
Makan siang yang sungguh bermakna, ada banyak hal yang di lalui Kafa juga Salma, semua kejadian memang ada hikmahnya, jika saja Intan tidak memberi tantangan pada Salma, maka Kafa tidak akan pernah tahu masa lalu Salma, dia juga tidak akan pernah tahu jika Salma juga bisa mengendarai motor balap seperti sepertinya.
"Tokoh milik Mas Kafa jauh ya?" tanya Salma.
"Lumayan," jawab Kafa.
"Kenapa Mas Kafa tidak mengecek tokoh itu setiap hari? bukankah akan lebih baik jika Mas Kafa datang dan melihatnya langsung," tutur Salma.
"Aku memiliki beberapa kariyawan yang dapat di percaya di sana, lagi pula sangat tidak mungkin aku mengecek tokoh yang ada di daerah itu setiap hari, sedangkan aku juga harus memeriksa tokoh yang letaknya jauh lebih dekat dari rumah," jawab Kafa.
'Memangnya Mas Kafa punya berapa tokoh sih? aku jadi penasaran setelah mendengar ceritanya,' batin Salma setelah mendengar jawaban Kafa.
Motor terus melaju hingga berhenti di sebuah tokoh yang lebih mirip dengan swalayan, begitu besar dan terlihat lengkap.
'Apa ini tokoh milik Mas Kafa? kalau ini bukan tokoh nama nya hampir seperti swalayan, semuanya ada, tapi kenapa Mas Kafa berbelanja kebutuhan sehari-hari di tokoh lain? kenapa tidak ambil di sini saja?' batin Salma menatap heran ke arah sekitar di mana Kafa menghentikan motornya.
"Kenapa bengong?" tanya Kafa saat melihat Salma hanya diam tanpa ekspresi ataupun kata juga gerkan, dia terlihat seperti manekin yang sering terlihat di mall besar yang sedang berdiri tegak dengan contoh baju yang di jual di dalamnya.
"Tidak apa-apa Mas," jawab Salma.
"Ayo masuk!" ajak Kafa menggandeng tangan Salma dan menuntunnya masuk ke dalam tokoh yang sebenarnya mirip swalayan.
"Apa ini semua milikmu Mas?" tanya Salma seraya memperhatikan sekeliling ruangan yang di penuhi begitu banyak produk kebutuhan pokok dan kebutuhan rumah tangga lainnya.
__ADS_1
"Tentu saja, ini hasil kerja kerasku selama aku ada di kota, kamu harus bangga punya suami yang suka bekerja keras seperti aku," ujar Kafa dengan ekspresi wajah penuh bangga menunjukkan semua yang telah dia dapat dari hasil kerja kerasnya.
Kafa memang suka balap motor setiap malam, tapi dia tidak pernah lupa mempromosikan tokoh miliknya lewat media sosial, awalnya Abah hanya memiliki dua tokoh kecil yang dia beli sewaktu Abah berada di kota dulu, tokoh kelontong kecil itu di kelolah dengan baik oleh Kafa hingga besar sampai sekarang, Kafa sering mempromosikan produk yang dia jual dengan harga yang cukup miring lewat media sosial, dan hasilnya Kafa memiliki banyak pelanggan yang datang yang secara otomatis membuat tokoh kecil milik Abah menjadi besar seperti sekarang.
"Kenapa kamu tidak memujiku? kenapa kamu malah diam seperti itu?" tanya Kafa yang melihat Salma tak sedikitpun bergeming setelah Kafa mengatakan apa yang sudah dia capai, seharusnya Salma memujinya .
"Eh, maaf Mas, aku malah tertegun melihat apa yang kamu peroleh, sungguh aku tidak menyangka bisa mendapat jodoh sekeren kamu, walau umurmu masih muda, tapi semangat dan keberhasilan yang kamu raih bisa mengalahkan mereka yang umurnya jauh lebih tua darimu," sahut Salma mengatakan apa yang dia rasakan saat ini.
"Aku memang keren, tapi kamu yang cantik dan berhati lembut memang pantas memiliki suami sekeren aku," ucap Kafa yang kembali membanggakan diri di hadapan Salma.
"Janga sombong Mas! semua yang kamu peroleh itu hanya titipan, jangan sampai membuatmu lupa kalau yang kamu dapat ini hanya titipan," Salma mengingatkan Kafa yang terdengar sombong.
"Aku tahu itu Sayang, aku sombong hanya di hadapanmu dan aku ingin terlihat hebat agar kamu terus memuji dan semakin mencintaiku setelah kamu tahu jika suamimu ini seorang pekerja keras yang alhamdulillah bisa berhasil seperti saat ini, sombong sama istri sendiri sah-sah saja bukan, selagi tidak merugikan orang lain," ujar Kafa enteng.
"Aku sudah melakukannya Salma, jika sudah tiba waktunya membagikannya nanti aku akan mengajakmu ikut serta," tutur Kafa.
Kafa memang telah melakukan apa yang harus dia lakukan, termasuk memberi sedekah pada fakir miskin yang membutuhkan bantuannya, bukan hanya berupa bahan makanan pokok, Kafa juga membagikan beberapa uang untuk mereka setiap malam jum'at legi, di mana hari itu cukup di anggap keramat.
"Kamu mau terus berdiri di sini atau masuk bersamaku?" tanya Kafa.
Salma yang kembali sibuk memperhatikan sekeliling tak memperdulikan ajakan Kafa.
Tanpa membalas ucapan Kafa, Salma langsung merah jemari Kafa dan mengenggamnya melangkah maju memberi isyarat agar Kafa langsung berjalan masuk tanpa perlu bertanya lagi.
__ADS_1
Kafa mengajak Salma masuk ke dalam tokoh menuju ruangan yang terlihat seperti ruangan khusus yang hanya orang-orang tertentu yang bisa masuk ke dalamnya.
"Apa ini ruanganmu Mas?" tanya Salma sambil memperhatikan sekeliling ruangan yang terlihat rapi tapi tetap elegan dan mewah.
"Iya, ini ruangan khusus untukku, tapi jarang terpakai," jawab Kafa santai, dia berjalan duduk di kursi kebesaran miliknya. Sedang Salma masih terlihat canggung, dia berdiri di tempat melihat sekeliling tanpa bergerak sedikitpun.
"Duduklah! ngapain kamu berdiri di situ terus?" titah Kafa saat melihat Salma hanya berdiri di tempat menatap sekitar tanpa gerakan.
Salma berjalan duduk di sofa panjang yang terletak tidak jauh dari tempat Kafa duduk. Menikmati suasana ruangan yang terasa dingin dengan interior yang nyaman.
"Kamu mau makan apa?" tanya Kafa saat melihat Salma hanya duduk diam tanpa aktifitas.
"Sebenernya aku pengen nyemil, kalau aku ambil makanan di luar, apa boleh?" jawab Salma yang balik bertanya.
"Ambil saja yang kamu mau!" jawab Kafa yang kini masih terlihat serius menatap lembaran kertas yang menumpuk di atas mejanya.
Salma berdiri meletakkan tas selempang kecil yang sejak tadi dia bawa, Salma berjalan keluar dari ruangan Kafa menuju deretan makanan ringan yang tertata rapi di dalam tokoh.
"Sepertinya yang ini enak," lirih Salma mengambil keripik singkong berukuran mini dan beberapa makanan ringan lainnya, tak lupa Salma mengambil dua botol air minum satu air mineral berukuran sedang yang satunya lagi teh dalam kemasan.
Salma yang merasa cukup dengan makanan dan minuman yang dia ambil kini kembali berjalan menuju ruangan Kafa.
"Maaf, Mbak mau ke mana?" cegah seorang kariyawan yang terlihat baru saja datang dari arah kasir.
__ADS_1
"Aku mau ke ruangan itu." Jawab Salma santai sambil menunjuk ruangan di mana Kafa berada.