Cahaya Cinta Salma

Cahaya Cinta Salma
Sok Tampan


__ADS_3

Salma hanya bisa mengikuti apa yang di inginkan oleh Kafa. Suasana Mall terlihat begitu ramai karena saat ini hari sabtu, ada banyak remaja dan mereka yang tengah libur dari pekerjaan yang sudah menguasai otaknya.


"Wah Mas Kafa pintar sekali mengajakku ke sini," decak kagum Salma memperhatikan sekitar.


"Maksud kamu apa, Sayang?" tanya Kafa yang merasa aneh dengan apa yang di ucapkan sekaligus dengan apa yang di perhatikan oleh Salma.


"Lihatlah, Mas! ada banyak Oppa korea," jawab Salma santai.


"Oppa korea bagaimana maksud kamu?" Kafa mulai kurang suka dengan apa yang di katakan oleh Salma.


"Lihatlah! wajah mereka imut-imut," pinta Salma yang juga ikut memuji dengan senyum.


"Sekali lagi kamu puji mereka, aku bakal menyeretmu ke dalam mobil." Ancam Kafa yang terlihat geram dengan apa yang di katakan oleh Salma, meskipun kata-kata Salma memang benar karena di sekeliling Salma dan Kafa memang banyak remaja berparas oppa korea tengah nongkrong bersama teman-temannya.


"Yang ngajak siapa? yang ngomel juga siapa?" ucap Salma.


"Diamlah Sayang! aku akan menutup mulutmu jika kamu terus membahas oppa korea itu," Kafa kembali mengancam Salma.


Salma langsung terdiam dan tak lagi berbicara, jika Kafa benar-benar melakukannya maka bisa di pastikan jika Kafa akan menutup mulutnya dengan cara yang tak terduga.


Kafa melangkah menuju lantai dua di mana ada begitu bajyak deretan tokoh abaya yang terlihat menggida mata karena rata-rata yang di jual di sana merupakan abaya model baru.


Di lantai dua terlihat tak begitu ramai, hanya ada beberapa remaja yang menemani sang Ibu ataupun pacarnya belanja, sangan berbeda dengan keadaan yang terjadi di lantai bawah.


"Sekarang kamu bisa memilih baju yang kamu inginkan, ambil mana saja dan jangan melihat harganya!" titah Kafa yang cukup membuat Salma terkejut.

__ADS_1


Ini pertama kalinya dia pergi bersama seorang laki-laki yang begitu royal dan tak hitung-hitungan masalah uang.


"Apa Mas Kafa serius menyuruh aku mengambil baju manapun yang aku suka?" tanya Salma mencoba meyakinkan dirinya sendiri tentang apa yang di perintahkan oleh Kafa.


"Aku tidak pernah bercanda dengan ucapanku Salma," ujar Kafa dengan tatapan yang meyakinkan.


"Jangan pernah menyesal karena sudah memintaku mengambil apa yang aku suka, Mas!" Salma mengingatkan Kafa sebelum ada penyesalan yang terjadi di antara keduanya.


"Sudah, jangan banyak berfikir ataupun berkata! lebih baik sekarang kamu pergi ke tokoh dan ambil apapun yang kamu mau!" titah Kafa yang tidak ingin berlama-lama berdebat di depan tokoh.


Salma yang mendapat dukungan dan perintah untuk berbelanja sesuka hatinya langsung berjalan masuk ke dalam tokoh, memilih apapun yang menurutnya bagus dan memang di butuhkan, Salma tidak membeli baju untuk dirinya sendiri, ada beberapa baju yang ingin dia bawa pulang ke pesantren suatu hari nanti, dan beberapa baju juga untuk mbok Sumik di rumah, sedangkan untuk dirinya sendiri Salma hanya mengambil tiga abaya untuk dirinya.


Salma merasa sudah mendapatkan abaya yang dia inginkan, Salma bernit untuk menemui Kafa dan memintanya membayar abaya yang sudah dia ambil.


"Apa-apaan ini? Mas Kafa bilang dia tidak menyukai Intan dan dia membantuku belajar balapan agar Intan tidak mengganggunya, tapi apa yang aku lihat saat ini, mereka malah duduk berdua di kursi, apa mereka tidak tahu kalau ini tempat umum," gumam Salma.


Melihat kedekatan keduanya menimbulkan rasa sakit yang tiba-tiba datang masuk ke dalam hati Salma tanpa dia duga dan tanpa dia tahu dari mana asalnya.


Tanpa banyak berkata Salma menaruh barang yang sudah dia pilih di lantai dan meninggalkannya begitu saja, kebetulan para pelayan yang menjaga tokoh sama sekali tidak tahu jika Salma meninggalkan belajaannya di lantai begitu saja.


Air mata Salma menetes tanpa di perintah, ingin rasanya Salm berhenti menangis karena saat ini ada banyak pasang mata yang menatapnya penuh rasa penasaran. Tapi Salma hanya manusia biasa yang tidak punya daya untuk merubah rasa yang telah dia terima.


Salma terua berjalan melewati setiap tokoh yabg berjajar di sampingnya, taapan mata Salma kosong, tak ada yang bisa dia lakukan dan Salma tidak bisa berfikir dengan jernih, yang ada di fikiran Salma saat ini hanya satu, dia ingin pergi menjauh agar dia tak melihat Kafa dan Intan yang terluhat sedang bermesraan.


"Salma!" suara sorang pria mendekat sambil menepuk pundak Salma yang tidak menyadari kehadirannya.

__ADS_1


"Riki! kenapa kamu ada di sini?" tanya Salma


menatap aneh ke arah Riki yang justru tersenyum melihat Salma yang kebingungan.


"Kenapa kmu bisa ada di sini Riki?" tanya Salma menatap aneh ke arah Riki yang justru tersenyum karenanya.


"Kamu kenapa? apa kamu bertengkar dengan Kafa?" Riki mulai menyelidiki apa yang terjadi pada Salma.


"Tidak ada, aku hanya ingin menghabiskan waktu dengan jalan-jalan saja," jawab Salma yang tak ingin Riki tahu dengan apa yanh sebenarnya terjadi.


"Jangan berbohong Salma, aku bisa melihat kesedihan di wajah polosmu itu," Riki yang memang playboy kelas kakap sangan mengerti ekspresi seorang wanita yang sedang tidak baik-baik saja.


"Apa yang terjadi padaku sama sekali bukan urysanmu, jadi jangan banya bertanya ataupun berharap aku akan menceritakan sesuatu yang tidak mungkin aku ceritakan padamu," tegas Salma dengan ekspresi wajah serius yang menandakan jika Salma tidak sedang main-main saat ini.


"Baiklah, jangan cerita apapun padaku, kamu hanya perlu bilang mau ke mana kamu sekarang?" tanya Riki yang tahu dengan pasti jika Salma berasal dari desa, dan Riki sangat yakin jika Salma tidak tahu arah ataupun jalan pulang.


Salma terdiam melihat sekitar, benar saja jika Salma tengah berada di keramaian dan dia mulai bingung, sejak tadi Salma hanya mengikuti hawa nafsunya, rasa marah bercampur dengan rasa cemburu yang mulai tumbuh membuat Salma buta jika saat ini dirinya berada di Mall, dan Kafa yang mengajak Salma kini malah berduaan bersama dengan Intan.


"Salma!" Riki kembali menyadarkan fikiran Salma yang tengah kalut.


"Eh, maaf, aku bingung mau ke mana? apa kamu bisa membantuku memesan taxi yang bisa aku tumpangi sampai rumah.


"Lagi pula mau ngapain ke rumah? bukankah kamu masih menginap di hotelku?" Riki kembali mengingatkan Salma yang terlihat pelupa.


Apa yang ada dalam fikiran Salma sama sekali tidak singkron dengan apa yang di katakan olehnya.

__ADS_1


__ADS_2