada di sana rumah Ibu tari tidak jauh berbeda dari rumah Ayah tarian baru saja mereka datangi rumah keduanya memiliki konsep yang sama yaitu rumah sederhana.
"Kami mohon maaf sebelumnya, terutama saya, kedatangan saya ke sini ingin memberitahukan bahwa besok adalah hari pertunangan tari dan Ghozi, bagaimanapun juga itu adalah orang tua kandungnya Karena itulah saya datang ke sini dan memberlakukan hal yang menurut saya penting untuk diketahui oleh anda," Ummi mencoba menjelaskan tujuan ketiganya datang dan menemui Ibu tari saat ini.
__ADS_1
Ibu Tari hanya terdiam mematung menatap Tari yang kini duduk tidak jauh dari tempatnya duduk, entah apa yang ada di pikirannya saat ini? yang jelas Ibu Tari hanya diam tanpa bahasa ataupun kata yang keluar dari mulutnya yang tertutup rapat.
" Apa Ibu merestui aku dan mengizinkanku menikah dengan laki-laki yang saat ini ada di hadapanmu ibu?" tanya Tari yang melihat Ibunya hanya diam tak kunjung berbicara.
"Siapa laki-laki itu, Tari? "Akhirnya Ibu Tari membuka suara Setelah sekian detik Tari dan yang lain menunggu jawaban nya.
"Dia adalah calon suamiku," jawab Tari.
Ibu Tari tetap tak merespon, sikap yang di tunjukkan sang Ibu cukup membuat Ummi dan Ghozi tahu apa yang sebenarnya terjadi, karena itulah Tari sempat menolak untuk menemui sang Ibu.
"Bagaimana ibu? apa Ibu bisa merestui kami? " Tarik kembali bertanya karena ibunya kembali terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun
"Perkenalkan, nama saya Ghozi, Saya adalah putra tunggal pemilik Pesantren Assalam apa Ibu pernah mengenal saya?" sahut Ghozi.
Ibu Tari kembali terdiam, saat ini wajahnya terlihat begitu terkejut mendengar ucapan Ghozi, Bagaimana bisa putrinya yang dulu memiliki kelakuan cukup Badung hari ini meminta Restu untuk menikah dengan Ghozi yang notabenya Putra seorang Kyai.
"Bagaimana ibu? apa Ibu bisa merestui kami? " Tari kembali bertanya karena ibunya kembali terdiam tanpa menjawab sepatah kata pun
"Aku merestuimu, Pergilah sebelum ayahmu datang!" titah ibu Tari yang kini terlihat memandang sendu ke arah Tari.
"Besok acara pertunangan ku Ibu, aku harap Ibu bisa datang dan mendo'akan hubunganku," Tari kembali berucap, dia berharap jika sang Ibu bisa hadir dan menemaninya besok.
"Aku akan datang jika ada waktu," satu kata yang dulu pernah sangat Tari percaya, hingga saat ini ucapan Ibunya itu tak lagi bisa di Terima olehnya, karena ucapan itu hanyalah isapan jempol belaka sejak dulu pertama kali Tari hidup di rumah neneknya ibu selalu berkata jika dia akan menjenguk Tari. tapi hal itu hanyalah rayuan agar Tari mau ikut sang nenek dan kenyataannya tak sehari pun Ibunya datang hingga kematian sang nenek sampai saat ini.
__ADS_1