
Kafa terdiam mematung menatap lekat ke arah Salma, sungguh dia sangat terkejut melihat Salma adalah gadis yang di ceritakan oleh Ummi, seorang gadis yang katanya lembut dan sabar, tapi bagi Kafa, Salma bukanlah gadis seperti itu, Salma gadis dengan mulut yang pedas seperti cabai rawit.
"Ghozi ke mana Ummi?" reflek tanya Kafa tanpa mengalihkan pandangannya, saat ini fikirannya tertuju pada Ghozi sang sahabat. Ingatannya melayang ke kejadian beberapa hari yang lalu di mana Ghozi meminang Salma, dan Kafa tahu dengan pasti jika Salma terlihat juga memiliki perasaan yang sama pada Ghozi, semua itu terbukti dari sikap Salma yang tak langsung menolak pinangan Ghozi.
"Ghozi hanya mengantar Ummi sampai di depan restauran tadi dan sekarang Ummi suruh pulang karena di pesantren tidak ada yang jauh lebih Ummi percaya kecuali Ghozi." Jawab Ummi.
Kafa mengangguk seolah mengerti dwngan penjelasan Ummi, tapi netra matanya tetap saja tertuju pada Salma yang kini menunduk takut.
"Oh Iya, Kafa, perkenalkan ini Salma, gadis yang ingin Ummi jodohkan denganmu dan gadis yang Ummi ceritakan waktu itu," Ummi mencoba memecahkan keheningan dan kecanggungan yang terjadi karena tak ada satupun yang berbicara.
"Hay Salma," sapa Kafa dengan senyum devil yang dia tunjukkan ke arah Salma.
"Hay juga, Mas Kafa," sahut Salma melihat sekilas ke arah Kafa kemudian kembali menunduk.
"Permisi! makanannya sudah siap, silahkan di nikmati!" seorang pelayan menyela pembicaraan yang baru saja terjadi, meski hanya sebuah sapaan tapi tetap saja pembicaraan itu harus terhenti karena semua makanan yang di pesan sudah datang.
"Ayo di makan dulu! nanti kita lanjutkan ngobrolnya!" titah Ummi yang langsung di turuti oleh anggota keluarga yang lain termasuk Salma.
'Masya allah, ini makanannya benar-benar nikmat dan lezat, kalau saja aku datang ke sini sendiri atau sama Tari, aku pasti bisa menghabiskan dua porsi sekaligus,' batin Salma saat menikmati ayam bakar yang dia pesan, sungguh makanan di hadapannya bisa sedikit mengalihkan sedikit keresahan dalam hatinya.
Jika Salma gagal fokus karena rasa lezat dari makanan yang ada di hadapannya, maka sangat berbeda dengan Kafa yang kini memiliki seribu pertanyaan dalam benaknya, pertanyaan yang tertuju pada Salma dan hanya dia yang bisa menjawabnya.
"Bagaimana makanannya, Nak?" tanya Ummi.
"Alhamdulillah, lezat Ummi," jawab Salma kerena Ummi bertanya sambil memandang wajah Salma.
"Alhamdulillah jika kamu suka, nanti kalau kamu sudah menikah dengan Kafa, biar dia sering-sering ajak kamu ke sini." Ujar Ummi yang sukses membuat Kafa tersedak karenanya.
__ADS_1
"Ukhuk ... ukhuk ... ukhuk ...." Kafa yang sedang makan langsung tersedak mendengar ucapan Ummi, bagaimana bisa Kafa sering mengajak Salma ke restauran sedangkan Kafa sendiri belum memberi keputusan setuju atau tidak dengan perjodohan yang Ummi dan Abahnya rencanakan.
"Pelan-pelan makannya, Nak!" ucap Ummi seraya mengambil satu gelas air untuk Kafa minum.
"Terima kasih, Ummi," ujar Kafa yang kembali melirik Salma dengan lirikan penuh tanda tanya.
'Astaghfirullah, tatapan mata Mas Kafa sejak tadi bikin aku semakin takut, seandainya aku bisa lari dan membatalkan perjodohan ini, pasti aku akan jauh merasa lega, biarlah tak bisa makan ayam panggang lezat ini yang penting aku gak lihat tatapan mengerikan milik Mas Kafa,' batin Salma yang spontan bergidik ngeri mengingat tatapan Kafa.
"Kamu kenapa? apa kamu sakit Salma?" tanya Ummi yang melihat Salma bergidik ngeri dengan ekspresi wajah takut.
"Eh, ti~tidak apa-apa Ummi," jawab Salma sambil melirik sekilas ke arah Kafa yang menatapnya dengan tatapan tajam.
"Syukurlah kalau begitu, ayo di lanjut lagi makannya!" titah Ummi, sedang Abah tak berkata sepatah katapun, sejak tadi beliau hanya fokus menikmati makanan yang ada di hadapannya hingga tandas tak tersisa.
Abah kembali fokus menatap ponsel yang sejak tadi tergeletak tak berdaya di samping piring milik Abah sembari menunggu yang lain selesai makan.
"Kenapa Abah?" sahut Ummi yang mengerti jika Abah ingin berbicara.
"Apa rencana kalian selanjutnya?" tanya Abah menatap ketiganya secara bergantian.
"Kalau Ummi terserah Kafa saja Abah, maunya bagaimana? dan kapan akan di resmikan?" jawab Ummi yang sukses membuat Kafa membulatkan mata sempurna karena terkejut.
"Kalau kamu bagaimana Kafa?" Abah kembali melempar pertanyaan pada Kafa.
"Beri kafa waktu untuk mencari jawaban lewat sholat istighoro dan Kafa juga butuh waktu untuk mengenal Salma jauh lebih dalam," jawab Kafa.
"Kalau kamu bagaimana Salma?" kini giliran Salma yang mendapat pertanyaan dari Abah.
__ADS_1
"Kalau Salma pasrah sama keputusan Ummi dan Abah saja," jawab Salma.
'Apa? pasrah? kok gampang banget Salma menjawab pertanyaan Abah dengan kata pasrah sedang fia sendiri terlihat memiliki rasa sama Ghozi dan Ghpzi juga terlihat jatuh cinta sama Salma, ini benar-benar perjodohan yang tidak masuk akal, dan aku harus mastiin segalanya sebelum menyetujui semua ini,' batin Kafa sambil menatap lekat ke arah Salma dengan tatapan kurang menyenangkan.
"Kamu kenapa Kafa? apa ada masalah?" kini giliran Ummi yang bertanya pada Kafa karena melihat tatapan Kafa yang kurang menyenangkan tertuju pada Salma.
"Tidak ada Ummi," jawab Kafa cuek seraya mengalihkan pandangannya dari Salma.
Ummi kembali menghabiskan makanan yang ada di meja begitu pula dengan Salma dan Kafa yang ikut melanjutkan menikmati makanan di atas meja. Malam ini menjadi malam penuh pertanyaan bagi Kafa, benaknya benar-benar di penuhi oleh berbagai pertanyaan yang timbul tentang Salma yang tak bisa di ungkapkan langsung oleh Kafa, semua masih tersimpan rapi di dalam hati hingga nanti Kafa akan menanyakannya di waktu yang tepat.
Malam dingin penuh drama dan rasa penasaran telah berlalu berganti pagi yang cerah dengan sinar hangat sang mentari yang menyinari bumi, kehangatan yang memberikan semangat bagi siapapun yang merasakannya.
"Semalem kamu pulang jam berapa Salma?" tanya Tari.
"Entahlah, semalam aku langsung tidur sesaat setelah sampai dan kamu juga tidur begitu nyenyak sampai tak sadar jika aku sudah pulang." Jawab Salma.
"He he he, aku ngantuk banget tadi malem, gara-gara keasyikan baca novel siangnya dan gak bisa tidur akhirnya pas malem tepar aku," jelas Tari.
"Iya, tepar, padahal masih ada beberapa santri yang belum tidur tapi kamu udah ngorok duluan," seru Salma.
"Ngorok itu alunan indah bagi mereka yang memiliki mimpi yang indah pula," ujar Tari penuh percaya diri.
"Halah itu cuma alasan kamu aja, padahal bukan karena mimpi, tapi cuma kamu aja yang tukang ngorok," ledek Salma.
"Jika sudah tahu maka aku tak lagi bisa berkata, ha ha ha," tawa Tari begitu menggelegar.
"Hus! cah wadon ketawanya kok gitu." Sahut Mbok Bat membuat Tari terdiam membisu.
__ADS_1